Tsubaki no Odori (Tarian Bunga Kamelia)

            Sudah sejak kemarin dia tidur dan belum juga bangun hingga sekarang. Sebelumnya, dia pun sudah sering seperti ini. Namun, baru kali ini dia tidur sampai sedemikian lama.

            Aku mengembuskan napas berat, menatap halaman samping melalui jendela kamar. Di dekatku terbaring Tsubaki, kakak perempuanku, yang dari kemarin terus-menerus tidur.

            Tsubaki, ada apa denganmu?

%%%

            Tsubaki dan aku adalah kakak beradik. Tsubaki tiga tahun lebih tua dariku. Saat ini, dia sudah duduk di bangku kelas 3 SMA sementara aku masih kelas 3 SMP.

            Meskipun bersaudara, kami ini ibarat dua sisi mata uang. Dekat, tapi sangat bertolak belakang. Tsubaki lembut, sabar, pengertian …. Tidak seperti aku yang egois, ceroboh, dan sering dibilang mirip laki-laki. Di sekolahnya, Tsubaki tergabung dalam kelompok tari. Setiap tahun, aku, ibu, dan ayah menonton pertunjukan tarinya pada festival sekolah. Aku? Tendangan dan pukulan karate lebih banyak mengisi hari-hariku.

            Pernah terjadi saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP, aku mendapat tugas untuk membuat rajutan. Terang saja aku kalang kabut. Aku sama sekali tidak mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan merajut sementara apa yang diajarkan di sekolah belum cukup untuk dapat membuatku bisa merajut. Tak ada seorang pun yang mau mengajariku. Kalaupun ada, biasanya dia sudah menyerah sebelum aku bisa merajut sendiri. Hanya Tsubaki yang dengan telaten dan sabar menuntunku mengait-ngaitkan benang sampai akhirnya aku terlatih dan berhasil membuat syal sendiri.

            Selain pandai membuat rajutan, Tsubaki juga jago memasak dan mengurus rumah. Pekerjaan rumah tangga banyak yang dikerjakannya bersama ibu. Sementara aku lebih suka mengurus kebun bersama ayah.

            Aku pernah bertanya kepada ayah kenapa aku tidak feminin seperti Tsubaki, padahal kami sama-sama perempuan. Mendengar pertanyaanku, ayah tertawa. Saat itu, ayah mengatakan bahwa setiap manusia memang berbeda dan memiliki keunikan sendiri-sendiri. Hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk saling iri dan membenci. Justru dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, manusia harus bisa saling melengkapi. Kurasa, perkataan ayah tersebut memang benar. Soalnya, kalau aku dan Tsubaki sama, keseimbangan rumah ini bisa goyah.

            Tsubaki paling takut terhadap ulat, baik itu ulat biasa, apalagi ulat bulu. Dia pernah menangis sampai pucat gara-gara mendapati ulat pada tanaman yang sedang disiramnya ketika mengikutiku beraktivitas di kebun. Setelah aku menyingkirkan ulat tersebut, Tsubaki masih juga menangis dengan tubuh gemetaran. Di saat seperti itu, aku merasa menjadi seorang kakak sementara Tsubaki tak ubahnya seperti anak kecil. Tapi, Tsubaki memang cengeng. Dia mudah sekali menangis.

            Akhir-akhir ini Tsubaki sering sekali “tidur”. Itu istilahku untuk menyebutnya ketika kelelahan kemudian jatuh pingsan. Entah kenapa dia. Padahal, selama ini Tsubaki baik-baik saja. Namun, belakangan ini, kelelahan sedikit saja, dia sudah tidak sadarkan diri.

            “Kakakmu itu tubuhnya memang lemah sejak kecil.” Begitu ayah memberi penjelasan padaku.

            Apa yang dikatakan ayah itu memang benar. Tapi, aku tetap merasa bahwa ayah telah berbohong. Aku yakin ayah masih menyembunyikan sesuatu dariku. Aku harus mencari tahu apa itu.

%%%

            “Ibu, sebenarnya Tsubaki sakit apa?” Setelah gagal mengorek informasi dari ayah, aku berusaha mencari tahu melalui ibu.

