Sakura Monogatari (Kisah Sakura)

Sakura. Siapa yang tidak mengenalnya? Bunga kecil yang sangat indah, dengan warna putih agak merah muda, yang kalau mekar jumlahnya sangat banyak sehingga rantingnya pun tak nampak. Itulah bunga sakura dengan segala keindahannya. Bunga khas Jepang yang selalu dinanti-nanti saat mekarnya karena hanya mekar di musim semi.

Namun, sekarang ini aku tidak akan bercerita panjang lebar mengenai bunga sakura. Aku hanya akan menyampaikan sebuah kisah pendek yang sederhana. Barangkali juga tidak penting menurut kalian. Tapi, kuharap kalian berkenan membaca cerita ini dan semoga kalian bisa mengambil pelajaran dari apa yang akan kalian baca ini.

%%%

            BRUKKK!

Tubuh jangkungnya terempas di lantai. Kursi tempatnya duduk terguling. Palet dan kuasnya berantakan. Cat dalam berbagai warna pun bertebaran.

“Aduh … kenapa sampai tertinggal?” Sakura menggerutu pelan sambil berjalan cepat-cepat menuju ruang kesenian. Kotak pensilnya tertinggal di sana.

Tiba-tiba, langkahnya tertahan di pintu. Dia heran melihat tubuh seseorang tergeletak di sana.

Siapa yang masih berada di ruang kesenian pada jam-jam seperti ini, ya? Sakura bertanya-tanya dalam hati sembari kakinya bergerak pelan-pelan mendekati sosok itu.

“Senior Ichiru …” Sakura nyaris memekik.

Sakura cepat-cepat berlutut di samping tubuh Ichiru. Dengan lengannya dia menahan punggung Ichiru di pangkuannya.

“Senior Ichiru, apa yang terjadi? Senior, bangunlah!” Sakura berbicara panik. Dia mencoba membangunkan Ichiru dengan mengguncang-guncangkan bahunya, tapi Ichiru tidak juga membuka matanya. Di tengah rasa paniknya, Sakura tiba-tiba menyadari sesuatu. Hal itu semakin menambah kepanikannya.

Hah?! A, apa-apaan ini? Kenapa jadi begini? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Batin Sakura menjerit sekuat-kuatnya.

%%%

            Sepanjang malam Sakura tidak bisa tidur. Dia berguling-guling di atas tempat tidur sampai sepreinya berantakan.

Senior Ichiru ….

Pertama kali masuk SMA, Sakura memutuskan untuk bergabung dengan kelompok seni lukis. Di sanalah dia mengenal Ichiru yang sudah kelas 3. Awalnya, Sakura menganggap Ichiru biasa saja, sama dengan senior-senior lain dari kelas 3. Sampai suatu ketika, Ichiru berkomentar tentang lukisannya.

“Hmm … lukisan yang jujur.”

“Eh? Senior Ichiru ….” Sakura terperanjat. “Apa maksud Senior? Menurutku, lukisan ini sangat biasa ….”

Ichiru tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis, membuat Sakura semakin bertanya-tanya.

Pada suatu hari, Ichiru menyarankannya untuk mengikutsertakan lukisannya pada seleksi lukisan yang akan dipamerkan dalam festival sekolah. Ichiru juga yang selalu menyemangatinya setiap kali dia merasa rendah diri. Karena itu, Sakura berusaha keras untuk menghasilkan lukisan yang bagus.

“Bagaimana menurut Senior?” tanyanya saat dia berhasil menyelesaikan lukisannya tentang pohon sakura yang seluruh rantingnya tertutup mahkota sakura.

“Bagus sekali!”

Sakura tampak berseri-seri, tapi sebentar kemudian, senyumnya surut melihat Ichiru menatap lukisannya lama sekali sambil mengerutkan kening.

“Senior, ada apa?”

Ichiru tersenyum lembut. “Lukisan ini sangat bagus. Juga indah. Tapi, karena aku sudah mengenal Sakura yang sesungguhnya, aku jadi tahu kalau lukisan ini seperti bohongan. Terus berusaha, ya?” Ichiru mengacak rambutnya, kemudian berlalu.

