Tanpopo no Hana-Uta (Senandung Bunga Dandelion)

“Kenapa Kakak tidak juga bangun?” Tanpopo bertanya seperti kepada dirinya sendiri. Di hadapannya, Toshiro terbaring di atas tempat tidur. Tak sadarkan diri.

Sudah seminggu ini, Toshiro belum juga siuman. Berawal ketika Tanpopo nyaris tertabrak mobil, kemudian Toshiro menyelamatkannya. Toshiro mendorong Tanpopo ke tepi dan menggantikan posisi adiknya itu sehingga tubuhnya terpental beberapa kali pada badan mobil sebelum akhirnya menghantam aspal. Kepalanya mengalami benturan keras dan telah menjalani operasi. Namun, hingga saat ini, Toshiro masih belum juga pulih.

“Kenapa? Kenapa selalu begini? Kenapa aku tidak pernah bisa melindungi Kakak? Selalu saja Kakak yang menjagaku ….” Tanpopo menunduk.

CKLEK!

Mendengar suara pintu dibuka, Tanpopo menoleh. Ternyata, itu perawat yang hendak memeriksa kondisi Toshiro.

“Tanpopo, sebentar, ya?”

Tanpopo mengangguk dan turun dari kursinya. Dia bergeser untuk memberi ruang pada perawat yang akan memeriksa keadaan kakaknya.

“Tanpopo ingin menjaga kakak dengan baik, ya?” tanya perawat itu, Suster Fumi namanya, usai memeriksa kondisi pasiennya.

“Benar.” Tanpopo menganggukkan kepalanya. “Selama ini, kakak selalu menolongku. Kali ini, aku ingin menjaganya.”

“Bagus sekali,” puji Suster Fumi. “Tapi, supaya dapat menjaga kakak dengan baik, Tanpopo harus tetap sehat dan kuat. Karena itu, Tanpopo harus makan.” Suster Fumi menasihatinya hati-hati.

“Aku mau makan. Tapi, bagaimana dengan kakak? Dia belum makan ….”

Suster Fumi tersenyum lembut. “Kakakmu sudah makan. Lihat itu!” Tunjuknya pada tabung infus yang tergantung di samping tempat tidur Toshiro. “Kakakmu makan dan minum dari sana.”

Tanpopo menatap cairan dalam tabung yang terus menetes dan menuruni selang kecil yang tersambung dengan jarum yang menancap di lengan kiri Toshiro.

“Kakak, selamat makan …” ucap Tanpopo lirih sebelum mengikuti Suster Fumi keluar ruangan.

Di luar, Pak Koga, pelayan keluarga Hanazawa, telah menyambut Tanpopo. Pak Koga memang sengaja meminta tolong kepada Suster Fumi untuk membujuk Tanpopo supaya mau makan.

“Pak Koga, kapan kakak akan bangun?”

Pak Koga hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus berkata apa. Dirinya pun mencemaskan kondisi tuannya yang masih muda itu.

Dulu, Toshiro dan adiknya diadopsi dari panti asuhan oleh seorang janda tanpa anak yang bernama Nyonya Hanazawa. Saat ini, Nyonya Hanazawa telah tiada. Tanpopo dan kakaknya hanya tinggal berdua, bertiga dengan Pak Koga, seorang pelayan yang sudah seperti keluarganya sendiri.

Sekarang, Toshiro sedang koma dan Tanpopo sangat takut akan kehilangannya. Selain itu, dia merasa bersalah karena tidak berhati-hati di jalan. Akibatnya, malah kakaknya yang celaka karena berusaha menyelamatkan dirinya.

Tanpopo merasa sedih, tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Dokter sudah tidak dapat berbuat lain kecuali menunggu perkembangan yang terjadi pada Toshiro.

%%%

“Kakak …” panggil Tanpopo pelan. Dia menggenggam tangan kakaknya yang terasa dingin. “Kakak senang mendengarkan ceritaku, kan? Kalau begitu, Kakak harus cepat bangun. Ya?” Tanpopo mengusap air mata yang merembes dari kelopak matanya. “Baiklah. Kalau Kakak belum mau bangun, aku akan tetap membacakan Kakak cerita. Kakak dengarkan baik-baik, ya?”

Tanpopo meraih buku di atas meja dan mulai memilih-milih cerita yang menarik. Dengan suaranya yang lembut, Tanpopo mulai membaca.

