Sampaikanlah Kebenaran Selagi Ada Kesempatan

Mungkin sudah banyak ya, yang baca novel Akatsuki cetakan pertama atau kedua dulu? Hehe … ge-er banget, yak šŸ˜…

Dulu saya menulis novel itu dengan harapan dapat menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang sederhana, yang dapat dengan mudah dipahami dan diterima oleh pembaca. Ya, insyaa Allah di dalamnya memang terdapat nilai-nilai Islam. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya terus belajar Islam dan mencari info tentang Jepang. Dan ternyata … jeng jeng …!

Aaa … ternyata ada beberapa hal yang ga cocok ya sama kehidupan asli di Jepang sana. Terus, pergaulan laki-laki dan perempuan di novel itu kok longgar banget ya, padahal kan salah satu tokoh utamanya Muslim. Mestinya dia bisa jadi contoh yang baik, dong. Jadi merasa bersalah šŸ˜”

Yah, sejak itu jadi kepengen banget merevisi novel Akatsuki. Tapi ya gimana, masih terikat kontrak sama penerbit. Alasan aja šŸ˜‘

Karena itu, begitu kontrak berakhir, sementara permintaan masih tinggi (alhamdulillah šŸ˜ƒ), maka saya pun berinisiatif menerbitkan kembali novel Akatsuki. Selain dengan perubahan cover, tentunya dengan cukup banyak perubahan isi.

Nah, gara-gara itu … ternyata ada yang merasa kehilangan. Pagi-pagi, masih dini hari, saya dapat pesan begini:

[20/2 02:39] Pembaca: Kak tapi kebersamaan mayumi sama satoshi jadi hilang banyak. Syg bgt ya :”

Saya pun membalas:

[20/2 04:48] Muliyatun N @asapenamulia: Ya, itu karena … “Sampaikanlah kebenaran sekalipun itu pahit.”

Hmm … apa sih maksudnya?

Okay, let’s me explain šŸ˜Š

Novel Akatsuki memang ber-setting negara Jepang, di mana Islam menjadi agama minoritas, di mana pergaulan bebas sudah biasa di sana. So, ikhtilat (campur antara laki dan perempuan) pasti susah banget, kan, buat dihindari? Di sini aja susah, kok, kalau kita sekolah di sekolah umum. Apalagi di sanaaa ….

Tapiii …, kalau khalwat (berduaan), kan, mestinya bisa banget dihindari. Kalau begitu, kenapa di novel Akatsuki cetakan pertama dan kedua dulu Mayumi dan Satoshi “cukup sering berduaan”, ya? Memang, sih, yang diomongin soal Islam. Tapi, kalau memang mau belajar Islam, kan, bisa menemui Kak Ayame atau bertanya ke Islamic Center? Jadi, mestinya adegan “berduaan” antara Mayumi dan Satoshi di sini bisa banget diminimalisasi, kecuali yang memang benar-benar mepet dan terpaksa. Sungguh menyesal sudah membuat tulisan yang “seolah-olah” melegalkan pergaulan bebas. Maafkanlah diri ini šŸ˜”

Karena itulah, di novel Akatsuki cetakan terbaru ini kebersamaan Mayumi dan Satoshi memang banyak dikurangi, diganti dengan kebersamaan Mayumi dan Kak Ayame.

Mungkin ada yang merasa kecewa dengan berkurangnya kebersamaan Mayumi dan Satoshi. Ya, itu wajar lah. Tapi, jangan berat-berat ya kecewanya. Lagi pula, kenapa harus kecewa? Kebersamaan mereka, kan, belum saatnya. Mungkin ada yang merasa kehilangan, tapi itulah kebenarannya. Kebenaran yang harus tetap disampaikan selagi ada kesempatan. Mungkin sekarang kamu kecewa, tapi semoga suatu saat nanti kamu bisa mengerti dan kamu akan merasa bersyukur.

Saya merevisi novel Akatsuki karena merasa bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis, karena kelak saya harus mempertanggungjawabkannya di akhirat. Jika saya menulis sesuatu yang menyesatkan, maka saya wajib meluruskan. Jangan sampai tulisan saya membuat celaka di akhirat kelak. Harapan saya, tulisan saya bisa bermanfaat bagi orang banyak, menambah ilmu, menuntun pada kebaikan, serta menjadi ladang amal dan pahala bagi saya, keluarga, dan para pembaca, insyaa Allah.

Jadi, begitu ya, Teman-teman šŸ˜Š

Karena itu, bagi yang sudah pernah membaca novel Akatsuki, saya sarankan untuk membaca novel Akatsuki cetakan terbaru ini. Bukan hanya karena saya pengen buku saya laris, tapi juga supaya teman-teman mendapat pemahaman yang lebih lurus soal Islam. Sementara buat yang belum pernah baca, novel Akatsuki ini recommended banget buat kamu (yang cetakan terbaru, lho). So, wajib baca, ya šŸ˜‰

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita, membimbing dan menuntun kita di jalan yang lurus, jalan kebenaran yang diridhai-Nya. Aamiin.

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Notes. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sampaikanlah Kebenaran Selagi Ada Kesempatan

  1. Maftuhatul Khairiah says:

    Aamiin. Nah, justru saya malah lebih senang mendengar akatsuki direvisi dgn alasan syar’i spt ini. Jujur sy jg berpikir, ‘jika satoshi paham agama, knp dia malah membiarkan dirinya sering bersama mayumi, bknnya malah bikin mayumi akhirnya jd baper, gitu? Hehehe. Syukurlah ternyata di novel yg baru semua pikiran2 itu akhirnya hilang. Hhhha

    • Muliyatun N. says:

      Alhamdulillah.
      Nah, iya, bener kan?

      Kepada Teman-teman semua, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

      Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, dosa kedua orangtua saya, dosa-dosa muslim laki-laki dan perempuan, serta dosa-dosa mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

      Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.

      • Muliyatun N. says:

        Ehm, kalau gitu, Maftuhatul Khairiah harus baca novel Akatsuki cetakan terbaru, ya šŸ˜‰ (promosi lagi nih šŸ˜…).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s