Sakura terpaku menatap kepergian Ichiru.

Seperti bohongan? Apa maksudnya? Padahal, aku sudah berusaha sekeras ini. Tapi, menurut Senior Ichiru …. Sakura menutup matanya rapat-rapat guna membendung air matanya.

Sepanjang sore, Sakura terus berada di studio lukis. Dia sedang membuat lukisan yang baru. Tak peduli bahwa tubuhnya terasa penat dan hari mulai gelap. Tak dihiraukannya kelelahan yang merambati otot-ototnya, rasa sakit di hatinya, perut yang lapar, dan kerongkongannya yang dahaga. Dia bertekad menyelesaikannya malam ini. Apa pun hasilnya nanti, dia tidak terlalu peduli pada apa yang akan dikatakan orang.

“Hufff ….” Sakura menyandar di kursi. Lukisan itu berhasil diselesaikannya. Sebuah lukisan yang sederhana, tentang sakura yang mengapung di permukaan air. Tapi, Sakura merasa puas dengan hasil karyanya.

“Kerja yang melelahkan, ya?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Sakura.

“Se, Senior Ichiru ….” Sakura menoleh dengan heran. “Sedang apa di sini malam-malam begini?”

“Jasa pengantar minuman siap melayani. Ini ….” Ichiru mengulurkan kaleng jus untuknya.

“Oh ….” Sakura terkejut. “Terima kasih ….”

“Kau pasti membutuhkannya setelah bekerja keras. Oh, iya. Lukisannya sudah selesai, kan?”

Sakura mengangguk. Dia tak hendak menanyakan pendapat Ichiru. Ichiru juga tidak berkomentar apa-apa, hanya merapikan lukisan Sakura dan membereskan berbagai peralatan yang baru saja dipakainya. Sakura berusaha mencegahnya, tapi Ichiru menyuruhnya duduk saja dan menghabiskan minumannya.

Tak lama kemudian, ruangan itu kembali rapi.

“Terima kasih, ya? O-tesuu kakete sumimasen (maaf, merepotkan) ….”

Ichiru tersenyum. Tatapannya terfokus pada lukisan yang baru saja dibuat oleh Sakura. “Sakura …” panggilnya.

“I, iya. Ada apa?” sahutnya sedikit gugup.

“Secara jujur kukatakan, lukisan yang kau tunjukkan padaku tadi siang lebih bagus daripada lukisan ini.”

Sakura diam mendengarkan. Dia memutar-mutar gelas kopi di tangannya.

“Tetapi aku juga harus mengatakan bahwa aku lebih menyukai lukisan ini daripada lukisan yang tadi siang.”

Kepala Sakura langsung terangkat mendengar perkataan Ichiru. “Jadi, sebenarnya apa maksud Senior?”

“Kau ingat? Aku pernah mengatakan bahwa lukisanmu adalah lukisan yang jujur. Dari lukisanmu, aku mengenalmu. Lukisanmu adalah ungkapan yang jujur tentang dirimu. Tapi, pada lukisan yang kulihat tadi siang, aku tidak menemukan dirimu. Aku merasa bahwa kau terlalu ingin menghasilkan lukisan yang bagus sehingga kau terpaku pada teori. Kau memaksa dirimu menjadi orang yang berbeda supaya orang lain menyukaimu. Padahal, seharusnya tidaklah demikian.”

Sakura mengangguk pelan.

“Berbeda dengan lukisan ini. Kau tidak begitu peduli pada apa kata orang. Dan, di sinilah aku mendapati dirimu yang sesungguhnya. Kau melukis dengan hati ….”

Sakura menatap Ichiru tidak percaya. Dia lega sekali mendengar penuturan Ichiru hingga matanya berkaca-kaca. “Senior, terima kasih ….”

“Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain lagi, ya?”

Sakura pun mengangguk kuat-kuat.

Dia ingat. Sakura ingat semua itu. Tapi sekarang ….

Padahal Senior sendiri …. Padahal Senior ….

Sakura menyembunyikan kepalanya pada bantal. Dia masih belum juga bisa tidur.

Senior, sebenarnya aku ….

