Kata-kata dan Istilah Bahasa Jepang dalam Novel Akatsuki

Pada tulisan yang lalu, saya sudah berbagi lirik-lirik lagu yang dikutip dalam novel Akatsuki. Kali ini saya akan mencantumkan kata-kata dan istilah bahasa Jepang yang terdapat dalam novel Akatsuki.

 

Manga kissen: Kafe komik

Koko de hajimete kimi ni deatta …: Di sini pertama kali aku bertemu denganmu …

Nanika goyou deshou ka?: Ada keperluan apa?

Festival Tanabata: Festival Bintang. Perayaannya dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Festival Tanabata dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku.

Tanzaku: Kertas berwarna-warni tempat menuliskan harapan saat Festival Tanabata. Kertas ini terdiri dari lima warna, yaitu hijau, merah, kuning, putih, dan hitam.

Geta: Sandal kayu

Hikoboshi dan Orihime: Legenda Tanabata mengisahkan Orihime yang pandai menenun dan penggembala sapi bernama Hikoboshi. Karena Hikoboshi rajin bekerja, dia diizinkan untuk menikahi Orihime. Namun, Orihime kemudian tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Akibatnya, Raja Langit marah dan keduanya dipaksa berpisah. Mereka tinggal dengan dipisahkan oleh Sungai Amanogawa dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7.

Burung kasasagi: Kalau hujan turun, Sungai Amanogawa meluap sehingga Orihime tidak bisa menyeberangi sungai untuk bertemu dengan suaminya. Lalu sekawanan burung kasasagi akan berbaris membentuk jembatan yang melintasi Sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu.

Maboroshi desu ka?: Apakah ini ilusi?

Doko ga itai desu ka?: Mana yang sakit?

Gomen ne wakarimasen: Maaf, aku tidak tahu …

Daijoubu : Tidak apa-apa …

Atsui desu ne?: Panas, ya?

Chotto matte!: Tunggu sebentar!

Ohayou!: Selamat pagi!

Chokoreto ga totemo suki desu.: Aku sangat menyukai cokelat.

Beru ga natta.: Bel sudah berbunyi.

Masaka ...: Tidak mungkin …

Susuharai: Kegiatan bersih-bersih rumah untuk menyambut tahun baru.

Kadomatsu: Rangkaian cabang pohon pinus, cabang bambu, dan cabang pohon plum yang digunakan untuk menghiasi gerbang rumah selama perayaan tahun baru.

Sho-chiku-bai: Pohon pinus, bambu, dan plum yang dianggap sebagai simbol dari keberuntungan.

Konbini: Convenience Store

Oden: Jajanan khas musim dingin

Toshikoshi soba: Mi yang khusus dihidangkan menjelang tahun baru.

Sobaya: Toko mi

Tsurigane: Lonceng besar yang ada di jinja

Jinja: Kuil agama Shinto

Akemashite omedetou gozaimasu: Selamat tahun baru …

Matsukasari: Hiasan dari cemara yang digantungkan di depan pintu masuk sebagai tanda menyambut tahun baru.

Nengajou: Kartu pos untuk saling mengucapkan selamat tahun baru.

Arubaito: Pekerja paruh waktu

Hatsumoude: Pergi ke jinja saat tahun baru.

Neshougatsu: Tidur di saat tahun baru, yaitu tidur dari tanggal 1 sampai dengan 3 Januari.

Oyasumi ...: Selamat tidur …

Hatsuyume: Mimpi pertama di tahun baru.

Shougatsu sanganichi: Tiga hari pertama bulan Januari.

Shougatsu ryokou: Piknik untuk mengisi liburan tahun baru.

Nenshi: Bertandang ke sanak famili atau teman dalam liburan tahun baru.

Oseibo: Hadiah yang diberikan saat tahun baru.

Karuta: Permainan dalam bentuk kartu-kartu tradisional yang dimainkan khusus dalam rangka tahun baru.

Hanetsuki: Permainan tradisional seperti bulu tangkis, tapi raketnya dari kayu yang diberi hiasan.

Takoage: Permainan khas tahun baru berupa layang-layang yang dihiasi warna-warna dan tulisan-tulisan tahun baru.

Koma (beigoma): Permainan gasing

Sugoroku: Permainan seperti ular tangga

Osechi: Hidangan yang dimakan oleh masyarakat Jepang pada tiga hari pertama perayaan tahun baru. Osechi terdiri dari kacang hitam, rumput laut gulung, ikan yang direbus dengan saus soya, dan omelet manis. Selain itu juga disajikan lobak, wortel, dan bayam. Penyajian jenis makanan ini telah dimulai sejak zaman dahulu. Sekarang, jenis makanan dalam hidangan ini jauh lebih bervariasi. Misalnya saja bubur kentang manis dan kacang manis. Untuk menambahkan warna pada makanan tersebut, bisa ditambahkan kamaboko, yaitu sejenis pasta ikan yang berwarna merah dan putih. Hal ini juga untuk menambah keindahan penyajian makanan itu. Selain itu, telur ikan haring dan lobster juga disajikan dalam hidangan itu. Memakan telur ikan haring mempunyai arti filosofi agar anak-cucu dan keturunannya makmur.

Juubako: Sebuah kotak besar bersusun yang terbuat dari porselen.

Mochi: Kue beras

Kagami-mochi: Kue beras yang berbentuk seperti kaca bundar yang dipersembahkan kepada dewa pada perayaan tahun baru.

Kagamibiraki: Saatnya bagi orang-orang Jepang untuk memotong kue mochi dan memakannya, biasanya pada tanggal 11 Januari.

Zoni: Kue beras yang dimasak dengan sayur. Ini menjadi makanan yang umum pada perayaan tahun baru pada zaman Muromachi.

Omimai: Menjenguk orang sakit.

Omiai: Bertemu dengan orang yang akan menjadi calon pengantinnya.

Itsu made mo kawaranai : Sampai kapan pun tidak akan berubah …

Taiyou wa yoru mo kagayaite.: Matahari juga bersinar di malam hari.

Karada ni taisetsuni: Jaga diri, ya …

Zuru: Burung bangau lipat

Hontou ni?: Benarkah?

Shiawase desu.: Aku bahagia.

Jukusui dekimasen.: Aku tidak bisa tidur.

Ki wo tsukete kudasai.: Hati-hati di jalan.

Kirikizu wo shita.: Jariku teriris.

 

Wah, lumayan banyak, ya? Biar lebih memahami kata-kata bahasa Jepang tersebut, teman-teman bisa membaca contoh penggunaannya dalam novel Akatsuki. Jadi penasaran sama novel Akatsuki, kan? Makanya, buruan baca novel Akatsuki!

Advertisements

One thought on “Kata-kata dan Istilah Bahasa Jepang dalam Novel Akatsuki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s