Kota Tulip Riri

“Ini, kan, sudah sore.”

“Pokoknya, aku ingin pergi ke taman!” Riri tetap merengek-rengek ingin pergi ke taman untuk bermain. Shizune, kakaknya, sia-sia saja berusaha membujuknya sejak tadi.

“Aduh, Riri ….” Shizune sudah putus asa. Ditinggalkannya adiknya sendirian di ruang keluarga. Riri menangis meraung-raung.

“HUWAAA …!!!”

Bukannya reda, tangis Riri malah makin menjadi. Shizune berusaha menutup kedua telinganya dengan bantal, tapi suara Riri terus menggedor-gedor hingga menembus dinding kamarnya. Karena kehabisan kesabaran, Shizune akhirnya melompat dari tempat tidur. Dia berjalan cepat-cepat menghampiri adiknya di ruang keluarga. Riri masih menangis sambil menendang-nendangkan kakinya dan memukul-mukul lantai dengan tinju kecilnya.

“RIRI, BISA DIAM TIDAK??!!!” Shizune berteriak sekeras-kerasnya untuk melampaui suara tangisan Riri.

Riri langsung terdiam, tapi masih sesenggukan. Seketika itu Shizune menyadari bahwa adiknya terkejut sekaligus ketakutan. Selama ini, dia tidak pernah berteriak ataupun membentak pada Riri. Sekesal apa pun dirinya, Shizune berusaha menahan mulutnya agar tidak melontarkan kata-kata kasar apalagi makian.

Saat ini, melihat Riri gemetaran menahan tangisnya, Shizune langsung menyesal. Dihampirinya adiknya itu pelan-pelan, kemudian direngkuhnya ke dalam pelukannya. Shizune berharap hal itu dapat menghilangkan ketakutan pada diri Riri dan semoga Riri mengerti bahwa Shizune tidak membenci dirinya.

Pak Atsushi yang baru pulang dari kantor, terheran-heran melihat kedua putrinya tengah berpelukan di ruang keluarga.

%%%

            Pak Atsushi adalah single parent. Istrinya sudah meninggal tiga tahun silam. Kini dia tinggal bersama dua orang putrinya, Shizune yang sudah 11 tahun dan si kecil Riri yang masih berumur 5 tahun.

Sehari-hari Shizune banyak membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sejak istrinya meninggal, otomatis tanggung jawab mengurus rumah tangga berpindah padanya, sementara dia sendiri masih harus bekerja. Salah seorang temannya di kantor pernah menyarankannya untuk menikah lagi. Tapi, Pak Atsushi rupanya belum berpikir sampai ke situ.

Aktivitas pagi berawal dari kegiatan membangunkan anak-anak. Selagi anak-anaknya mandi, Pak Atsushi menyiapkan sarapan, lalu mereka makan pagi bersama. Selanjutnya, Shizune berangkat ke sekolah sekaligus mengantar adiknya ke TK. Saat pulang sekolah nanti, Shizune akan sekalian menjemput adiknya. Jadi, sepanjang siang Pak Atsushi dapat bekerja dengan tenang.

Pulang dari sekolah, Shizune sudah terbiasa membersihkan dan merapikan rumah sambil mengawasi adiknya. Saat pulang dari kantor, Pak Atsushi biasa membawa makanan untuk makan malam. Tugas menjaga Riri diambil alih oleh Pak Atsushi sehingga Shizune bisa belajar. Lalu, mereka beristirahat.

Rutinitas tersebut akan berulang pada keesokan harinya. Sementara di akhir pekan, mereka masih sempat pergi berjalan-jalan. Sungguh kehidupan yang cukup normal untuk dijalani meskipun ada bagian yang telah hilang dari keluarga itu. Karena itu, sejauh ini Pak Atsushi sama sekali tidak berpikir untuk mencari pengganti istrinya.

%%%

            “Ayah ….” Shizune berdiri di dekat pintu. Wajahnya tegang.

“Shizune, belum tidur, Sayang? Ada apa?” tanya Pak Atsushi perhatian.

“Riri …” ujar Shizune terputus.

“Oh, ada apa dengan Riri?”

“Ayah, Riri ….” Shizune hampir menangis.

Menyadari hal yang tidak baik sedang terjadi, Pak Atsushi segera menuju kamar putrinya. Di sana dia mendapati Riri menggigil. Tubuhnya panas.

“Shizune, kita ke klinik sekarang!” ucap Pak Atsushi tegas.

Shizune yang sudah menyusul ayahnya ke kamar, mengangguk dan bergegas menyiapkan perlengkapan Riri. Malam itu juga mereka menuju klinik yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Selagi dokter memeriksa kondisi Riri, Shizune menunggu dengan kepala menunduk. Pak Atsushi yang duduk di sebelahnya, menggenggam tangan Shizune untuk menenangkan dan memberinya dorongan semangat.