%%%

            “Aku … di mana?” tanya Ichiru putus-putus.

“Syukurlah, Tuan sudah sadar. Ini kamar Tuan.”

“Bibi …” Ichiru berucap lemah. “Bagaimana aku bisa berada di sini?”

“Tadi Nona Sakura mengantarkan Anda kemari.”

“Sakura?” Mata Ichiru menyipit.

“Benar. Katanya, dia menemukan Tuan pingsan di ruang kesenian.” Bibi Mizu menjelaskan.

Ichiru terdiam, mengingat-ingat kembali apa-apa yang baru saja dia alami. Jadi?! Seketika itu dia terkejut, tapi dia berusaha terlihat tenang.

“Jadi, dia sudah tahu?”

“Saya rasa begitu, Tuan. Maafkan saya.”

Ichiru mengembuskan napas pelan. “Bibi tidak perlu minta maaf.” Dia mencoba tersenyum. “Sebaiknya Bibi beristirahat. Daijoubu (aku baik-baik saja).”

“Baik, Tuan.” Bibi Mizu membungkuk sedikit. “Saya permisi.”

Bibi Mizu pun berlalu meninggalkan Ichiru sendirian di kamarnya. Sepeninggalnya, Ichiru mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa berat. Seminggu ini dia kelelahan sampai akhirnya tadi sore dia pingsan.

Sakura ….

Ichiru memejamkan matanya.

“Indah sekali seperti sungguhan ….

Bayangan Sakura yang sedang menggerakkan jemarinya di dekat lukisan bunga sakura yang baru saja dia buat, tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kenapa Senior sering melukis sakura?” tanya Sakura waktu itu.

“Ehm kenapa, ya? Mungkin, karena aku suka pada Sakura ….

Mata Ichiru terbuka. Dia ingat saat itu wajah Sakura menjadi bersemu merah sehingga mirip sekali dengan warna bunga sakura.

“Suatu saat nanti, aku juga akan menjadi pelukis hebat seperti Senior Ichiru. Isshoukenmei ni ganbarimasu (aku akan berusaha keras)!

“Kalau begitu, kita bersaing, ya?”

“Iya!” sahutnya optimis.

Sakura. Dia gadis yang selalu bersemangat dan menularkan keceriaan pada dirinya.

Kembali Ichiru memejamkan matanya. Sakura, maafkan aku ….

%%%

            Pulang sekolah hari ini, Sakura sibuk berkutat dengan lukisannya di ruang kesenian. Dia sedang membuat lukisan abstrak rupanya. Dia menggunakan sembarang warna, mencampur warna yang satu dengan yang lain tanpa memerhatikan keserasian dari perpaduan warna yang dihasilkan. Caranya menggunakan kuas pun serampangan. Coret kanan, coret kiri, gores ke atas, gores ke bawah, garis lurus, garis lengkung, garis tebal, garis tipis, bengkok, zig-zag ….

Pada akhirnya ….

BRAKKK!

Sakura melemparkan kanvasnya, membuang kuas dan paletnya jauh-jauh. Dia menangis tersedu-sedu.

“Hatimu sedang kacau rupanya,” satu suara yang sangat dikenalnya.

Menyadari ini, Sakura berusaha menghentikan tangisnya. Cepat-cepat diusapnya wajahnya. Dia tidak mau menangis di hadapan Ichiru.

“Hmm … lukisan yang fantastis!” komentar Ichiru sambil memungut kembali lukisan yang baru saja dibuat oleh Sakura. Dia lalu menyandarkannya ke tembok.

Sakura hanya bisa menunduk. Kedua tangannya terkepal dan ditekankan ke lututnya. Sesekali isakannya masih terdengar. Ichiru berjalan mendekat kemudian berjongkok di hadapannya. Jari-jarinya lembut mengusap air mata Sakura.

“Tuan Putri, jangan menangis lagi, ya?” ujarnya seraya tersenyum.

“Kenapa? Kenapa Senior melakukannya?” tanyanya nyaris menjerit.

