Rahasia di Padang Seruni

Namaku Yoshinaga Karin. Perempuan 21 tahun. Sejak kecil, tepatnya sejak berumur sebelas tahun, aku menderita penyakit aneh. Aku alergi terhadap laki-laki. Jika aku bersentuhan dengan laki-laki, maka wajah dan tanganku akan ditumbuhi bintik-bintik berwarna merah. Tentu saja hal itu tidak berlaku jika yang menyentuhku adalah ayah atau kakak laki-lakiku. Entah kenapa dan bagaimana aku bisa menderita alergi semacam itu.

Karena itu, sampai saat ini aku belum pernah menjalin hubungan dengan teman laki-laki, padahal hampir semua teman perempuanku pernah merasakan yang namanya pacaran dan berkencan dengan teman laki-laki. Aku? Entah kapan. Aku bahkan bertanya-tanya apakah aku bisa menikah.

“Kau itu seperti Putri Salju. Putri Salju terbangun dari tidur panjangnya setelah ada pangeran yang menciumnya. Kau pun begitu. Alergimu akan sembuh saat laki-laki yang menjadi cinta sejatimu datang untuk melamarmu sebagai istrinya.” Begitu kakakku, Saichi, menjelaskan.

Aku tidak tahu. Aku pun tidak yakin dengan kebenaran kata-kata Kak Saichi. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang melamarku jika mengetahui tentang alergiku?

Sebenarnya, aku bukannya tidak tahu sama sekali mengenai alergiku. Dulu, waktu kecil, aku pernah punya teman. Shunsuke namanya. Kami adalah teman baik. Hampir setiap hari kami bersama, bermain bersama. Sampai suatu ketika, Shunsuke pergi ke luar negeri mengikuti orangtuanya. Sejak itulah alergiku muncul.

%%%

            Musim gugur yang indah. Beberapa tahun yang lalu.

Doko e ikimashou ka (kita mau pergi ke mana)?”

“Sudah, diam! Ikut saja.” Shunsuke terus berjalan dengan cepat. Aku pun hanya bisa mengikutinya sambil cemberut.

“Aduh, kenapa lewat rumput-rumput begini?” kataku mulai mengeluh.

“Cerewet!” lagi-lagi Shunsuke tidak peduli.

Aku semakin manyun, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain mengikutinya. Tiba-tiba, langkah Shunsuke terhenti.

“Ada apa? Kenapa berhenti? Memangnya sudah sampai?” aku memberondongnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

“Kau tidak berbeda dengan kereta api,” ujar Shunsuke cuek, lalu kembali berjalan meninggalkanku.

Huh! Enak saja mengatakan aku seperti kereta api! Aku mendengus sebal, lalu mulai memerhatikan sekeliling.

Wah, bunganya banyak sekali. Walaupun yang tampak dari luar hanya rumput-rumput tinggi dan lebat, ternyata di sini tumbuh banyak bunga, terutama yang paling mencolok di musim gugur seperti ini adalah bunga seruni.

Dalam sekejap, aku berhasil melupakan kekesalanku pada Shunsuke. Justru aku berterima kasih karena dia sudah membawaku ke tempat ini. Aku pun mulai berlarian ke sana kemari, dari satu bunga seruni ke bunga seruni yang lain. Sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba suara Shunsuke memecah kesenanganku.

“Karin,” panggilnya.

“Eh?” Aku berhenti berlari dengan terkejut. “Hei, Shunsuke! Kenapa diam saja di sana? Ayo bermain! Ternyata di sini ada banyak bunga, ya? Indah sekali ….” Aku berbicara dengan semangat, lalu kembali berjalan-jalan dan menikmati pemandangan. Shunsuke tidak lagi menggangguku.

Sampai akhirnya, aku berhenti berkeliling karena kelelahan. Aku duduk sambil meluruskan kaki di atas tanah berumput. Kutatap matahari senja yang kemerahan. Sinarnya begitu indah menyinari seruni-seruni yang berwarna kuning. Sementara itu, Shunsuke berdiri di sampingku.

“Aku akan pergi,” kata Shunsuke.

“Tunggu dulu. Aku juga mau pulang, tapi aku masih ingin melihat matahari terbenam. Sebentar lagi, ya? Ngomong-ngomong, bagaimana kau menemukan tempat ini?”