            “Kau ini bicara apa, Kusaki?” ibu hanya setengah menanggapiku sambil melipati baju-baju yang baru saja kering.

            “Tsubaki, Bu. Kenapa dia tidak juga bangun?”

            Ibu mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Dia hanya terlalu lelah. Dia berlatih keras untuk penampilan tarinya di festival sekolah.”

            Benar. Apa yang disampaikan oleh ibu juga benar dan masuk akal. Sebentar lagi festival sekolah. Tsubaki giat berlatih supaya dapat menampilkan tarian dengan baik saat pertunjukan nanti. Tapi, apa benar itu sebabnya? Tahun lalu pun Tsubaki rajin berlatih, dua tahun lalu juga, tapi tidak terjadi apa-apa. Baru tahun ini, Tsubaki mulai seperti orang yang berpenyakitan.

            “Kenapa Ibu berbohong? Ayah juga. Katakan saja yang sebenarnya padaku.”

            Ibu tidak terlalu menghiraukan omonganku. Tangannya masih cekatan melipat baju. Aku yang sejak tadi membantunya sambil mencoba berbicara padanya, dianggap seolah aku ini hanya anak kecil yang sedang mengajak orangtuanya bermain-main.

            “Aku juga berhak tahu,” lirihku. Namun, tak ada sahutan dari ibu.

%%%

            Akhirnya, sore itu ayah mengajakku berkumpul bersama ibu di ruang keluarga. Tsubaki masih belum sadar juga.

            Sembari duduk mengelilingi meja, aku memerhatikan ayah berkali-kali menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. Walaupun memasuki musim gugur ini udara sudah tidak terlalu panas, titik-titik keringat tampak menyembul di dahi ayah. Kelihatannya, ayah tengah berpikir keras, menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

            “Ayah ingin kau tetap tenang dan bersikap biasa.” Tiba-tiba, ayah angkat bicara.

            Meskipun belum mengerti ke mana arah pembicaraan selanjutnya, aku mengangguk juga.

            “Dan, jangan mengatakan hal ini pada Tsubaki,” ayah melanjutkan.

            Kepalaku terangguk lagi. Aku menunggu dengan tegang. Lagi-lagi, ayah menghela napas panjang.

            “Sebenarnya … Tsubaki adalah …” ucap ayah terpotong. Ayah terdiam lama.

            “A, apa?” tanyaku tak bisa menahan diri.

            “Tsubaki … adalah hasil kloning …” kali ini, ibu yang menjawab.

            Apa?! Tsubaki manusia kloning?!

            Sebentar kemudian, meluncurlah cerita mengenai asal-usul Tsubaki.

            Ternyata, dulu ayah adalah seorang ilmuwan sebuah perusahaan bioteknologi. Bersama seorang rekannya, ayah melakukan percobaan manusia kloning. Tentu saja percobaan itu ilegal. Di antara para relawan yang bersedia membantu jalannya percobaan, ada ibuku sekarang bersama temannya yang bernama Tsubaki. Tsubaki baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim sehingga dia tidak dapat melahirkan anak. Akibat peristiwa tersebut, laki-laki yang baru setahun menikahinya, akhirnya pergi meninggalkannya. Karena itu, Tsubaki memutuskan menempuh cara kloning untuk mendapatkan anak. Ibu bersedia membantu sahabatnya itu.

            Pertama, sel tubuh milik Tsubaki diambil untuk kemudian diambil inti selnya. Inti sel tersebut lalu disuntikkan pada sel telur milik ibu yang intinya telah dihilangkan. Sel itu terus berkembang menjadi embrio dan embrio itu saat ini adalah … Tsubaki kakakku.

            Tsubaki sahabat ibu sangat gembira mendengar keberhasilan kloningnya. Namun, kesehatannya sendiri tak kunjung membaik setelah operasi yang dijalaninya. Pada akhirnya, Tsubaki meninggal dunia.

            Ayah yang saat itu seharusnya senang dengan kesuksesan hasil kloningnya, ternyata malah merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Akhirnya, dia mundur dari ikatan keanggotaan profesor. Dia memilih menekuni pekerjaan di bidang otomotif sampai sekarang dan menikah dengan ibu. Dari pernikahan mereka, lahirlah aku.