Ichiru membuang napas panjang, lalu tertawa kecil. “Ya, kurasa, kau boleh mengetahui hal ini.” Dia menarik sebuah kursi kemudian duduk di samping Sakura. “Masa lalu,” kata Ichiru memulai. “Masa lalu yang menyakitkan.”

Sakura menunggu kelanjutan ceritanya.

“Aku hanya tinggal bersama kakakku. Kedua orangtua kami sudah meninggal. Paman dari pihak ayah bersedia merawat kami, tapi rupanya paman tidak menyukai anak perempuan. Awalnya, paman masih menerimaku karena kakak selalu membelaku. Tapi, lama-lama kakak berubah. Dia larut dalam kebahagiaannya sendiri karena paman begitu membanggakannya. Kakak semakin melupakanku. Apa pun yang kulakukan tidak ada yang berarti bagi keluarga paman. Akhirnya, suatu hari aku memotong rambutku dan pergi meninggalkan rumah paman. Aku kembali ke rumahku sendiri sebagai laki-laki. Hanya Bibi Mizu, pelayan keluarga yang setia, yang mengetahui hal ini. Bibi Mizu satu-satunya keluarga yang kumiliki ….”

Sakura diam saja mendengarkan penuturan panjang Ichiru. Dia meremas-remas jemarinya sendiri.

“Kenapa di dunia ini harus ada laki-laki dan perempuan yang hanya akan menimbulkan perselisihan?” Ichiru bertanya seperti pada dirinya sendiri.

Tidak disangka, Sakura turut berbicara. “Kenapa Senior masih menanyakannya? Bukankah segala sesuatu memang diciptakan secara berpasangan? Ada langit dan bumi, siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, juga laki-laki dan perempuan. Jadi, tidak benar jika laki-laki lebih baik daripada perempuan atau sebaliknya. Semua saling melengkapi dan membutuhkan.”

Sejenak, Ichiru tertegun di tempatnya. Dia tidak menduga sama sekali Sakura akan berkata demikian.

“Tapi, aku punya alasan. Sekarang setelah kau tahu, kau bisa mengerti tindakanku, kan?”

Sakura meremas jemarinya semakin kuat. “Sebenarnya, aku tidak berhak meminta atau melarang Senior menjadi siapa dan seperti apa.” Sakura diam sebentar sebelum kembali berbicara, “Tapi, sebagai sesama perempuan, aku tidak bisa menerima alasan Senior untuk menjadi laki-laki. Aku tidak ingin Senior melawan kodrat. Jika Senior mengetahui ada orang yang meremehkan perempuan, seharusnya Senior membuktikan bahwa perempuan itu hebat. Apalagi, Senior memiliki banyak prestasi. Senior bisa menjadi wanita pelukis yang hebat. Bukannya malah menutupi identitas Senior sebagai seorang wanita ….” Usai mengungkapkan kalimat-kalimatnya yang panjang, tangis Sakura kembali tumpah.

Ichiru menatap adik kelasnya lekat-lekat. Sakura gadis polos yang ceria. Namun, saat ini gadis polos itu menangis. Gadis yang ceria itu mengutarakan isi hatinya yang paling jujur, kata-kata bijak yang mengetuk-ngetuk pintu batin Ichiru.

“Kurasa kau benar.” Ichiru tersenyum. “Tapi, ternyata tidak mudah, ya? Shippai shita (aku telah gagal) ….”

Sakura menggeleng-geleng. “Machigai desu (itu tidak benar). Senior masih bisa kembali menjadi diri Senior yang sesungguhnya. Dan saat menjadi laki-laki … sebenarnya … sebenarnya … aku pernah menyukai Senior Ichiru!” Sakura harus mengerahkan seluruh energinya untuk dapat mengungkapkan hal itu. Matanya erat terpejam. “Aku malu sekali mengatakannya. Apalagi sekarang, hal itu tentulah sangat aneh ….”

“Sakura ….”

Tiba-tiba saja, Sakura telah berada dalam pelukan Ichiru. Sakura hanya terisak-isak.

“Maaf, ya, mengecewakanmu ….”

Sakura mencengkeram lengan Ichiru kuat-kuat. Ichiru dapat merasakan luapan emosi adik kelasnya itu dari rasa sakit di lengannya akibat cengkeraman Sakura yang begitu kuat.

