Ran, Ran, Ran

Naha, Okinawa ….

Ran. Itulah nama yang diberikan ayah kepadaku. Sebuah nama yang sangat indah. Karena seperti kalian tahu, bunga anggrek sangatlah indah dan variasinya hampir tidak terbatas. Bahkan karena keindahannya, pada permulaan abad ke-18, kegiatan mengoleksi anggrek mulai banyak dilakukan di segala penjuru dunia.

Hhh … pemikiran itu membuatku sakit. Bukannya apa-apa. Yang namanya nama, itu merupakan sebuah doa dan harapan orangtua supaya anaknya mendapatkan yang terbaik di masa depan. Begitu pula dengan namaku. Barangkali dulu ayah memberiku nama Ran supaya aku bisa secantik dan seindah bunga anggrek. Namun, apa boleh buat? Namaku itu diberikan oleh ayah setelah aku lahir, sedangkan takdir yang menyertaiku mungkin sudah ditetapkan sejak sebelum aku lahir. Aku ditakdirkan menjadi seorang wanita yang tidak cantik.

Sekarang, ayah sudah tiada. Aku hanya tinggal bersama ibu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku dan ibu membuka sebuah florist dengan bunga anggrek sebagai salah satu bunga yang paling menonjol dan diminati dari florist kami. Bahkan, nama florist ini terang-terangan menggunakan namaku, Kusano Ran. Kata ibu, hal itu untuk mengenang ayah dan untuk lebih menonjolkan kesan bunga anggrek yang menjadi andalan toko kami. Ah, ibu …. Tapi, itu, kan, namaku. Barangkali tidak masalah seandainya aku cantik, tapi ….

Ingin rasanya aku mengganti nama. Ingin pula aku berlari sejauh-jauhnya. Namun, satu hal yang tidak ingin kulakukan adalah mengubah wajahku, operasi plastik, face off, atau apa pun namanya. Menurutku, hal itu menunjukkan rasa tidak bersyukur dan sikap yang tidak tahu berterima kasih.

Eh? Tunggu dulu! Tidak bersyukur? Tidak tahu berterima kasih? Ah, betapa malunya aku ….

Bukankah ayah sudah bersusah payah mencari nama yang indah untuk dihadiahkan padaku? Bukankah hadiah itu, berupa sebuah nama, yang kubawa sepanjang waktu dan kupakai di mana pun aku berada? Bukankah selama nama itu melekat pada diriku, maka selama itu pula doa dan harapan kedua orangtuaku senantiasa menyertaiku? Dan bukankah kecantikan sejati tidak terletak pada keindahan rupa dan bentuk tubuh, melainkan pada hati dan tingkah laku? Bukankah … bukankah ….

Aku tidak sanggup lagi mengurainya satu-satu. Mengapa selama ini aku begitu bodoh dengan memandang kecantikan fisik semata? Mengapa aku buta untuk melihat hatiku? Seharusnya hatilah yang kujaga karena mungkin memang itulah maksud ayah memberikan nama Ran padaku, yaitu agar aku menjadi wanita yang baik, sehingga orang lain akan senang terhadapku.

Ayah, maafkan aku karena baru menyadarinya sekarang. Maafkan aku yang tidak juga memahami maksudmu. Sekarang, aku baru mengerti dan aku berjanji akan memperbaiki diri. Ayah, terima kasih ….

Perlahan, senyuman manis terkembang di bibirku. Hari itu, untuk pertama kalinya sejak Kusano Ran Florist dibuka, aku melayani pengunjung dengan senyum yang tulus. Dengan telaten dan sabar aku menjelaskan mengenai jenis-jenis anggrek serta keunggulan dan kekurangan masing-masing pada pengunjung yang antusias bertanya tentang anggrek yang akan dibelinya.

Di ujung toko aku sempat melihat ibu sedang memerhatikanku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumnya. Lega.

%%%

            Tokyo, Kota Metropolitan ….

Perkenalkan, namaku Yoshida Ran. Mungkin, aku tidak perlu lagi memperkenalkan diri karena kurasa kalian sudah tidak asing lagi denganku. Benar. Aku adalah seorang penyanyi sekaligus bintang film yang sedang naik daun. Seluruh Jepang, bahkan kini mulai merambah ke luar negeri, mengakui bahwa aku ini artis muda yang cantik dan berbakat. Suaraku merdu, dan aktingku selalu seperti sungguhan.