Shinpai irimasen (jangan khawatir). Riri akan baik-baik saja.”

Shizune menggeleng-geleng. “Semua salahku. Aku memarahinya. Tadi sore, aku memarahi Riri …” ujarnya terisak.

Pak Atsushi terkejut mendengar pengakuan putri sulungnya, tapi dia tidak mau terburu-buru mengambil kesimpulan. “Kalau Shizune marah, pasti ada alasannya. Boleh ayah tahu sebabnya?”

Shizune mengeringkan air matanya sebelum mulai menuturkan kisahnya. Mulai dari Riri yang berkeras ingin bermain ke taman padahal hari sudah sore dan suhu mulai turun, lalu usahanya membujuk Riri agar mau bermain di rumah, tapi Riri masih terus-menerus menangis, sampai ketika dia akhirnya memarahi Riri.

“Semua salahku … sampai Riri jadi begini …. Maafkan aku ….”

Perlahan, Pak Atsushi merangkul bahu anaknya. Walaupun menyesalkan kemarahan Shizune kepada adiknya, Pak Atsushi bangga putrinya itu berani mengakui kesalahan. Orang dewasa saja masih banyak yang tidak mau mengakui kesalahan sendiri dan justru mencari-cari kesalahan orang lain. Lagi pula, Pak Atsushi sadar bahwa orang dewasa pun seringkali kehabisan kesabaran ketika menghadapi anak kecil, apalagi anak-anak seperti Shizune.

“Shizune tahu, kan, kalau dari kemarin Riri memang sudah kurang sehat?” tanya Pak Atsushi hati-hati.

Shizune mengangguk.

“Karena itu, Shizune melarang Riri bermain di luar. Karena Shizune khawatir Riri masuk angin, kan?” tanya Pak Atsushi lagi.

Dan Shizune pun kembali mengangguk.

“Tindakan Shizune melarang Riri bermain ke taman itu sudah benar. Kalau Shizune membiarkan Riri bermain-main di luar saat suhu udara mulai turun, mungkin sakit Riri bisa lebih parah. Tadi Shizune sudah mendengar penjelasan dokter, kan? Riri hanya perlu istirahat.”

Lagi-lagi Shizune hanya mengangguk.

“Tapi, lain kali, ayah minta supaya Shizune bisa lebih bersabar, ya?”

“Iya.” Sekali ini, Shizune mampu bersuara.

Yoroshiin da yo (bagus sekali)!” ujar Pak Atsushi senang. Digosok-gosoknya bahu putrinya itu, lalu dipeluknya dengan sayang.

Malam itu, mereka tidur di klinik. Keesokan harinya, Riri sudah diperbolehkan pulang.

%%%

            Saat ini, Pak Atsushi sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Pikirannya mengembara ke mana-mana, teringat perkataan salah seorang rekan kerjanya.

Apa salahnya dicoba?

            Hahaha aku tidak berminat, Pak Atsushi menanggapi disertai tawa ringan.

            Sekarang kau memang masih bisa bertahan. Tapi, bagaimana kalau sampai terjadi lagi seperti ketika anakmu sakit itu?

            Kami bisa mengatasinya. Kami pasti bisa mengatasinya! sahut Pak Atsushi optimis.

            Cobalah dulu. Datanglah hari Minggu besok jam 10. Jangan lupa, ya?

Sudah hampir sebulan ini rekan kerjanya itu menawarkan calon istri untuknya. Dan selama itu pula Pak Atsushi selalu menolak. Lalu, tadi rekannya itu kembali menawarkan calon padanya. Hal itu benar-benar mengganggunya.

Pak Atsushi mengembuskan napas pelan. Haruskah dia datang?

Langkah-langkahnya mulai memasuki pagar rumah. Dia lalu membuka pintu, melepas sepatu, melewati lorong, dan berhenti di dekat ruang keluarga, di mana anak-anaknya biasa bermain.

“Yang ini, namanya apa, Kak?” Riri menunjuk sebuah gambar pada buku.

Sore wa chuurippu desu (itu adalah tulip).”

Chuurippu?

“Benar. Lihat, bunganya berwarna-warni, kan?”

“Iya, indah sekali ….”

“Coba Riri sebutkan warnanya.”

“Ehm … ini merah, kuning, biru, ungu ….” Riri menyebutkan warna-warna bunga tulip sambil menunjuk-nunjuknya dengan jari.

Riri, Shizune, bahagiakah kalian? Pikir Pak Atsushi sambil mengawasi anak-anaknya.

“Ayah ….” Shizune yang pertama kali menyadari keberadaan ayahnya.

Riri ikut menoleh. “Ayah ….” Dia langsung menghambur ke pelukan ayahnya masih sambil menenteng buku.

