Murasaki Ayame

Dia gadis yang manis, cantik. Tubuhnya tidak tinggi, juga tidak gemuk. Bisa dibilang, dia itu kecil. Tidak masalah juga bila dia disebut mungil.

“Kalau punya tubuh kecil, tidak perlu merasa rendah diri. Tubuh kecil itu bisa dipakai bergerak ke sana kemari dengan mudah. Lihat ini!” Ayame dengan lincah menuju salah satu sisi ruangan, lalu dengan gesit berlari ke seberang ruangan. Dia tengah menghibur temannya yang sedang bersedih gara-gara tubuhnya yang tidak tinggi diejek oleh teman laki-laki yang disukainya. “Nah, menyenangkan, bukan?” tanyanya seraya tersenyum.

Melihat kelakuan Ayame, mau tidak mau, temannya itu pun tertawa kecil. Untuk beberapa saat, mereka cekikikan.

Ya, gadis itu bernama Ayame. Murasaki Ayame. Saat ini, dia duduk di bangku kelas 2 SMP. Dalam kesehariannya, gadis itu selalu ceria. Ehm, tidak selalu juga sebenarnya. Yang namanya manusia, kan, tempatnya salah dan lupa. Begitu pula dengan Ayame. Kadang-kadang, dia juga merasa sedih, marah, kesal, dan sebagainya. Namun, hal itu jarang terjadi. Ayame selalu berusaha memandang segala sesuatu dengan cara yang positif. Karena itu, lebih tepat jika menyebutnya sebagai gadis yang ceria.

Pernah suatu ketika, ada yang mengatakannya sebagai gadis kecil yang keberatan rambut. Tapi, Ayame malah dengan bangga menjawab, “Rambut panjang membuktikan bahwa aku ini benar-benar perempuan.”

Kontan saja orang yang mengejeknya itu terlongo. Dengan tidak peduli, Ayame berlalu begitu saja meninggalkan orang itu.

Menurut Ayame, zaman sekarang semua serba membingungkan. Laki-laki bergaya seperti perempuan, sementara perempuan bergaya seperti laki-laki. Buktinya, laki-laki banyak yang memanjangkan rambut dan memakai anting seperti perempuan. Perempuan juga demikian. Banyak yang memotong rambutnya seperti laki-laki dan bergaya seperti laki-laki dengan memakai celana. Ayame, sedapat mungkin dia masih mengenakan rok. Tapi, di balik roknya selalu dia rangkapi celana supaya tetap dapat bergerak dengan aman.

Begitulah Ayame. Meskipun polos, dia kadang-kadang memiliki pemikiran-pemikiran bijak yang tak terduga bahkan oleh dirinya sendiri.

%%%

            Dia adalah gadis yang cantik, manis tepatnya. Dia juga unik. Seperti bunga iris. Bunga iris itu unik karena bentuknya memang unik. Selain itu, warnanya pun menarik. Misalnya, bunga iris yang memiliki motif seperti kulit harimau.

Kalau Ayame itu dikatakan unik, mungkin karena hobinya, juga keinginan-keinginannya. Lihat saja catatan berikut. Ini adalah tulisan yang dibuat oleh Ayame.

            Namaku Murasaki Ayame. Aku lahir pada tanggal 14 Februari. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Sejak lahir sampai sekarang, aku tinggal di Kyoto, kota yang selalu indah sepanjang tahun. Bagaimana tidak indah? Bayangkan saja, ada salju di musim dingin, bunga sakura mekar di musim semi, bukit-bukit yang sejuk di musim panas, dan pemandangan daun-daun yang berwarna-warni di musim gugur.

            Makanan kesukaanku adalah cokelat, sementara hobiku adalah memandang langit. Konon katanya, aku ini sedang merindukan pelangi. Karena itu, aku suka melihat langit. Waktu kutanya kenapa aku merindukan pelangi, katanya hal itu dikarenakan namaku. Ayame, kan, artinya bunga iris. Dalam bahasa Yunani, iris berarti pelangi. Padahal, sebenarnya aku selalu senang memandang langit, seperti apa pun rupanya. Kalau bisa melihat pelangi, hal itu lebih menyenangkan lagi karena melihat pelangi merupakan kesempatan yang langka.