            “Tsubaki tidak boleh mengetahui hal ini ….”

            PRAAANGGG!!!

            Baik aku, ayah, maupun ibu sama-sama terperanjat. Nyaris serentak kami menoleh ke arah pintu. Di sana tampak Tsubaki berdiri kaku dengan wajah pucat dan air mata berleleran. Di dekatnya berserakan pecahan vas bunga yang baru saja terjatuh olehnya.

            “Tsubaki …” panggil ayah gugup.

            Tsubaki menggeleng-geleng, kemudian cepat berlari ke kamarnya. Sia-sia ayah mengejarnya dan berteriak memanggil namanya. Apalagi, ibu juga turut menahan ayah.

            “Kenapa?!” tanya ayah keras.

            “Tsubaki pasti ingin sendiri,” jawab ibu tenang.

            Ya, Tsubaki kakakku adalah Tsubaki teman ibu juga. Tentulah sifat dan karakter mereka sama. Karena itu, ibulah yang lebih mengenal kepribadian Tsubaki.

            Aku sendiri hanya bisa terpaku di tempat. Aku masih sama terkejutnya dengan Tsubaki mendengar kenyataan ini. Aku berharap semuanya tidak pernah terjadi dan hanya menjadi mimpi yang akan segera berakhir saat aku bangun nanti.

%%%

            Aku masuk ke kamar Tsubaki yang pintunya tidak dikunci dengan membawa kotak obat. Di salah satu sudut kamar, aku melihat Tsubaki duduk meringkuk dengan wajah tersembunyi. Bahunya berguncang, menandakan dia sedang menangis hebat.

            Tanpa mengatakan apa-apa, aku berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Aku mencoba mengobati kakinya yang terluka karena menginjak pecahan vas bunga ketika berlari tadi.

            “Aku ini apa? Tidak punya ayah, tidak punya ibu, lalu tiba-tiba muncul di dunia …. Aku ini … namanya apa?” tanyanya sambil terisak-isak usai aku mengobati lukanya.

            Aku tidak tahu harus berkata apa.

            Semalaman ini, Tsubaki terus menari di kamarnya seperti orang kerasukan. Aku hanya bisa menatapnya lewat celah pintu tanpa berusaha menghentikannya. Barangkali, itu memang lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya. Ketika akhirnya aku masuk untuk membawakannya minuman, Tsubaki terjatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.

            “Aku mau mati …. Aku mau mati … saja ….” Tsubaki menggerung-gerung ingin mati, seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan. “Aku ingin mati!” jeritnya.

            “Kalau mau mati, mati saja.” sahutku dingin.

            Tsubaki menatapku marah. Dia berdiri dan berlari menghambur ke arahku. Dicengkeramnya kedua bahuku kuat-kuat.

            “Anak kecil …” geramnya. “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, kan? Memangnya kau tahu apa? Kau tidak mengerti apa-apa!” Tsubaki meneriakiku.

            Sebenarnya, aku tidak terlalu memedulikan kemarahannya. Aku hanya tidak menyangka Tsubaki akan menjadi sedemikian keras di saat dia benar-benar terluka. Selama ini, dia selalu lembut dan sabar.

            Ketika Tsubaki benar-benar berlari ke ujung ruangan dan mengambil pisau di sana, aku pun tersadar. Aku segera memburunya dan pisau itu dengan mudah berhasil kurebut. Secara fisik, aku memang lebih kuat darinya. Tsubaki hanya menangis saat aku menjatuhkan tubuhnya dan menahannya di lantai.

            “Aku memang tidak mengerti apa yang kau rasakan, tapi kau …” ucapku tertahan. “Kau juga bodoh!” makiku. “Lihat dirimu! Kau menangis. Yang bisa kau lakukan memang hanya menangis. Dasar perempuan cengeng!” aku memarahinya meski hatiku pun sama kacaunya. Walaupun aku mengatakan bahwa Tsubaki cengeng, saat itu air mataku sendiri ikut jatuh membasahi wajahku. Selama beberapa waktu, kami bertangisan.

