Seperti Bunga Matahari

“Himawari ….” Gadis itu mengulurkan tangan ke arahku. Aku pun membalas uluran tangannya seraya menyebutkan nama.

“Kau ini mengagetkan sekali,” kataku setengah protes. Sebelum perkenalan kami tadi, gadis yang tampaknya seumuran denganku itu tiba-tiba muncul dengan cara melompat di hadapanku. Terang saja aku kaget bukan main dibuatnya.

Himawari hanya tertawa kecil. “Habis kau aneh. Kenapa malam-malam begini malah keluar rumah? Lagi pula, ini, kan, pagar rumahku juga.” Dia menunjuk pagar yang kami duduki. Pagar itu memang menjadi pembatas antara halaman rumahku dengan halaman rumah di sampingku.

Nan to iimashita ka (Apa kau bilang)? Rumahmu?” tanyaku ingin memastikan. Sebelumnya, rumah di sebelah rumahku itu tidak berpenghuni.

Himawari mengangguk-angguk. “Aku baru pindah ke sini tadi siang. Kau tahu? Aku datang dari Osaka.”

Oh …. Sekarang ganti aku yang manggut-manggut. “Tapi, kau tidak berbicara dengan logat Kansai?” komentarku dengan sedikit heran.

Kali ini Himawari terkikik. “Aku hanya tinggal beberapa bulan di sana. Sebelumnya, aku dari Sapporo, sempat tinggal di Naha, pernah juga di Miyazaki, dan sekarang aku kembali ke Tokyo. Waktu kecil, aku juga pernah tinggal di Amerika. Tapi, sebenarnya aku ini memang orang Edo (nama Tokyo di masa lalu).”

Aku terlongo mendengar penuturannya. Di usianya yang masih sangat belia, dia sudah menjelajahi hampir seluruh Jepang, dari selatan hingga utara. Bahkan, sudah pernah ke luar negeri.

“Jadi, apa yang sedang kau lakukan di sini malam-malam begini?” tanyanya kemudian.

“Oh, itu … aku …” aku sedikit gelagapan. “Ya … duduk-duduk saja,” jawabku asal. Sebenarnya, aku sedang melihat langit malam. Langit cerah di awal musim semi ini.

“Hahaha … kau ini …” lagi-lagi dia tertawa. Disentilnya keningku main-main. “Kau lucu sekali. Besok kita bermain bersama, ya?”

Anak ini . Aku mengelus-elus dahiku.

“Kau mau, kan? Iya, kau pasti mau.” Himawari menjawab sendiri pertanyaannya. “Sekarang, aku pulang dulu. Sampai jumpa!” Dan dia pun melompat turun dari pagar. Dia berlari-lari kecil memasuki rumahnya. Rambutnya yang lebat dan dibiarkan tergerai bergoyang-goyang.

Aku hanya bisa terpaku di tempat. Kutatap sosoknya yang menghilang di balik pintu.

Gadis aneh , pikirku tanpa terlalu mempedulikannya lagi.

%%%

            Besoknya di sekolah, aku benar-benar terkejut mendapati Himawari telah hadir di kelasku. Dia tengah duduk manis di kursi di belakang tempat dudukku yang selama ini tidak terpakai. Sesaat, aku sempat bengong melihat Himawari mengayun-ayunkan kakinya sambil menatap keluar lewat jendela. Tingkahnya benar-benar seperti anak kecil. Ya, sejatinya kami memang masih anak-anak.

“Hai, Yukiko! Selamat pagi!” Tiba-tiba, Himawari sudah melambaikan tangannya.

Aku langsung tersadar dari lamunan. “Selamat pagi,” sapaku datar sembari meletakkan tasku di meja kemudian duduk.

“Ternyata, kau bersekolah di sini juga, ya?” tanyanya senang. Dia memutar hingga berdiri di depanku.

“Hmm,” gumamku tak jelas.

“Aku senang sekali bisa satu sekolah denganmu. Jadi, mulai besok kita bisa berangkat dan pulang sekolah bersama. Kau mau, kan?”

Aku memalingkan wajah dan menahan daguku dengan punggung tangan.