Banyak wanita iri padaku, iri pada kecantikanku, iri pada kesuksesanku. Kalian pasti tidak bisa membayangkan berapa uang yang kuraup dari hasil penjualan lagu dan film yang kubintangi. Belum lagi hadiah-hadiah yang kuterima, perhiasan yang mahal, pakaian yang indah-indah …. Mungkin, kalian membayangkan kehidupanku seperti seorang putri yang tinggal di istana dengan kekayaan berlimpah dan berbagai fasilitas yang lengkap dan mewah. Seperti hidup di negeri dongeng. Dan, setiap mata tertuju padaku dengan tatapan kagum. Barangkali kalian beranggapan bahwa akulah manusia paling bahagia di dunia ini. Apa pun yang kuinginkan dapat terpenuhi. Apalagi yang kurang dariku? Cantik, kaya, terkenal ….

Akan tetapi ….

Rupanya kalian salah jika beranggapan demikian. Sekarang ini aku masih muda, masih cantik, suaraku masih bagus. Bagaimana kalau nanti aku sudah semakin tua, kulitku mulai berkeriput, dan suaraku tak lagi seindah saat ini? Apakah aku masih akan dipakai? Apakah aku tidak akan dicampakkan begitu saja, kemudian digantikan oleh artis-artis pendatang baru yang masih muda dan lebih cantik?

Aku merasa tidak diperlakukan sebagai manusia, melainkan seperti mesin. Mesin akan dipakai selagi dia masih bisa bekerja dengan baik. Apabila mesin itu rusak, dia akan dibuang begitu saja dan digantikan dengan yang baru.

Tapi, aku bukan mesin. Aku tidak bisa dibuang begitu saja. Aku manusia yang memiliki hati dan perasaan. Aku tidak mau diperlakukan seperti mesin pekerja. Aku ingin dianggap sebagai seorang manusia. Tolong mengerti dan pahami aku.

Barangkali aku ini seperti anggrek hias, dari genus Dendrobium, tanaman hias paling populer di antara jenis-jenis anggrek. Sebagaimana anggrek, kecantikanku biasa dipamerkan dan diperjualbelikan. Lagi pula, sejak dulu anggrek sering dipergunakan sebagai simbol dari kemewahan dan keindahan. Mungkin, aku seperti itu.

Namun, sekali lagi aku adalah manusia. Aku memiliki rasa ….

Karena itu, jangan heran kalau akhir-akhir ini tersiar kabar mengenai menghilangnya diriku. Itu bukan sekadar gosip, melainkan itulah yang sebenarnya terjadi. Aku telah memutuskan mundur dari dunia hiburan. Memang tidak mudah. Beberapa tawaran untuk membintangi film atau sejumlah iklan seringkali menggodaku. Ditambah lagi, bayangan mengenai besarnya jumlah uang yang akan kuterima sangatlah menggiurkan. Dan yang utama adalah … popularitas.

Cobaan tidak hanya sampai di situ. Masih ada gosip atau anggapan bahwa mundurnya diriku hanyalah berita yang dibuat-buat untuk mendongkrak popularitas. Dan entah apa lagi. Aku tidak mau peduli.

Aku pergi ke tempat asing yang tenang dalam usaha meredupkan gaung Yoshida Ran yang terkenal di seluruh Jepang. Berbekal uang yang kumiliki, aku mulai membuka sekolah dan perpustakaan serta lembaga-lembaga sosial. Aku ingin menjadi manusia yang hidup dengan menapak di bumi, bukan melayang di awang-awang.

Namun, para pencari berita itu masih saja mengejarku. Aku berusaha bersikap biasa. Aku yakin, perlahan tapi pasti, media akan mulai berhenti memberitakan diriku. Dan, suatu saat nanti, mereka akan benar-benar berhenti mencari berita tentangku karena lebih tertarik kepada para artis pendatang baru.

Kini, aku tidak lagi menginginkan popularitas yang hanya menguntungkan diri sendiri dan beberapa pihak tertentu. Aku ingin bisa lebih bermanfaat bagi orang lain. Semoga aku bisa seperti itu.

%%%

            Hokkaido yang Dingin ….

“Ran, anakmu sudah bangun.”

“Baik, Bu.”