            Mengenai apa yang tidak kusukai apa, ya? Aku tidak suka pada pertengkaran, perkelahian, apalagi peperangan. Soalnya, aku ini cinta damai. Mungkin tidak, ya, suatu hari nanti aku dipercaya untuk mengemban sebuah misi perdamaian? Biar tidak ada perang lagi di dunia ini. Lalu, dunia akan menjadi tempat yang indah, damai …. Betapa senangnya!

            Soal cita-citaku, sebenarnya aku masih bingung ingin menjadi apa. Yang pasti, aku tidak ingin menjadi dokter. Aku pernah ingin menjadi seorang profesor, tetapi tidak jadi karena menurutku, pekerjaan sebagai profesor itu terlalu serius. Pasti tidak cocok dengan diriku yang seperti ini.

            Kemudian, aku ingin menjadi guru TK karena setiap hari bisa bermain bersama anak kecil. Hingga saat ini, aku masih mempertimbangkan cita-citaku yang satu itu.

            Namun, satu yang pasti adalah bahwa aku ingin berkeliling dunia. Aku ingin mengelilingi bumi. Yiiihaaa!!!

            Selain itu, aku juga ingin menjadi penulis novel. Yang menginspirasiku dalam hal ini adalah Murasaki Shikibu, seorang wanita yang menjadi penulis novel, penyair, sekaligus pembantu pengadilan kekaisaran pada masa periode Heian di Jepang. Novelnya itu sangat terkenal, berjudul Genji Monogatari (Hikayat Genji). Suatu saat nanti, aku pun akan menjadi penulis novel yang hebat seperti dia. Entah kenapa, aku begitu terinspirasi olehnya. Mungkin, karena kemiripan namaku dengannya? Alasan yang tidak begitu penting, ya?

Nah, benar, kan? Catatan Ayame itu memang unik, seperti orangnya.

%%%

            Dia seorang gadis manis yang cantik. Dan sekarang, gadis manis itu mulai memasuki usia-usia remaja, masa-masa yang penuh warna.

“Aduh!” Ayame mengaduh cukup keras sambil memegangi kepalanya. Di belakangnya, tampak Gon berlari menjauhinya sambil tertawa-tawa setelah berhasil menarik-narik rambut panjang Ayame yang selalu dikepang rapi.

“Gon, berhenti menarik rambutku!” seru Ayame sembari mengelus-elus kepalanya.

“Makanya, jangan suka memakai rambut palsu!” begitu selalu Gon memberikan alasan.

“Sudah kukatakan, ini bukan rambut palsu. Ini rambutku yang asli.” Ayame membela diri.

“Yang benar?” kembali Gon menggodanya.

“Tentu saja!”

“Coba kubuktikan.” Kemudian, sambil mengatakan hal itu, Gon pun menarik-narik rambut Ayame. Ayame yang bersusah payah melindungi rambutnya, malah ditertawakan oleh Gon.

Seperti itulah peristiwanya terjadi berulang-ulang. Pada awalnya, Gon memang benar-benar tidak percaya bahwa gadis bertubuh kecil yang bernama Ayame itu memiliki rambut sepanjang dan selebat itu. Dia pun mulai mengusilinya dengan menarik rambut Ayame tanpa ampun. Melihat Ayame kesakitan, Gon masih belum juga percaya. Baru setelah teman-teman Ayame waktu di SD memberikan kesaksian mengenai keaslian rambut Ayame, Gon mau percaya.

Akan tetapi, rupanya Gon mulai menikmati pekerjaannya mengusili Ayame. Terlebih lagi, Ayame memiliki tubuh kecil yang lincah. Ayame juga suka bergerak ke sana kemari dengan cepat. Hal itu semakin menarik bagi Gon untuk mengusilinya dengan cara menarik-narik rambut gadis mungil itu. Tentu saja menariknya tidak keras-keras sampai menyakiti, tapi tetap saja hal itu sangat mengganggu Ayame.