“Kalau aku tahu kau bersekolah di tempat yang sama denganku, pasti tadi aku menyusul ke rumahmu sebelum berangkat ke sekolah. Tapi, tidak apa-apa. Besok kau tunggu aku, ya? Oh, iya. Nanti kita pulang bersama, ya? Lalu, kita belajar bersama, bermain bersama …. Pokoknya, kita akan melakukan semuanya bersama-sama. Tottemo tanoshii desu ne (Menyenangkan sekali, kan) ….” Himawari masih terus berbicara dengan semangat. Aku tidak begitu menghiraukannya. Gadis itu cerewet sekali!

%%%

            “Bibi, selamat sore. Apa Yukiko ada di rumah?” Aku mendengar suara Himawari di depan pintu.

“Oh, Himawari …. Selamat sore. Mari masuk. Tunggu sebentar, ya? Bibi panggil Yukiko dulu.”

Beberapa saat kemudian, aku mendengar langkah-langkah ibu yang mendekat ke kamarku. Menyadari hal ini, aku malah berpura-pura tidur.

“Yukiko, ada Himawari di depan. Temuilah dia!” ibu berseru sambil mengetuk pintu.

Aku memejamkan mata lebih erat. Selimut kututupkan sampai kepala meskipun hal itu membuatku kepanasan. Sekarang, kan, sudah mulai memasuki musim panas.

“Yukiko …” panggil ibu lagi. Kali ini disertai dengan membuka pintu. Aku merasakan gerakan ibu yang berjalan menuju tempat tidurku kemudian duduk di situ, tepat di samping tubuhku. Kudengar ibu mendesah pelan. Ditariknya selimut dari tubuhku. Selanjutnya, dengan paksa ibu menarikku bangun. Diseretnya aku hingga mencapai ruang tamu.

Aku pun hanya bisa nyengir dengan mata seperti orang mengantuk. Aku memang tidak pandai berpura-pura tidur. Ibu bisa dengan mudahnya mengetahui tipuanku.

Tiba di ruang tamu, kulihat Himawari sedang berdiri membelakangiku. Kedua tangannya tampak memegangi sesuatu, sementara kepalanya sedikit menunduk seperti mengamati benda yang sedang dipegangnya. Pakaian dan rambutnya tertata rapi. Rambut sepinggangnya yang hitam bergelombang itu dikuncir dua dengan pita. Manis sekali. Jelas bertentangan dengan penampilanku yang kusut berantakan.

“Hai …” sapaku tak begitu yakin.

Tidak ada sahutan. Perlahan, aku berjalan mendekatinya. Saat aku sudah di dekatnya, ragu-ragu kusentuh bahunya.

“Ahahahahaha ….” Tiba-tiba saja, Himawari membalik badannya sambil tertawa-tawa. Gerakannya begitu cepat hingga nyaris aku terlompat ke belakang karena terkejut. Tangannya menunjuk-nunjuk mukaku yang masih bingung akibat ulahnya barusan.

“Hahaha … hahaha …. Maaf, ya? Aku tertawa terus ….” Himawari masih terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. “Hahaha ….” Dia kembali tergelak dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dengan kelelahan.

Akhirnya, tawanya reda juga. Dia menyusut air yang menyembul di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. Sekarang, dia tersenyum lembut padaku.

“Nah, Yukiko, aku sudah datang, kan?” Dia kembali berdiri dengan semangat. “Ayo kita bermain di kebunmu!”

Kemudian, tanpa menunggu jawaban dariku, Himawari langsung berjalan terlebih dahulu ke halaman samping di mana ibu menanam bunga matahari.

Sebelum menyusulnya, aku sempat melihat ke arah meja yang tadi sepertinya diamati oleh Himawari. Di situ terdapat foto keluargaku. Ada aku dipeluk kakak perempuanku. Di sisiku berdiri kakak laki-lakiku. Sementara ayah dan ibu berdiri di belakang kami sambil memegangi pundak anak-anaknya. Kami semua tersenyum bahagia, kecuali kakak laki-lakiku yang ekspresinya cenderung datar dan sulit dibedakan antara ketika dia senang atau sedang sedih. Tak bisa kupungkiri, peristiwa barusan memancing rasa ingin tahuku terhadap Himawari.