Hal itu terus berlangsung setiap harinya. Waktu pun berlalu dan hari selalu berganti. Kondisi Toshiro tidak juga mengalami perubahan. Tanpopo mulai diusik oleh perasaan putus asa. Entah sampai kapan dia bisa mempertahankan kesabarannya.

%%%

Seperti biasa, Tanpopo mengusap-usap punggung tangan Toshiro, berharap itu dapat merangsang sel-sel kehidupan dalam tubuh kakaknya dan membuatnya bangun.

“Kakak, bangun ….” Tanpopo terisak-isak. “Apa yang harus kulakukan untuk membuat Kakak bangun?”

Tanpopo menggenggam tangan Toshiro ke dalam kedua tangannya. Diciumnya tangan kakaknya itu dan air mata pun membanjiri tangan Toshiro.

“Dewa, tolong selamatkan kakakku …” pintanya lirih. “Tidak! Bukan dewa, tapi siapa saja. Siapa saja, tolong selamatkan kakakku …!” Tanpopo terpekik dalam harapnya. Dia menjatuhkan kepalanya di sisi tubuh Toshiro. Karena kelelahan menangis, akhirnya dia tertidur.

%%%

“Tanpopo ….”

Tanpopo mengerjap-ngerjap sesaat. Dia mencoba mengangkat kepalanya yang terasa berat. Dia heran melihat tempat tidur kakaknya sudah kosong. Di dekat jendela kamar, tampak Toshiro berdiri, menatapnya sambil tersenyum.

“Kakak ….” Tanpopo segera berdiri meskipun masih sempoyongan. Dia berlari memutari tempat tidur untuk mendapati Toshiro di seberang ruangan. “Kakak …” panggilnya sekali lagi. Dia langsung memeluk tubuh kakaknya erat-erat. “Ini benar-benar Kakak …. Kakak yang sebenarnya …. Bagus sekali ….” Tanpopo berbicara dengan mata terpejam, seperti bermimpi, karena terlalu bahagianya.

“Tanpopo ….” Toshiro berjongkok dan menatap adiknya tepat-tepat. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

“Sudah, ikut saja.”

“Tidak mau. Kakak, kan, baru sembuh. Besok saja, ya?”

Kibun wa saikou desu (aku sehat-sehat saja). Memangnya, kau tidak ingin bermain?”

“Ehm …” Tanpopo menerawang. “Sebenarnya, aku ingin juga ….”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita bermain!” sambil mengatakan hal itu, Toshiro langsung menarik tangan adiknya. Tanpopo hanya bisa mengikuti kakaknya. Dia tidak tahu akan dibawa ke mana. Rasanya benda-benda di sekelilingnya menjadi kabur karena cepatnya mereka berlari. Langkah-langkah kakinya terasa ringan.

“Kakak,” panggil Tanpopo ragu. Toshiro membalasnya dengan senyum.

Setelah beberapa waktu berjalan, Toshiro menghentikan langkahnya. “Kita sudah sampai,” katanya tersenyum.

Tanpopo menatap sekelilingnya. “Ini … di mana?”

“Ini adalah taman bunga dandelion.”

“Taman bunga … dandelion?”

Toshiro mengangguk. Di sekitar mereka tampak dandelion berayun-ayun bersama tiupan angin yang lembut. Mahkota dandelion yang kuning merekah, terlihat begitu anggun dan mempesona. Ada pula dandelion yang sudah selesai berbunga dan menjadi benih, kemudian hembusan angin menerbangkan benih-benih dandelion yang telah matang. Benih-benih itu bisa terbang sampai ke tempat yang jauh dan tumbuh menjadi tanaman dandelion yang baru. Tanpopo terkesima menatap tebaran benih yang seperti menari-nari di udara.

“Indah sekali ….”

“Kau suka?”

“Iya!” Tanpopo mengangguk kuat-kuat.

Toshiro tertawa pelan melihat kelakuan adiknya. “Sekarang, kejar aku, Tanpopo!” Tiba-tiba, Toshiro sudah berlari mendahuluinya.

“Kakak curang!” Tanpopo cepat-cepat memburu Toshiro yang sudah berlari duluan. Selama beberapa waktu, mereka tertawa-tawa dan saling berkejaran. Saat Tanpopo berhasil menangkap kakaknya, Toshiro malah balas meringkus tubuh kecil Tanpopo kemudian menggelitikinya. Tanpopo tergelak-gelak kegelian sampai keluar air mata. Dia bahagia sekali setelah berhari-hari terus bersedih.