“Kau …! Kenapa kau bodoh sekali?” tanyanya sedikit keras.

Aku terkejut mendengarnya. “Hei, kenapa marah-marah? Memangnya, apa salahku?” aku balas bertanya keras.

“Itu karena kau bodoh. Aku mau pergi …” ucapnya menggantung. “Aku akan pergi ke luar negeri.”

“Oh, itu …” aku mengangguk-angguk. “Kenapa tidak bilang dari tadi?” nada bicaraku kembali santai.

Dia diam saja. Tiba-tiba, aku tersadar. Apa? Dia mau pergi ke luar negeri?

“Ehm, berapa lama kau akan pergi?” aku bertanya ragu.

“Entahlah,” jawabnya sambil menerawang.

“Kapan kau akan kembali?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng.

“Tapi, kau pasti kembali, kan?” aku nyaris menjerit.

“Aku … tidak tahu.” Dia sedikit menunduk.

Sore itu, kami kembali ke rumah masing-masing dengan saling berdiam diri. Seminggu kemudian, Shunsuke benar-benar pergi. Semenjak hari itu, aku mengalami alergi aneh jika bersentuhan dengan laki-laki.

%%%

            Musim gugur dengan segala keindahannya. Setahun yang lalu.

Semenjak Shunsuke pergi, aku masih sering mengunjungi tempat ini, terutama pada saat musim gugur, di mana banyak bunga seruni bermekaran. Bukan hanya semata-mata karena aku ingin menikmati keindahan bunga seruni, tetapi juga karena inilah tempat terakhir yang ditunjukkan oleh Shunsuke padaku sebelum dia berangkat ke luar negeri. Di sini pula Shunsuke berpamitan padaku waktu itu.

Sebenarnya, aku merasa tidak berhak dengan perasaan ini. Tapi, entah kenapa aku memiliki perasaan seperti ini. Aku dan Shunsuke sudah berteman sejak kecil. Ketika dia pergi jauh untuk waktu yang lama, dan tidak diketahui kapan tepatnya dia akan kembali, aku benar-benar merasa … kehilangan. Apalagi, tidak dapat dipastikan apakah dia akan kembali atau tidak. Namun, di dalam hati aku terus berharap semoga suatu saat nanti dia kembali.

Bunga-bunga seruni di sekelilingku yang menjadi temanku. Mereka yang menjadi tempatku berbagi selama ini. Bukannya aku tidak punya teman lain selain Shunsuke, tapi aku malu membagi hal semacam ini dengan mereka, seperti halnya aku malu dengan perasaan yang kumiliki. Karena itu, jadilah bunga seruni yang menjadi penyimpan rahasiaku. Mengapa bunga seruni? Karena bunga seruni jugalah yang menjadi saksi perpisahanku dengannya.

Aku sering bertanya-tanya kepada para bunga seruni, dan terutama kepada diriku sendiri, mengenai perasaan apa yang kumiliki ini. Apakah ini cinta? Atau sekadar perasaan sayang di antara teman? Jika benar itu cinta, maka sungguh aku merasa bersalah. Persahabatanku dengan Shunsuke … aku tidak mau merusaknya dengan perasaanku yang tak menentu. Perasaan itu tidak jelas dari mana datangnya, kapan ia datang, dan bagaimana ia datang. Aku yakin seiring dengan berjalannya waktu, rasa itu akan hilang. Sedikit demi sedikit, aku akan kembali normal dan pada saatnya nanti aku bisa sembuh total.

Akan tetapi, aku masih memiliki satu masalah, yaitu alergiku. Sebuah penyakit aneh yang dokter pun tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Sampai kapan aku akan terus menderita alergi aneh ini? Dan kapan kiranya aku dapat kembali bertemu dengan Shunsuke, teman semasa kecilku?

%%%

            Musim gugur yang selalu indah. Saat ini.

Seperti biasa, sore ini aku pergi ke padang seruni, tempatku menyimpan segala rahasia batinku. Di sini aku bisa dan biasa menikmati keindahan bunga seruni, menatap syahdunya mentari senja, serta mencurahkan isi hatiku tanpa ada satu pun orang lain yang tahu.