“Aman … aman ….” Ayame terlebih dahulu mengintip ke dalam kelas sebelum memasukinya. Soalnya, yang namanya Gon itu, kalau melihat Ayame, pasti langsung ingin menarik rambutnya. Jadi, Ayame sedapat mungkin menghindari pertemuan dengan Gon.

Baru saja Ayame memasuki kelas dan duduk di kursinya, tiba-tiba Gon juga masuk ke kelas.

“Gawat ….” Ayame cepat-cepat menyembunyikan rambut dan wajahnya. Biasanya, tipuan mudah seperti ini langsung diketahui oleh Gon. Namun, kali ini Ayame heran karena Gon tidak menghampirinya seperti biasa.

Pelan-pelan, Ayame mengangkat kepala. Sedikit demi sedikit, matanya terbuka. Lalu, tampaklah di hadapannya, tepatnya di sisi mejanya, sesosok tinggi mengenakan kemeja dan celana rapi. Gon!

Buru-buru Ayame menyembunyikan wajahnya lagi. Tapi, sebelum sempat, Gon sudah berlalu darinya setelah menyelipkan selembar kertas di balik tas Ayame. Ayame yang menyadari hal ini, segera menegakkan badan dan memeriksa isi kertas tersebut. Usai membaca, Ayame mengerutkan keningnya sampai sepasang alisnya bertaut. Bibirnya mengerucut. Rupanya, dia tengah berpikir keras.

Apa gerangan yang terjadi?

Pulang sekolah hari ini, Ayame menuju lapangan bola sekolah. Dia harus berlari-lari karena ini sudah lewat dari waktu yang ditentukan.

Ayame sampai di lapangan sekolah dengan terengah-engah. Dia sedikit membungkuk sambil memegangi lututnya untuk mengatur napas. Di saat Ayame masih sibuk menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

Osoi (kau telat).”

“Hah?!” Ayame berbalik dengan cepat. Dia benar-benar terkejut. Tampak olehnya seseorang sedang duduk bersandar pada pohon dengan muka tertutup topi. Perlahan, orang itu menarik topi yang menutupi wajahnya. “Gon …” gumam Ayame pelan.

Gon hanya tersenyum tipis. Dia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Ayame.

Dou shita no (ada apa)? Kenapa memanggilku ke sini?” tanya Ayame sambil menarik rambutnya perlahan-lahan, berusaha menyembunyikannya dari jangkauan Gon.

Meskipun sudah berhati-hati, ternyata gerakan Ayame masih tertangkap oleh mata Gon yang awas. Mengetahui hal itu, Gon tertawa pelan. “Dasar payah!”

“Kau ini! Enak saja mengatakan aku payah.”

“Memang benar, kan? Kau payah ….”

Ayame mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya.

“… bodoh ….”

Dahi Ayame mulai berdenyut-denyut dan sepasang alisnya menyatu di tengah-tengah dahi.

“… cerewet ….”

Sekarang, rahang Ayame yang terkatup rapat. Giginya beradu dan bergemeletuk menahan emosi.

“… suka mencampuri urusan orang lain ….”

“Jadi, sebenarnya apa maksudmu memanggilku ke sini? Apa hanya untuk mendengarkanmu menghinaku?” Ayame berteriak memotong perkataan Gon.

“Tapi, aku suka padamu,” ujar Gon melanjutkan perkataannya tanpa terpengaruh sedikit pun oleh jeritan Ayame.

“Eh?” Ayame terkejut. Dia tidak lagi kesal. Alisnya yang tadi bertaut bahkan kini terangkat tinggi-tinggi. Kepalan tangannya mulai mengendur. Lalu tiba-tiba, mata Ayame berbinar-binar, bahkan berkaca-kaca karena terharu. Sepasang pipinya dihiasi rona merah yang membuatnya semakin manis. Dia menyatukan telapak tangannya di dekat wajah. Kemudian, dengan berseri-seri dia berujar, “Ternyata, persahabatan itu memang indah, ya?”