            Perlahan, aku mencoba berdiri. Dengan gontai, aku meninggalkan Tsubaki.

            Keesokan harinya, aku menemui Tsubaki di kamarnya. Dia sedang duduk menghadap jendela. Aku mendekatinya.

            “Tsubaki, maafkan aku. Aku … kasar sekali padamu.”

            Tsubaki tidak menyahut atau sakadar menoleh padaku. Dia tetap membelakangiku. Kurasa, dia belum ingin menemui orang lain, terutama diriku. Aku pun meninggalkannya, membiarkan Tsubaki dengan kesendiriannya.

%%%

            Hari ini festival sekolah. Aku bersama ayah dan ibu menonton pertunjukan Tsubaki. Dia menampilkan tariannya dengan baik.

            Usai dengan penampilannya, Tsubaki tampak pucat dan kelelahan. Ayah langsung mengajaknya pulang.

            Sekarang, Tsubaki dan aku duduk-duduk di taman favoritnya. Taman ini sangat disukainya karena di sini tumbuh bunga kamelia, bunga yang sama dengan namanya.

            Tsubaki duduk di sampingku dengan kepala menyandar pada bahuku. Dia mengeluarkan selembar foto kemudian menunjukkannya padaku.

            “Itu fotomu, kan?” tanyaku.

            Tsubaki tersenyum tipis. Pelan, kepalanya menggeleng. “Ini foto Tsubaki, sahabat ibu. Mirip sekali, kan?” usai mengatakannya, Tsubaki langsung menangis.

            Aku tidak bisa berbuat lain kecuali menyediakan bahuku sebagai tempatnya menangis. Hati-hati aku menarik foto sahabat ibu ke dalam tanganku. Di foto itu aku bisa melihat Tsubaki yang sekarang. Tsubaki kakakku benar-benar mirip dengan Tsubaki sahabat ibu.

            Setelah tangis Tsubaki reda dan dia kembali tenang, aku melepas syal yang kupakai untuk kukenakan pada leher Tsubaki. Itu adalah syal pertama yang kubuat sendiri dengan bantuan Tsubaki saat mendapat tugas membuat rajutan dari sekolah waktu itu. Aku menggenggam tangan Tsubaki yang terasa dingin, mencoba memberinya sedikit kehangatan dan kekuatan.

            “Semua akan segera berakhir ….” ujarnya lirih.

            Aku tidak tahu harus bagaimana berkomentar. Sahabat ibu menderita kanker yang sudah kronis. Bukan tidak mungkin Tsubaki juga mengalaminya. Tapi, dia menolak untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama aku, ayah, dan ibu.

            Entahlah. Yang pasti, kloning manusia tak seharusnya dilakukan karena hal itu melawan takdir, menyalahi potensi alami manusia. Kloning manusia juga dapat merusak garis keturunan. Anak-anak yang terlahir kemudian tidak memiliki orangtua sehingga mengacaukan tatanan hidup bermasyarakat. Selain itu, manusia kloning sendiri menjadi menderita. Bagaimana seandainya dia terlahir tidak sempurna? Cacat misalnya? Apakah dia akan dihabisi begitu saja?

            “Kusaki …” Tsubaki mendesah pelan, menyadarkanku dari lamunan. “Aku sayang padamu …” ucapnya lembut. Seleret senyum terukir di bibirnya yang pucat.

            Aku sendiri tidak terbiasa mengungkapkan isi hatiku, tapi sungguh, aku pun menyayangi Tsubaki. Kuharap, Tsubaki dapat merasakan perasaanku terhadapnya walaupun aku tidak mengutarakannya.

            “Kenapa namaku Tsubaki?”

            “Karena kau cantik. Cantik sekali …” kataku jujur. Sebagaimana bunga kamelia yang indah, anggun, dan mempesona. Seperti itulah dirimu ….

            Mungkin, setelah ini aku tidak dapat melihat Tsubaki menari lagi. Tapi, jika melihat bunga kamelia berayun bersama tiupan angin, aku pun seperti kembali melihat Tsubaki menarikan tarian bunga kamelia.

%%%

Advertisements

One thought on “Tsubaki no Odori (Tarian Bunga Kamelia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s