Aku bangkit dari dudukku dan mulai beranjak meninggalkan padang seruni itu. Matahari sudah hampir tenggelam. Aku harus segera kembali ke rumah.

Di tengah jalan, mataku menangkap seseorang sedang menyeberangi jalanan yang tampak lengang. Namun, dari arah yang berlawanan denganku, tiba-tiba sebuah sedan meluncur dengan kecepatan tinggi. Orang yang menyeberang tadi sepertinya tidak menyadari kemunculan sedan yang sedang bergerak menuju ke arahnya. Sesaat, aku sempat terpaku, tapi aku pun cepat tersadar.

“AWAS!” teriakku keras-keras seraya berlari ke arah orang itu. Aku mendorong tubuhnya kuat-kuat sehingga orang tadi jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, aku melompat dan jatuh di atas punggungnya. Di belakang kami, sedan itu meluncur dengan cepatnya. Syukurlah, kami berhasil selamat sampai ke tepi jalan.

Ketika aku mendengar orang itu merintih pelan, aku pun segera bangkit.

Daijoubu desu ka (Anda baik-baik saja)?” tanyaku.

“Iya,” jawab orang itu seraya mencoba duduk.

Tiba-tiba, aku melihat bintik-bintik merah muncul di punggung tanganku. Aku pun cepat-cepat berpamitan. “Maafkan saya. Lain kali, Anda harus berhati-hati. Permisi.” Aku membungkuk sedikit, langsung berbalik, dan mulai berjalan menjauh.

“Terima kasih,” ucapnya singkat. Kurasa, orang itu heran karena sejak tadi aku terus membelakanginya dan tidak berbalik menghadapnya.

“Itu … itu … bukan apa-apa,” sahutku gugup. “Saya permisi,” sekali lagi aku kembali berpamitan, kemudian mulai melangkah semakin cepat.

Sesampainya di rumah, bintik-bintik di kulitku sudah hampir menghilang. Aku mengamati wajahku di cermin. Sebenarnya, alergi macam apa ini? Alergi ini tidak terasa gatal atau perih. Bintik-bintik merah tiba-tiba muncul di kulitku saat aku bersentuhan dengan laki-laki. Tidak lama setelah itu, bintik-bintik tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Aneh sekali.

“Karin,” panggil Kak Saichi disertai dengan ketukan di pintu kamarku.

“Ada apa, Kak?” tanyaku malas.

“Aku boleh masuk tidak?” dia malah balas bertanya.

“Masuk saja.”

Sebentar kemudian, Kak Saichi masuk dan menatap bayanganku di cermin. Sisa-sisa bintik-bintik itu masih ada.

“Alergimu kambuh lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk sekaligus menunduk.

“Hei, jangan cemberut begitu. Jelek!”

Aku malah mengerucutkan bibir.

“Kau ini ….” Kak Saichi mengacak rambutku. “Ada orang yang mencarimu. Dia menunggu di depan.” Setelah mengatakannya, Kak Saichi langsung beranjak dari duduknya.

Dare (siapa)?” tanyaku ingin tahu.

“Temui saja sana,” jawabnya cuek kemudian berlalu dari kamarku.

Aduh siapa, sih, yang mencariku? Keluhku dalam hati.

Aku menyisir rambut dengan jari kemudian merapikan bajuku sedikit. Saat itulah aku menyadari lecet di lengan dan sikuku akibat terjatuh tadi. Pantas sejak tadi terasa sakit. Sudahlah, diobati nanti saja.

Aku lalu pergi ke ruang depan untuk menemui orang yang katanya mencariku. Di sana, aku mendapati orang itu tengah berdiri membelakangiku. Siapa, ya? Pertanyaan itu kembali mengusik benakku.

“Maaf, Anda mencari saya?” tanyaku sopan.

Di luar dugaan, orang itu menyahut tanpa berbalik untuk melihatku. “Kau sedikit berubah,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Maaf, ya? Anda ini siapa?”

“Hmm …” dia bergumam. “Kau mudah sekali melupakanku.”

Jawabannya berbelit-belit sekali. “Jadi, sebenarnya, apa keperluan Anda?” Kali ini aku bersuara lebih keras.

