Remember You, Jasmine

Pagi yang cerah. Namun, suhu udara terasa dingin. Seperti biasa, pagi-pagi begini aku berjalan-jalan di kebun mungilku untuk menikmati udara segar dan pemandangan tumbuh-tumbuhan hijau yang menyejukkan mata.

Hmm … aku menghirup udara dalam-dalam. Selain masih bersih, udara pagi ini juga tercium harum. Hal itu dikarenakan adanya tumbuhan bunga melati di kebunku. Kebetulan, hari ini ada bunganya yang sedang mekar. Sebagian bunganya yang lain masih kuncup atau baru setengah mekar. Jasminum sambac, itulah nama latinnya. Tanaman ini memiliki bunga-bunga mungil berwarna putih dengan bau yang sangat harum.

Menghirup aroma melati, memandang bunga melati, atau sekadar berbicara tentang melati, selalu mengingatkanku kepada seseorang. Melati selalu membawa anganku menjelajah ke masa lalu, masa-masa ketika aku baru mengenalnya, seorang gadis bernama Jasmine.

%%%

            Aku memasukkan koin ke dalam mesin penjual minuman kaleng dan … keluarlah sekaleng jus buah.

Sumimasen (permisi) …” satu suara menyapa dari sampingku. Aku menoleh dengan terkejut bercampur heran. Tampak di hadapanku seorang gadis mengenakan pakaian pasien seperti yang kukenakan.

“Hai, aku pasien di sini!” sapanya ceria. Benar-benar tidak mirip orang sakit. “Kakak pasti pasien di sini juga, kan? Pasti iya. Aku tahu dari pakaian Kakak.” Gadis itu bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Aku sampai bingung dibuatnya.

“Kakak …” tiba-tiba dia berbisik. “Kakak masih punya koin tidak?” tanyanya.

Meski masih sedikit bingung, aku mulai mengerti bahwa gadis itu ingin membeli minuman kaleng, tetapi tidak memiliki koin.

“Kau mau membeli minuman, ya?” aku balas menanyainya.

Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil tersenyum-senyum. “Iya …” jawabnya malu-malu.

“Kau mau apa?” tanyaku lagi.

“Kakak mau membelikanku, ya?” Mata sipitnya melebar.

Aku mengangguk sedikit sembari menyunggingkan senyum.

Dia malah cengengesan. “Terima kasih, ya, Kak. Kalau begitu, sama dengan punya Kakak saja.”

Aku tersenyum geli melihat tingkahnya, lalu kembali memasukkan koin, dan keluarlah kaleng minuman yang sama dengan minuman yang kini berada di tanganku. “Ini ….” Aku menyerahkan minuman untuk gadis itu.

Gadis itu menerima dengan kedua tangannya seraya membungkuk. “Terima kasih ….”

“Sudahlah, lupakan. Oh, iya. Namaku Megumi. Salam kenal.” Sambil berjalan melewati koridor rumah sakit, aku memperkenalkan diri.

“Oh, namaku Jasmine. Sampai lupa memperkenalkan diri. Soalnya, aku haus sekali ….” Lagi-lagi, gadis itu nyengir. “Kak, ayo kita duduk di sana!” tunjuknya pada sebuah bangku. Aku pun mengikutinya.

Jasumin?” aku mengulangi namanya.

Nope, Jasmine.” dia mengoreksi ucapanku.

Jasumin,” aku mencoba menyebutkan namanya lagi, tapi gadis itu masih menggeleng-geleng. Jadilah beberapa saat kemudian aku menjalani kursus kilat agar dapat mengucapkan nama gadis itu dengan benar.

“Jasmine,” pelan-pelan aku mengeja namanya.

Gadis itu terlihat senang. “Good!” pujinya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Aku tertawa melihatnya. “Jasumin sama saja dengan Jasmine,” jelasku. Huruf Jepang terdiri atas huruf vokal dan suku kata-suku kata. Tidak terdapat huruf konsonan kecuali “n”. Karena itu, Jasmine diucapkan menjadi Jasumin.

“Memang benar, tapi bagiku tetap tidak sama!” dia ngotot.

Aku kembali tertawa. “Ya, ya, baiklah, Jasmine.” aku menyebut namanya hati-hati supaya tidak salah lagi.