Shizune tersenyum saja melihat Riri yang manja. Selagi Riri bersama ayahnya, Shizune menyiapkan air untuk mandi ayahnya.

Chuurippu! Chuurippu!” Riri memamerkan gambar bunga tulip di bukunya.

Pak Atsushi berjongkok sambil mengusap kepala anaknya. “Riri tahu dari mana?”

Oneechan wa sou iimashita (Kakak bilang begitu).” jawab Riri dengan mimik lucu.

“Benar, Riri.” Pak Atsushi menyahut sambil tersenyum.

Setelah Pak Atsushi mandi, mereka makan malam bertiga.

“Ayah, lihat ini.” Riri menyuap makanannya, lalu mengunyah hati-hati. “Sekarang, aku sudah bisa mengunyah tanpa suara. Kak Shizune yang mengajariku.”

“Wah, Riri banyak belajar dari Kak Shizune, ya?”

“Iya, iya ….” Riri mengangguk-angguk senang.

Malam itu, setelah memindahkan Riri ke tempat tidur, Pak Atsushi mendekati Shizune.

“Shizune, sudah selesai belajar, Nak?”

“Iya, hoahm ….” Shizune menjawab sambil menutup mulutnya yang menguap.

“Sudah mengantuk, ya?”

“Iya, tapi kalau ayah ingin bicara, bicara saja. Di ruang keluarga saja, ya, Yah? Nanti mengganggu Riri.” Shizune langsung beranjak ke ruang keluarga mendahului ayahnya.

Pak Atsushi mengulum senyum menatap punggung Shizune yang bergerak menjauhinya. Dia seperti ibunya. Selalu mengerti maksudku sebelum aku mengungkapkannya.

“Begini, Shizune. Ayah lihat kau sudah mengajari Riri dengan baik.”

“Aku hanya mengikuti apa yang pernah diajarkan oleh ibu padaku,” jawab Shizune kalem.

“Ibumu terlalu cepat pergi. Kau jadi harus menggantikan tugas-tugasnya. Kau tentu lelah dengan semua ini ….”

Shizune tersenyum. “Ayah bicara apa? Ibu pergi karena memang sudah saatnya pergi. Meskipun sedih, aku tidak mau menyerah dan putus asa.”

Pak Atsushi terpana mendengar penuturan bijak anaknya. Tidak disangkanya putri kecilnya akan berkata demikian.

“Ayah rasa, kau cukup mengerti mengenai hal ini. Jadi ….”

Hati-hati Pak Atsushi menjelaskan maksudnya. Dia meminta pertimbangan dari Shizune sebagai anak sulung, apakah dirinya perlu menikah lagi. Shizune terdiam lama.

“Ayah tidak meminta jawabanmu sekarang. Yoku kangaete kudasai (pikirkanlah baik-baik).”

Tiba-tiba, Shizune menggeleng pelan. “Tidak, Ayah. Kalau Ayah memang ingin menikah lagi, maka aku tidak berhak untuk melarang Ayah. Aku akan mencoba berbicara pada Riri.”

Diam sejenak.

“Tapi …” ujarnya menggantung. “Kalau Ayah bermaksud menikah lagi demi kepentingan kami, maka harus kukatakan bahwa … bahwa sebenarnya … aku pun telah memikirkan hal itu beberapa kali sejak Riri sakit dulu. Pada akhirnya, aku tetap memutuskan, aku dan Riri tidak membutuhkan ibu baru. Maafkan aku ….”

Pak Atsushi makin terperangah menatap Shizune. Gadis kecilnya sudah berpikir sampai sejauh itu ….

“Shizune, terima kasih, Sayang ….” Pak Atsushi hendak memeluk putrinya, tapi ….

“Kakak, ayo tidur ….” Tiba-tiba, wajah polos Riri yang masih setengah tidur menyembul di dekat pintu.

Shizune tersenyum geli melihat gerakan ayahnya yang terhenti di tengah-tengah. “Ayah, aku tidur dulu, ya? Oyasumi nasai (selamat malam/selamat beristirahat) ….” Shizune lalu mengajak adiknya kembali ke kamar.

Pak Atsushi menatap kepergian anak-anaknya dengan senyum. Lega. Hilang sudah beban yang beberapa hari ini menyesaki batinnya.

%%%

            Nagasaki, kota yang hangat. Minggu, 09:30.

Atsushi, kau di mana? suara rekan kerja Pak Atsushi melalui telepon.

“Di rumah,” jawab Pak Atsushi santai.

Kau ini bagaimana? Dia sudah menunggu.” Suara di seberang mulai terdengar panik.