Mendengar perkataan Ayame, Gon hanya termangu. Sepertinya, dia tidak memahami maksudku, pikirnya.

“Jadi, bagaimana?” tanya Gon berusaha tidak peduli.

“Apanya?” Ayame balas bertanya, polos.

Gon mulai kehabisan kesabaran. “Bagaimana pendapatmu tentang aku?” tanyanya dengan wajah sedikit memerah.

“Oh, itu ….” Ayame tertawa kecil. “Soal itu, sudah jelas, kan? Tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku suka pada Gon karena aku suka berteman dengan siapa saja. Apa hal seperti itu saja Gon tidak mengerti? Padahal, Gon, kan, murid yang paling pintar di kelas. Ternyata, memahami hal semudah itu saja Gon tidak bisa. Kadang-kadang, Gon memang payah, ya?” Ayame berbicara sambil mengacung-acungkan telunjuknya seperti seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran kepada murid-muridnya.

“Jangan menyebutku payah!” Kali ini, Gon yang berteriak.

Ayame hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Gon. “Baiklah, baik …. Karena sekarang kita sudah menjadi teman baik, bagaimana kalau kita merayakannya? Aku akan mentraktir Gon makan es krim. Gon suka rasa apa?”

Gon mendesah pelan. Gadis ini …. Dia tidak mengerti juga.

“Gon, kau suka rasa apa?” Ayame mengulangi pertanyaannya.

“Cokelat,” jawab Gon singkat.

“Hah?!” seru Ayame membuat Gon terkejut. Apalagi, Ayame mengatakannya dengan disertai gerakan mencondongkan tubuh ke arah Gon. “Benarkah?” tanyanya seperti tidak percaya.

Gon mengangguk enggan. “Memangnya kenapa? Tidak perlu berteriak seperti itu, kan?”

“Iya, iya, maaf ….” Ayame tertawa sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Kebetulan sekali kalau begitu. Aku juga suka cokelat. Sekarang, kita pergi makan es krim. Aku tahu tempat yang bagus untuk makan es krim. Ayo!” Ayame langsung berjalan dengan riang mendahului Gon.

Gon hanya bisa menatap punggung Ayame yang menjauhinya perlahan-lahan dengan perasaan tidak menentu. Gadis bodoh. Dia benar-benar tidak mengerti. Dasar payah …. Gon tersenyum tipis.

“Gon, kenapa masih di sana?” Ayame membalikkan badan dan berseru dari jauh seraya melambaikan tangannya.

Pelan, Gon melangkah menyusul Ayame. Ya, mungkin memang lebih baik seperti ini , pikirnya lagi.

Melihat Gon sudah mulai berjalan menyusulnya, Ayame pun melanjutkan langkah-langkahnya. Dia tidak menyadari bahwa tubuh tinggi Gon dengan langkahnya yang lebar-lebar telah menyusulnya dengan cepat.

“Biar aku yang traktir,” kata Gon.

“Benarkah? Wah, senangnya! Terima kasih, ya, Gon ….”

Sebentar kemudian ….

“Aduh! Gon … sakit!”

Gon hanya tertawa-tawa masih sambil menarik-narik rambut Ayame.

“GON!!!”

%%%

            Murasaki Ayame. Itulah namanya. Dia gadis manis yang polos. Kadang-kadang, tanpa disadarinya, dia telah mencuatkan ide-ide dan pemikiran yang sederhana, namun sesungguhnya sangat bijaksana. Ayame juga adalah seorang gadis yang periang meskipun adakalanya dia sedih, marah, atau kesal.

Hal yang tidak disukainya adalah pertengkaran maupun peperangan karena Ayame sangat mencintai perdamaian. Dia mempunyai keinginan agar suatu saat nanti dapat menjadi penulis novel yang hebat seperti Murasaki Shikibu. Dia berharap, melalui tulisannya, dia bisa menginspirasi manusia-manusia di seluruh dunia untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian.

Dialah Ayame. Dia memang mirip dengan bunga iris yang melambangkan kebijaksanaan, persahabatan, sekaligus harapan.

%%%

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Japan, Literature and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s