Selanjutnya, kami pun mulai ngobrol-ngobrol. Dari pembicaraan kami, aku tahu bahwa Jasmine masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun, liburan musim panas kali ini tidak bisa dia nikmati karena sehari-hari dia habiskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Jasmine mengalami gagal jantung.

Pantas saja tubuhnya begitu kurus. Baju pasien yang dikenakannya pun tampak terlalu besar. Wajah gadis itu tirus sementara bibirnya berwarna biru keunguan.

“Tempat tinggalku sudah pindah. Sekarang, di sinilah rumahku,” ujarnya santai. “Sebenarnya, aku direncanakan untuk menjalani operasi, tapi masih dua minggu lagi. Hhh … membosankan sekali, kan? Makanya, aku sering berjalan-jalan. Seperti tadi, aku sampai kehausan. Tapi, aku lupa tidak membawa koin. Syukurlah, aku bertemu dengan Kakak.” Jasmine bercerita dengan semangat, sama sekali tidak tampak bahwa dia seorang pasien gagal jantung.

Aku sendiri sudah hampir sembuh. Aku dibawa ke rumah sakit ini setelah aku dan sepedaku menabrak pohon besar akibat menghindari tabrakan dengan sebuah truk dalam perjalanan pulang dari toko. Kepalaku mengalami benturan yang cukup keras. Setelah diperiksa, syukurlah semua baik-baik saja. Aku sempat tak sadarkan diri selama dua hari. Sekarang, aku tinggal menjalani proses pemulihan. Mungkin, besok atau lusa aku sudah diperbolehkan pulang.

“Kalau Kakak pulang, aku pasti kehilangan ….” Mendadak, Jasmine berubah sedih.

“Oh, ya?” aku seperti tidak percaya. Aku dan dia, kan, baru berkenalan hari ini. Tepatnya, beberapa saat yang lalu.

Jasmine mengangguk. “O-me ni kakarete ureshii desu (aku senang berkenalan dengan Kakak) …” ujarnya lagi dengan sungguh-sungguh. Kepalanya tunduk.

Dari cara bicaranya, aku tahu bahwa Jasmine kesepian. Tapi, itu wajar. Seharusnya, saat ini dia bersama-sama dengan teman-temannya, belajar, mengerjakan PR musim panas, bermain, berlibur ….

Perlahan, aku mengusap kepalanya. “Yang penting, sekarang aku masih di sini. Iya, kan?” aku mencoba menghiburnya.

Jasmine masih menunduk. Sebentar kemudian, akhirnya dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dia pun kembali melanjutkan ceritanya.

Jasmine adalah anak tunggal. Dia keturunan campuran Jepang-Inggris. Ibunya seorang wanita Jepang, sementara ayahnya orang Inggris.

“Waktu kecil, aku pernah tinggal di Inggris. Dakara, Eigo wo kanari umaku hanashimasu (karena itu, aku berbahasa Inggris dengan cukup baik).”

Oh, begitu ….

Ya, kalau dilihat-lihat, Jasmine ini memang lebih mirip orang Eropa daripada orang Asia. Rambutnya ikal dan kecokelatan, kulitnya putih pucat, dan hidungnya mancung. Hanya, dia memang sangat kurus. Barangkali, satu hal yang membuat dia seperti orang Jepang adalah mata sipitnya.

Sudah sejak kecil Jasmine keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Ayahnya pergi begitu saja meninggalkan Jasmine dan ibunya karena tidak bisa menerima kenyataan putri semata wayangnya sakit-sakitan. Keterlaluan sekali orangtua seperti itu.

Saat ini, Jasmine sudah pasrah. Namun, dia tidak putus asa. Dia hanya mencoba menikmati kesempatan hidup yang masih diberikan kepadanya dan berusaha memanfaatkan waktu yang dia miliki sebaik-baiknya.

“Sebenarnya, aku juga sedih dan takut. Tapi, apa gunanya menangis sepanjang waktu dan meratapi nasib? Lebih baik aku tersenyum pada orang-orang yang kutemui. Dengan begitu, orang lain menjadi senang dan hatiku pun tenang.” Saat mengatakan hal itu, dia mengembangkan kedua tangannya seolah menggambarkan kelapangan jiwanya.

Aku menatapnya takjub. Apa yang dikatakan Jasmine itu hanyalah sesuatu yang sederhana, tetapi sangat bijaksana. Hal-hal kecil namun berharga memang seringkali muncul dari mulut dan hati anak-anak seperti Jasmine. Seorang anak yang masih polos.