“Oh, soal itu ….” Pak Atsushi tersenyum tenang. “Lebih baik, dia untukmu. Sampai saat ini, kau juga masih sendiri, kan? Aku ….” Pak Atsushi menggantung kalimatnya. Pandangannya berubah lembut saat menatap anak-anaknya yang sedang bersiap-siap untuk pergi. “Aku masih mempunyai dua wanita yang sangat kucintai. Sudah dulu, ya? Kami mau jalan-jalan.”

Tut, tut, tut ….

Hubungan terputus.

“Ayah, kami sudah siap.” Shizune berbicara sambil menggandeng tangan adiknya.

“Iya, iya!” Riri menyahut dengan riang.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berangkat!”

Tiga orang itu pun berangkat dengan semangat dan gembira. Mereka akan pergi ke Kota Sasebo untuk mengunjungi Nagasaki Holland Village, yang juga dikenal sebagai Huis Ten Bosch. Kebetulan, saat ini sedang musim semi. Jadi, banyak ditanam bunga tulip dengan aneka warna dan jenis. Riri memang sangat ingin melihat tulip yang asli, bukan hanya lewat gambarnya.

Chuurippu ga takusan arimasu (ada banyak tulip)!” seru Riri dengan tatapan kagum.

“Iya. Indah sekali, kan?” Shizune menanggapi.

Riri mengangguk-angguk antusias. “Koko wa Chuurippu Machi desu (ini adalah Kota Tulip)!”

Pak Atsushi tertawa mendengar kata-kata Riri. “Ini Kampung Belanda, Riri. Huis Ten Bosch namanya,” jelas Pak Atsushi.

Chuurippu Machi!” Riri berkeras.

“Hahaha …. Iya, iya ….” Masih dengan tersenyum geli, Pak Atsushi pun mengalah pada anak bungsunya yang keras kepala.

Nagasaki Holland Village mengadopsi pemandangan, suasana, dan bentuk bangunan negara Belanda pada abad ke-17. Sesuai dengan namanya, di lokasi ini ada replika salah satu istana resmi keluarga kerajaan Belanda yang bernama Huis Ten Bosch. Nama Huis Ten Bosch dalam bahasa Inggris berarti House in the Forest.

Di tempat ini banyak terdapat permainan anak. Riri dan Shizune pun bermain-main, lalu mereka pergi menonton teater. Saat lapar, mereka pergi ke restoran untuk makan. Usai makan, mereka menuju pusat kota untuk naik ke puncak Domtoren.

“Dari sini, kita bisa melihat Kampung Belanda secara menyeluruh,” Pak Atsushi menjelaskan kepada putri-putrinya.

“Wah, melihat dari atas menyenangkan sekali, ya?” ucap Shizune, menerawang.

Di Kampung Belanda ini, semua nama stasiun menggunakan nama-nama kota di Belanda, misalnya Amsterdam.

“Ayah, ayo kita ke Utrecht …” harap Shizune.

“Utrecht?” Riri menirukan ucapan kakaknya.

“Benar, Riri. Nanti kita bisa naik kapal.”

“Riri mau naik kapal! Riri mau naik kapal!” Riri melompat-lompat kegirangan.

“Ayah, boleh, kan? Biar seperti di Belanda …” pinta Shizune lagi.

“Ya, baiklah ….” Pak Atsushi tersenyum. Jarang-jarang Shizune mengajukan permintaan. Karena itu, jika Shizune sampai meminta sesuatu, tentu ada alasannya selain sekadar ingin.

Dengan kapal, mereka melalui sungai kecil di mana terdapat angsa-angsa putih yang sedang berenang. Riri tertawa-tawa melihatnya. Di sepanjang tepi sungai yang mereka lewati, terdapat perumahan yang membuat suasananya benar-benar seperti di Belanda.

Pak Atsushi senang sekali melihat putri-putrinya gembira. Betapa mereka sangat bahagia. Dia tidak mau memasukkan orang asing yang meskipun mungkin dapat membahagiakannya, belum tentu mampu membahagiakan anak-anaknya.

Riri merasa sangat nyaman denganku, Ayah. Meskipun aku tidak bisa seperti ibu, aku akan berusaha melaksanakan tugasku dengan baik. Tolong beri aku kepercayaan.

Pak Atsushi tersenyum mengingat keyakinan yang terpancar dari tatapan Shizune waktu itu. Senyumnya semakin lebar saat teringat bahwa di Kampung Belanda inilah Pak Atsushi pertama kali bertemu dengan ibu Shizune dan Riri.

Shizune juga ingat dirinya pernah mengunjungi tempat ini bersama ayah dan ibunya. Karena itu, tadi dia meminta naik kapal ke Utrecht. Hal itu memang selalu mengingatkannya pada ibunya. Kali ini pun, Riri akan selalu mengenang saat-saat dia naik kapal bersama kakak dan ayahnya di Huis Ten Bosch, yang Riri lebih suka menyebutnya sebagai Chuurippu Machi.

%%%

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s