Setelah tenang, Tanpopo duduk bersisian dengan kakaknya. Di sekeliling mereka, bunga dandelion terus berayun dan benihnya masih beterbangan. Mahkotanya sungguh indah dipandang mata.

“Tanpopo, kau lihat bunga dandelion itu?”

“Iya. Kenapa?”

“Menurutmu, apa yang mereka lakukan?”

“Ehm … apa, ya? Mereka seperti menari, menari, dan terus menari. Kalau menurut Kakak bagaimana?”

Toshiro tersenyum. “Menurutku, sebagian dari mereka sedang menari dan sebagian yang lain sedang bersenandung.”

“Bersenandung? Aku tidak mendengar suara mereka ….”

Sekarang Toshiro tertawa pelan. “Kita memang tidak mendengarnya, tapi kita bisa tahu kalau mereka sedang bersenandung.”

“Kalau begitu, apa yang sedang mereka senandungkan?” tanya Tanpopo ingin tahu.

“Mereka sedang menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhan.”

Tanpopo mengangguk-angguk mengerti. Dia menatap ke sekelilingnya, ke arah dandelion yang bergoyang-goyang bersama tiupan angin. “Mereka terus-menerus menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhan, ya, Kak? Kulihat, mereka tidak pernah berhenti bergoyang ….”

“Iya, Tanpopo. Mereka memuji Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Karena nikmat Tuhan terus mengalir setiap saat, sepanjang waktu, maka mereka pun terus memuji Tuhan.”

Kembali Tanpopo mengangguk. “Seperti apa, Kak, puji-pujian mereka? Aku juga ingin memuji Tuhan karena telah menyembuhkan Kakak ….”

“Tanpopo ….” Toshiro merangkul bahu adiknya dengan sayang. “Sebenarnya, bukan hanya dandelion yang menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhan. Angin yang bertiup, tanah yang kita pijak, awan yang berarak, semua memuji Tuhan.”

“Aku baru tahu ….”

“Mereka memiliki cara sendiri-sendiri untuk memuji Tuhan. Begitu pula dengan kita sebagai manusia.”

“Lalu, bagaimana cara kita memuji Tuhan? Aku ingin berterima kasih pada-Nya ….”

Toshiro menghela napas dalam sebelum menjawab, “Kita bisa berterima kasih kepada Tuhan dengan melakukan apa-apa yang disukai Tuhan dan menghindari hal-hal yang tidak disukai-Nya.”

“Oh, begitu? Memangnya, apa saja yang disukai dan tidak disukai Tuhan?” tanya Tanpopo lagi.

“Untuk mengetahui hal itu, kita harus lebih dulu mengenal Tuhan. Kamisama wo shitte imasu ka (apa kau mengenal Tuhan kita)?”

Tanpopo menggeleng.

“Kalau begitu, ayo kita berkenalan dengan Tuhan. Jadi, kita bisa berterima kasih pada-Nya. Tanpopo mau mengenal Tuhan?”

Tanpopo mengangguk. Toshiro tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Tanpopo pun tersenyum sembari menyambut uluran tangan kakaknya. Mereka berjalan beriringan menembus sekumpulan dandelion berwarna kuning merekah yang terus berayun, menyenandungkan puji-pujian kepada Tuhannya.

%%%

Tanpopo terbangun dengan terkejut. Tampak kakaknya pun telah sadar. Toshiro tengah bersandar pada sandaran tempat tidur.

“Kakak ….” Tanpopo mengusap matanya seolah tak percaya. Bibir pucat Toshiro menyunggingkan seulas senyum.

Tanpopo langsung menghambur memeluk kakaknya. “Kakak …. Ini benar-benar Kakak, kan? Kakak sudah bangun ….” Dia memeluk kakaknya erat sekali.

Toshiro membalas pelukan adiknya.

“Aku minta maaf …. Semua salahku sampai Kakak jadi begini …. Maafkan aku ….”

“Tanpopo, sudahlah ….” Toshiro mengusap-usap punggung adiknya untuk menenangkan. Perlahan, dijauhkannya tubuh Tanpopo dan diusapnya wajah adiknya yang berurai air mata. “Aku baik-baik saja. Jangan sedih lagi, ya?”