“Wah, gawat!” seruan Jasmine membuatku sadar dari renunganku. “Kak, aku harus kembali ke kamar. Kalau besok Kakak belum pulang, kita ngobrol-ngobrol lagi, ya? Sampai jumpa!” Jasmine melambaikan tangannya dan tersenyum cerah. “Terima kasih untuk minumannya, ya, Kak ….”

Dan Jasmine pun berlalu, meninggalkanku yang masih terpaku di tempat dudukku.

Keesokan harinya, kembali kami bertemu. Jasmine memaksa untuk berjalan-jalan di halaman rumah sakit. Sebenarnya, aku enggan mengajak Jasmine berjalan-jalan sampai ke halaman. Aku mencemaskan kondisinya.

“Memangnya, tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.

“Kenapa?” Jasmine tertawa pelan. “Kakak takut aku mati di jalan, ya?”

“Kau ini …” sergahku gusar.

Jasmine kembali tertawa. “Kakak tenang saja. Aku sudah minta izin pada Suster Kikyou.”

Mendengar hal itu, aku pun sedikit lega. Sembari berjalan, aku mencoba berbicara padanya. “Jasmine, ayo ke sana!”

“Ayo!” sahut Jasmine antusias.

Tempat yang kumaksud itu adalah sebuah bangku di bawah pohon sakura. Kami duduk di sana. Semilir angin terasa hangat.

“Ehm …” aku sengaja berdehem untuk menarik perhatian Jasmine. “Besok, aku akan meninggalkan rumah sakit ini,” ucapku hati-hati.

Hontou desu ka (benarkah)?” Jasmine menoleh kepadaku.

Aku mengangguk sedikit.

Sore de ii desu ka (itu bagus, kan)?” ujarnya seraya tersenyum. “Watashi nara itsu desu ka (kalau aku … kapan, ya)?” dia bertanya seperti kepada dirinya sendiri, kemudian cekikikan.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku ingin menghiburnya, tapi aku juga tidak mungkin berbohong padanya.

Hari berikutnya, aku benar-benar meninggalkan rumah sakit. Meskipun demikian, aku masih sering mengunjungi Jasmine setelah pulang dari menjaga toko. Jasmine selalu tampak ceria dan bersemangat setiap kali aku datang.

Namun, hari itu ….

“Ini, aku bawakan bunga melati supaya ruanganmu harum.” Aku meletakkan beberapa kuntum melati di atas meja di samping tempat tidurnya.

“Terima kasih, Kak. Sayang sekali, hari ini aku tidak bisa berjalan-jalan …” ucapnya sedih. Pada lengannya tertancap jarum infuse, sementara selang oksigen terpasang di hidungnya.

Kata Jasmine, kemarin dia ditemukan pingsan di koridor saat berjalan-jalan. Karena itu, hari ini dia tidak diizinkan bermain-main. Dia harus istirahat. Aku baru mengetahui hal itu tadi karena kemarin aku tidak datang untuk menjenguknya.

Sambil membelai-belai rambutnya, aku menatap wajah Jasmine yang di mataku semakin hari semakin pucat. “Sudah, jangan sedih. Aku ke sini bukan untuk melihatmu cemberut begitu,” kataku bercanda.

Perlahan, senyuman manis terukir di bibirnya yang keunguan. Kami menghabiskan sore itu dengan bercerita. Aku menceritakan beberapa kisah pada Jasmine dan masih meninggalkan beberapa buku lagi untuknya supaya dia tidak bosan.

Sulit dipercaya bahwa itu adalah terakhir kalinya aku berbicara dan tertawa bersama Jasmine. Entah kenapa, sebelum pulang Jasmine meminta supaya aku memeluknya. Meski dengan sedikit heran, aku pun menuruti keinginannya. Keesokan harinya, aku sudah tidak bisa lagi menemuinya. Jasmine telah dipindahkan ke ICCU, Intensif Cardiac Care Unit, ruangan khusus untuk perawatan pasien jantung.

Sampai suatu ketika ….

“Oh, pasien yang bernama Jasumin baru saja meninggal tadi pagi.” Salah seorang perawat memberitahuku saat sore itu seperti biasa aku bermaksud menengok Jasmine.

Aku lunglai, luruh ….

Padahal, baru beberapa waktu lalu ….

“Besok Kakak datang lagi, ya?”