Tidak kusangka, orang itu berbalik menghadapku. Dan … aku tidak tahu harus bagaimana. Selama ini, aku selalu memikirkannya. Aku berharap dia cepat kembali agar aku bisa bersama-sama dengan dia lagi. Tapi sekarang, setelah dia muncul di hadapanku, entah kenapa aku merasakan perasaanku terlalu datar. Di saat aku seharusnya terlonjak gembira dan melompat-lompat senang, aku justru merasa sangat biasa. Hatiku rasanya hambar.

“Kau …” ucapku terputus. Selama beberapa waktu, aku tidak sanggup berkata-kata. Dia juga diam saja. “Jadi, kau kembali?”

Dia mengangguk sedikit.

Itsu kimashita ka (kapan kau datang)?” tanyaku lagi.

“Tadi pagi.”

“Oh, begitu ….”

Interaksi ini benar-benar kaku. Jarak dan waktu yang pernah memisahkan kami, ternyata telah membuat kami demikian canggung. Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu.

“Ehm, kenapa tangan dan wajahmu lecet-lecet begitu?”

“Tadi terjatuh,” jawabnya singkat, kemudian melirikku. “Kau juga terluka,” ujarnya.

“Oh, ini ….” Aku melihat sikuku. “Aku juga baru saja terjatuh.”

Diam beberapa saat. Lalu mendadak, seolah ada yang mengomando, aku dan dia mengangkat wajah bersamaan dan saling menatap. Jadi, tadi ….

Tadi aku memang belum sempat melihat wajah orang yang hampir tertabrak itu karena dia jatuh menelungkup. Ketika dia mulai berdiri, aku sudah berbalik membelakanginya karena bintik-bintik di kulitku mulai bermunculan.

Selama aku berpikir tentang hal itu, dia pun hanya diam. Barangkali, pemikiran yang sama juga tengah memenuhi kepalanya. Aku harus secepatnya mengakhiri kekakuan yang sangat tidak menyenangkan ini.

“Aku buatkan minuman dulu.”

“Tidak usah,” tolaknya cepat. “Aku mau pulang. Sampai jumpa.” Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung berlalu.

“Sampai jumpa,” sahutku lirih hingga hanya terdengar olehku. Dia kembali. Seharusnya aku senang, tapi kenapa malah begini?

%%%

            “Kenapa tiba-tiba mengajakku ke sini?” tanyaku dalam perjalanan menuju padang seruni.

“Tempat ini tidak banyak berubah. Hanya jalan setapak itu yang baru. Dulu belum ada.” Dia malah mengatakan hal lain yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaanku.

Ah, sudahlah. Dia pasti tidak tahu kalau jalan setapak yang dimaksudkannya itu tidaklah dibuat. Jalan itu terbentuk dengan sendirinya karena seringnya aku melewatinya. Ingin sekali kukatakan bahwa selama dia pergi, aku sering mengunjungi tempat ini. Seruni-seruni yang tumbuh di sini yang menjadi saksi dan menjadi penjaga rahasiaku selama bertahun-tahun. Hari ini pun seruni-seruni itu tetap indah seperti kemarin dan seperti hari-hari serta tahun-tahun yang telah lewat.

“Kau ingat tempat ini?” tanyanya.

Tentu saja! Aku menyahut ketus di dalam hati. Tapi, aku hanya mengangguk.

“Kedatanganku ke sini tentunya bukan tanpa sebab,” kembali dia berbicara.

Aku diam mendengarkan.

“Aku ingin tahu, apakah aku ini temanmu?” tanyanya lambat-lambat.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. “Kenapa bertanya seperti itu? Sudah jelas kalau kau adalah temanku.”

“Lalu, seperti apa pertemanan kita?” dia bertanya lagi.

“Tentu saja seperti teman. Ya, berteman.” Aku jadi bingung sendiri. “Sebenarnya, apa maksud dari pertanyaanmu itu? Kita ini teman. Kita berteman. Bukankah kita sudah berteman sejak kecil?” aku berbicara tak tentu arahnya.

“Tapi, kita tidak mungkin terus begini, kan?”

“Eh? Apa maksudmu?” tanyaku dengan bingung.

Tiba-tiba, dia menatapku tajam. “Kupikir, kau sudah berubah. Ternyata, kau masih sama bodohnya seperti dulu.”