“Senior … jahat …. Pembohong!”

“Aku minta maaf.”

“Padahal, Senior selalu bilang … untuk jadi diri sendiri …. Padahal ….” Sakura sudah tidak sanggup lagi meneruskan kalimatnya karena tenggorokannya tersumbat air mata.

“Aku memang seperti ini. Maafkan aku ….” Ichiru mendekap Sakura lebih erat, seperti mendekap adiknya sendiri. “Sebenarnya, aku juga sangat suka pada Sakura karena Sakura selalu percaya diri sebagai seorang perempuan. Terkadang aku iri, karena tidak bisa jujur pada diri sendiri … sepertimu ….”

Tidak begitu. Sebenarnya, aku hanyalah gadis yang rendah diri, tapi Senior Ichiru selalu mendorong semangatku. Aku sayang sekali pada Senior Ichiru seperti kakakku sendiri ….

Sepasang anak manusia itu masih terus berpelukan selama beberapa waktu tanpa ada yang bersuara. Hingga sesaat kemudian, Ichiru memecah keheningan di antara mereka.

“Sakura … terima kasih ….”

%%%

            “Hontou ni iku no ka (Kakak benar-benar akan pergi, ya)?”

Ichiru menatapnya lekat-lekat seraya tersenyum, kemudian mengangguk.

“Kapan Kakak kembali? Kakak cepat kembali, ya?”

Mendengar hal itu, Ichiru tertawa. “Kau ini. Aku, kan, belum berangkat. Kenapa sudah bertanya kapan aku akan kembali?”

Sakura tersenyum malu-malu.

“Hmm … mungkin dua tahun lagi. Saat kau lulus SMA,” jawab Ichiru.

“Itu, kan, lama sekali …” Sakura mulai merajuk.

Ichiru hanya tersenyum. “Saat aku kembali nanti, mungkin aku akan tetap seperti ini. Mungkin juga, aku akan berubah. Kembali menjadi Ichiru yang sebenarnya. Dan … aku yang sekarang akan lenyap begitu saja.”

“Kakak ….”

“Bagaimana? Kau senang?”

“Aku akan senang kalau Kakak sudah kembali menjadi diri Kakak yang sesungguhnya,” ujar Sakura, kalem.

Mendengar jawaban Sakura, Ichiru pun mengacak-acak rambut gadis itu sebagaimana biasa.

Begitulah. Saat ini Sakura duduk di bangku kelas 2 SMA, sedangkan Ichiru sudah lulus. Ichiru telah memutuskan untuk berkeliling Jepang dan menjadi pelukis setelah lulus SMA. Karena itu, Sakura merasa kehilangan. Namun, dia sedikit terhibur dengan apa yang dijanjikan oleh Ichiru.

%%%

            Nah, bagaimana kisahnya? Apa pendapat kalian setelah membacanya? Semoga kalian menyukainya dan mendapatkan manfaat darinya.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa cerita ini kuberi judul Sakura Monogatari. Ya, soal itu kuserahkan pada kalian untuk menjawabnya. Mungkin, karena bercerita tentang seorang gadis bernama Sakura. Mungkin juga, karena lukisan yang dibuat sebagian besar berkisah tentang sakura. Atau mungkin?

Sebelum kalian membuat dugaan yang lain-lain, izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Tapi … tidak penting, ya? Kalau begitu, tidak usahlah. Apa? Kalian penasaran? Ya, ya, baiklah. Lagi pula, mungkin apa yang akan kukatakan ini dapat membantu kalian dalam menebak kenapa judul cerita ini Sakura Monogatari.

Hah? Apa? Jadi, sekarang kalian sudah tahu siapa namaku? Siapa coba? Apa? Oh … ya, ya, betul sekali! Namaku adalah … Sakura.

%%%

Advertisements

4 thoughts on “Sakura Monogatari (Kisah Sakura)

  1. ceritanya lumayan menggugah,, ,,tapi emang agak nyesel sie pas tau yang sebenarnya (kawaii so ne sakura chan).
    di tunggu cerita selanjutnya hehehe gambatte ne!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s