Tanpopo mengangguk-angguk, tapi air mata masih terus berluncuran menuruni pipinya yang juga pucat. Kembali Toshiro menarik Tanpopo ke dalam pelukannya. Selama beberapa saat, dibiarkannya Tanpopo menangis. Toshiro sadar, ini tentu berat bagi gadis kecil seperti Tanpopo.

Setelah tangis Tanpopo reda, Toshiro kembali berbicara. “Merasa lebih baik?”

Tanpopo mengusap wajahnya yang basah. Matanya masih sembap dan hidungnya memerah, tapi seleret senyuman kemudian menghiasi bibirnya.

Yokatta (syukurlah) …” Toshiro lega. “Baru saja aku bermimpi ….”

“Aku juga bermimpi!” sahut Tanpopo. “Mimpi yang sangat aneh. Di dalam mimpiku, ada Kakak juga.”

Toshiro menatap adiknya lekat-lekat, seperti berpikir. “Apakah … kau bermimpi tentang taman bunga dandelion?” tanyanya dengan menyelidik.

“Bagaimana Kakak tahu?”

“Aku … memimpikan hal yang sama,” ucap Toshiro lambat-lambat.

Tanpopo menatap kakaknya lama sekali, seolah tidak percaya. “Aneh sekali, ya, Kak? Tapi, taman bunga dandelion itu indah sekali ….”

Toshiro mengangguk sedikit. Masih berpikir agaknya.

Tiba-tiba, Tanpopo tersadar. “Kalau begitu, jika benar mimpi Kakak sama dengan mimpiku, lalu siapa Tuhan kita, Kak? Bagaimana cara bersyukur kepada-Nya? Bagaimana cara memuji-Nya? Aku ingin berterima kasih pada-Nya ….” Tanpopo memberondong kakaknya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

“Tanpopo, kau yakin ingin berkenalan dengan-Nya?”

Tanpopo mengangguk kuat-kuat. Yakin sekali.

Toshiro menarik napas panjang. “Sebenarnya, aku pun belum terlalu mengenal-Nya. Tapi, salah satu temanku pernah memberitahuku tentang Dia.” Toshiro mengambil jeda sebentar. “Apa yang disampaikan oleh temanku itu masih terlalu sedikit. Jadi, setelah keluar dari sini, kita akan lebih jauh berkenalan dengan-Nya. Sekarang, kau akan kuberi tahu dulu siapa Tuhan kita.”

Tanpopo mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Tuhan kita adalah … Allah.”

“Allah?” Meskipun belum fasih benar, Tanpopo mencoba menyebut nama Tuhannya.

“Betul.” Toshiro mengangguk. “Sebelum kecelakaan itu, sebenarnya aku akan mengajakmu ke tempat di mana kita bisa lebih jauh mengenal Tuhan kita ….”

“Tapi, aku mengacaukan segalanya ….” Tanpopo menunduk. Dia kembali disergap perasaan bersalah. “Maafkan aku ….”

“Ssst ….” Toshiro menenangkannya. “Jangan berbicara seperti itu lagi. Kita akan  segera berkenalan dengan-Nya.”

Tanpopo mengangguk-angguk dan kembali mengusap wajahnya. Toshiro membelai-belai kepala adiknya, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. Tanpopo memang tampak kacau karena berhari-hari terus menunggui kakaknya. Toshiro menatapnya dengan sayang.

“Ehm, Kak, apakah Tuhan itu seperti dewa?” Tanpopo bertanya lagi.

“Bukan.” Toshiro menggeleng. “Kami wa tada hitotsu aru nomi desu (Tuhan itu hanya ada satu). Dia satu-satunya yang kita sembah dan kita mintai pertolongan.”

Tiba-tiba, Tanpopo teringat akan sesuatu. Waktu itu ….

“Dewa, tolong selamatkan kakakku …. Tidak! Bukan dewa, tapi siapa saja. Siapa saja, tolong selamatkan kakakku …!

Mungkinkah saat itu Tuhan mendengar pintanya? Dan, kini Tuhan telah mengabulkan doanya. Hal itu membuat Tanpopo semakin yakin akan keberadaan Tuhan dan dia pun bertekad untuk mengenal Tuhannya dengan lebih baik.

“Kakak, kenalkan aku pada … Allah.”

%%%

Advertisements

5 thoughts on “Tanpopo no Hana-Uta (Senandung Bunga Dandelion)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s