            “Apa? Kakak punya bunga melati juga? Seperti namaku, ya?”

            “Suatu saat nanti, aku ingin bermain ke rumah Kakak ….

Tapi sekarang ….

Sore itu, dengan gontai aku mengarahkan kaki menuju pemakaman. Aku duduk bersimpuh di tepi nisan. Tidak ada lagi yang dapat kukatakan.

“Kau tidak perlu ke rumahku. Aku yang akan mengunjungimu …” kataku lirih, lalu meletakkan setangkai melati yang baru kupetik dari kebunku. Setangkai melati dengan satu bunga yang sudah mekar, dua bunga masih kuncup, dan beberapa helai daun.

Tak terasa setetes air mataku jatuh. Perkenalan singkatku dengannya di dekat mesin penjual minuman kaleng, kesepian Jasmine, kesedihannya, kepedihannya, hingga semangatnya, keceriaannya, serta senyum polosnya.

“Jasmine, sayonara (selamat tinggal) ….”

Aku bangkit berdiri, kemudian mulai melangkah pelan meninggalkan makam Jasmine, sore itu ….

%%%

            Tanpa aku kehendaki, air mata telah meluncur deras menuruni pipiku. Dalam sekejap, wajahku dibuatnya basah. Ah, betapa …. Aku tidak tahu lagi. Hal itu tak terkatakan.

Setiap kali mengingat Jasmine, hatiku selalu terenyuh. Kenangan akan Jasmine memang mampu menguras air mataku. Namun, aku juga sadar bahwa aku tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Aku sendiri heran kenapa bisa merasa sedekat ini dengan Jasmine, padahal kebersamaan kami tidak begitu lama. Bahkan, pertemuan pertama kami justru terjadi ketika dia meminta koin padaku untuk membeli minuman.

Entahlah. Barangkali, karena di dunia ini tidak banyak orang yang masih sanggup tersenyum dengan tulus dan berbagi sedikit kebahagiaan yang dia miliki. Jasmine, dengan segala derita yang ditanggungnya sejak kecil hingga saat terakhir dalam hidupnya, justru memiliki kebahagiaan yang berlimpah di hati dan dirinya. Dia yang selalu riang dan ceria, membuat orang lain lupa akan kesedihannya. Ketabahan Jasmine pula yang membuatku berkaca, betapa tidak bersyukurnya aku selama ini.

“Apa gunanya menangis sepanjang waktu dan meratapi nasib? Lebih baik aku tersenyum pada orang-orang yang kutemui. Dengan begitu, orang lain menjadi senang dan hatiku pun tenang.”

Begitulah yang pernah dikatakan oleh Jasmine. Hal itu selalu terngiang dalam ingatanku. Dan setiap kali mengingatnya, maka aku pun ikut tersenyum.

Dengan jemariku, aku mengusap air mata di wajahku. Kembali aku menghirup udara dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara segar. Peristiwa itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sudah tiga tahun Jasmine meninggalkan dunia fana ini.

Dari Jasmine aku belajar banyak hal. Walaupun kebersamaan kami sangat singkat, tidak sampai sebulan, Jasmine telah mengajariku makna kehidupan tanpa dia sadari. Dia membuatku menghargai setiap detik kehidupan yang kumiliki, dalam setiap tarikan napas, dan di setiap detakan jantung.

Jasmine juga membuatku menyadari bahwa manusia memang diapit oleh dua ketiadaan. Dulu, Jasmine tidak ada. Kemudian, dia terlahir ke dunia. Pada akhirnya, dia kembali tiada. Demikian pula denganku. Mula-mula aku tidak ada, sekarang aku ada di sini, dan suatu saat nanti, aku pun akan kembali menjadi tidak ada.

Semerbak wangi melati memenuhi udara seperti pemikiran bijak Jasmine yang memenuhi diriku. Tak ada yang dapat kukatakan selain, “Terima kasih, Jasmine ….”

%%%

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Japan, Literature and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Remember You, Jasmine

  1. Supie says:

    Akhirnya ketemu juga dengan miyazaki ichigo
    hai. . . . . .
    Namaku supie aku penggemar berat novel yang kakak buat “AKATSUKI” novel itu membuat aku terkesan banget. . !
    Pokoknya PERFECT deh . . . !

  2. Dahliany Wiskasari says:

    Hiks kisah yg mengharukan tapi penuh makna kak.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s