Mendengar pernyataannya, keningku mulai berdenyut-denyut karena kesal. “Bukannya aku yang bodoh, melainkan perkataanmu yang tidak jelas!” aku balas membelalakkan mataku ke arahnya. Selama beberapa saat, kami hanya saling melotot. Kemudian, hampir bersamaan, kami membuang muka dan membalikkan badan. Aku menyedekapkan kedua tanganku di dada. Kesal.

“Yoshinaga Karin,” dia memanggil namaku lengkap.

“Ada apa?” sahutku ketus, masih sambil memunggunginya.

“Yoshinaga Karin,” dia mengulangi memanggil namaku. Kali ini, dengan tekanan di setiap suku katanya.

“Ada apa?” aku pun kembali menyahut dengan sedikit keras seraya membalikkan badan. Ternyata, saat itu dia telah berdiri tepat di belakangku. Karena terlalu terkejut, aku hampir terjatuh ke belakang, tapi dia memegangiku. Segera aku tersadar. “Jangan sentuh! Jangan sentuh!” aku berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan pegangannya. Kakiku berjalan mundur cepat-cepat hingga akhirnya aku tersandung dan benar-benar jatuh.

“Hei, kenapa?” dia berjalan mendekatiku dan bermaksud menolongku.

“Jangan mendekat!” teriakanku membuat gerakannya terhenti. “Pergi dari sini!”

“Kau tidak berhak berbicara seperti itu.”

Oh, iya. Benar juga. Tapi, demi melihat bintik-bintik merah mulai muncul di tanganku, aku pun segera berdiri dan berlari meninggalkannya.

Matte yo (tunggu)!”

Aku tidak menghiraukan seruannya, tapi terus berlari. Apalagi, dia sepertinya mengejarku. Aku semakin cepat berlari.

DUKKK!

Kakiku terantuk batu. Aku jatuh terjerembap. Bagaimana ini? Di saat aku masih mencoba untuk duduk, tiba-tiba dia sudah di dekatku dan membantuku berdiri. Dia memegangiku erat sekali sehingga aku tidak bisa menghindar darinya. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku.

“Jangan pergi lagi,” ucapnya tenang, membuatku terkejut. “Kau … kenapa?” dia mengamati wajahku.

“Ini ….” Aku masih berusaha memalingkan wajahku darinya. “Aku alergi terhadap laki-laki,” jawabku pelan.

Tadinya, aku mengira dia akan menyentakkan tanganku, tapi ternyata dia tetap bersikap tenang. Dia membebaskanku, lalu membungkuk untuk melepas sepatunya.

“Pakailah. Tali sandalmu putus,” ujarnya seraya meletakkan sepasang sepatunya di dekat kakiku.

“Tidak usah ….”

“Cepat pakai!” perintahnya tegas.

Akhirnya, meskipun agak ragu, aku memakai sepatu yang ukurannya agak kebesaran di kakiku itu. Dia mengantarku sampai rumah.

….

Tidak lama setelah itu, pernikahan antara aku dan Shunsuke dilangsungkan. Meskipun sudah mengetahui tentang alergiku, Shunsuke tetap menjalankan niatnya untuk menikahiku. Memang itulah yang menjadi alasannya kembali ke Jepang.

Sungguh aneh bahwa alergiku sembuh dengan sendirinya setelah aku menikah. Aku menyadarinya ketika Shunsuke menyarungkan cincin pernikahan ke jemariku, juga ketika dia mencium keningku di hari pernikahan kami. Saat itu, tidak timbul lagi bintik-bintik merah di kulitku. Syukurlah.

Ya, barangkali alergi itu muncul memang untuk menjagaku supaya aku tidak bergaul bebas dengan sembarang laki-laki. Dengan begitu, aku bisa menyerahkan diriku seutuhnya kepada suamiku. Dan, hubungan di antara kami adalah hubungan yang indah serta terikat oleh pernikahan yang sah.

Hmm … Shunsuke memberiku seikat bunga seruni di hari pernikahan kami. Mungkin, karena dia juga menyadari bahwa bunga seruni adalah bunga yang menjadi saksi perpisahan dan pertemuan kami. Seruni juga yang menyimpan banyak rahasiaku. Dan bukan tidak mungkin, seruni pula yang telah menyimpan banyak rahasianya.

%%%

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Japan, Literature and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s