Aku beranjak dari dudukku untuk menyusui anakku, seorang bayi mungil yang amat manis, bayi suci yang baru kulahirkan tiga setengah bulan yang lalu.

“Anak manis ….” Aku menjawil pipinya yang montok. Sungguh menggemaskan. Matanya bening dan hitam pekat. Dia bayi perempuan yang sangat manis. Juga cantik. Seperti aku, ibunya.

Bukannya aku sombong, memang begitulah yang dikatakan orang-orang tentang diriku. Kata mereka, aku ini cantik, seperti namaku, bunga anggrek. Cantik, baik, penurut, dan pandai, juga dikagumi oleh banyak orang. Menurut mereka, ayah dan ibu beruntung sekali memilikiku. Dan, ayah memang sangat bangga padaku.

Sebagai seorang gadis yang cantik, tentu banyak sekali pemuda yang menginginkanku menjadi kekasihnya. Namun, tak satu pun dari mereka yang kuterima. Sekali lagi bukan karena aku sombong. Aku hanya ingin menjaga diri dan berhati-hati. Aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Aku tidak mau bermain-main, apalagi dipermainkan laki-laki. Aku tidak mau menjadi gadis yang murah.

Namun, rupanya ketegasan sikapku itu telah menimbulkan kebencian dari beberapa pihak. Pada suatu hari, ada tiga orang pemuda yang tidak kukenal menculikku. Aku dibuatnya tidak sadar. Begitu aku terbangun, sebuah video yang tidak pantas untuk dipertontonkan telah terpampang jelas di hadapanku. Dan salah satu pemain dalam video itu adalah … aku.

Aku pulang dengan menanggung malu. Aku menjadi bunga anggrek yang ternoda. Saat itu, aku benar-benar tidak habis pikir jika ada orang yang dengan senang hati, bahkan bangga, untuk menjadi bintang film porno. Tidak tahu malu!

Beberapa hari kemudian, video itu telah tersebar di jaringan internet. Sungguh memalukan! Ayah pergi dari rumah setelah mengetahui perihal video tidak senonoh itu, meninggalkan aku dan ibu begitu saja.

AAAAA!!! Ingin rasanya aku menjerit sekuat-kuatnya. Aku nyaris mati akibat peristiwa itu, tapi seseorang menyelamatkanku.

Waktu itu, aku mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan ke sebuah sungai setelah usahaku memotong urat nadi digagalkan oleh ibu. Aku jatuh, tubuhku melayang, lalu terbawa aliran deras air sungai. Aku merasa kepalaku membentur batu, kemudian seseorang menarikku ke tepi. Dia menepuk-nepuk punggungku supaya air yang tertelan olehku dapat dikeluarkan. Setelah batuk-batuk sebentar, akhirnya kesadaranku pulih dan tampak olehku seseorang yang menawarkan kehangatan. Awalnya, aku berontak karena rasa takutku terhadap laki-laki setelah insiden video memalukan itu dan kepergian ayah dari hidupku dan hidup ibu. Namun, laki-laki tadi menenangkanku. Dia kemudian mengantarku pulang pada ibu.

Tak lama setelah peristiwa itu, laki-laki itu melamarku. Sebenarnya, aku malu sekali padanya, tapi laki-laki itu berhasil meyakinkanku. Apalagi, aku sendiri merasa menyukainya. Akhirnya, kami pun menikah.

Kini, kami telah dianugerahi seorang putri yang sangat cantik. Bayi mungil ini, yang saat ini tengah berada dalam gendonganku. Aku akan berusaha merawat bayi ini sebaik-baiknya dan aku ingin menjadi seorang istri yang baik pula.

Mengenai apa yang pernah terjadi padaku, biarlah hal itu menjadi pelajaran bagiku dan bagi kalian supaya dapat menjadi manusia yang lebih baik di masa depan.

Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Suamiku. Terima kasih, Putri Kecilku ….

%%%

            Pernyataan Tiga Wanita:

Namaku Ran. Sebagaimana namaku, bunga anggrek, aku adalah wanita yang cantik. Bukan semata-mata cantik secara fisik, melainkan benar-benar cantik dari dalam hati. Hingga dunia pun mengakui kecantikanku yang sesungguhnya, seperti seluruh dunia mengakui keindahan bunga anggrek selama berabad-abad.

%%%

Advertisements

3 thoughts on “Ran, Ran, Ran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s