Bergegas aku menyusul Himawari di kebun samping. Di sana aku melihat dia sedang berjalan dari satu pohon bunga matahari ke pohon bunga matahari yang lain. Di setiap bunga dia berhenti, mengamati sebentar, kemudian menggumamkan sesuatu. Entah apa yang dikatakannya.

“Yukiko …” panggilnya. Ternyata, dia sudah menyadari keberadaanku meskipun belum sepatah kata pun kuucapkan. “Bunga matahari indah sekali, ya? Aku sangat menyukainya. Seperti namaku, kan? Hihihi ….” Dia cekikikan.

“Kalau mau, kau juga bisa menanamnya.” Entah bagaimana, tiba-tiba aku mendapati diriku mengucapkan hal itu.

“Benarkah?” Himawari menatapku dengan mata berbinar-binar. “Kalau begitu, bagus sekali. Nanti, kalau aku sudah mempunyai kebun bunga matahari sendiri, kita bisa berganti-ganti tempat bermain. Hari ini bermain di kebunmu, besoknya di kebunku, lalu di kebunmu lagi, dan seterusnya. Ureshii da yo (Mengasyikkan)!”

“Sudahlah, jangan banyak bicara. Sekarang, kita cari biji bunga yang sudah kering sebagai benih.”

“Iya, iya!” Himawari menyahut dengan anggukan penuh semangat.

Aku dan Himawari mulai berkeliling mencari bunga yang sudah kering.

“Yukiko, bagaimana kalau yang ini?” tunjuknya pada salah satu bunga.

Aku mendekat untuk memeriksa bunga yang dimaksudkannya. “Hmm … masih belum kering benar.”

“Ah … tidak apa-apa, kan? Aku mau yang ini …” Himawari mulai merajuk.

“Nanti tidak bisa tumbuh,” jelasku.

Sou desu ka (Oh, begitu)?” tanyanya dengan bibir membulat.

Aku pun melangkah melanjutkan mencari bunga yang sudah kering. Hmm … sepertinya yang ini sudah benar-benar kering.

“Sudah dapat bunganya, ya?” Tiba-tiba, Himawari sudah berdiri di sampingku.

“Iya,” aku mengangguk. “Sebentar, ya? Aku mau mengambil beberapa peralatan.”

Himawari mengiyakan. Aku lalu meninggalkannya untuk mengambil cangkul kecil dan pisau. Dengan pisau itu aku memotong bunga yang sudah kering. Kemudian, bersama Himawari aku menuju rumahnya. Kami akan menanam bunga matahari di halaman belakang rumah.

“Tanah di sini sudah lama tidak ditanami sehingga kesuburannya berkurang. Karena itu, harus dicangkul terlebih dahulu,” aku menjelaskan sewaktu Himawari menanyakan alasanku mencangkuli tanah.

Setelah tanah dicangkul dan dibasahi, biji bunga matahari disemai, kemudian ditutupi lagi dengan tanah, baru disiram. Setelah semua selesai, aku mengempaskan tubuh di atas tanah. Himawari ikut duduk di sampingku.

“Melelahkan juga, tapi aku senang. Sebentar lagi, aku juga akan mempunyai kebun bunga matahari seperti Yukiko …” Himawari berbicara sambil tersenyum menatap tanah yang masih basah di mana kami baru saja menanam bunga matahari.

“Rumahmu sepi sekali,” kataku.

“Iya,” sahutnya singkat, tidak seperti biasanya. Tiba-tiba saja, dia menjadi lebih pendiam.

“Kalau begitu, aku pulang dulu,” pamitku seraya mengambil cangkul.

“Hmm …” dia hanya bergumam. “Terima kasih, ya, Yukiko …” ucapnya sungguh-sungguh.

Sejenak, aku terpaku. Aku menatapnya tak habis pikir. Dia kenapa, ya? Rasa-rasanya sikapnya berubah. Dia benar-benar aneh .

Aku mengangkat bahu, lalu mulai berjalan menjauhi Himawari yang masih duduk di atas tanah.

“Oh, iya.” Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. “Sampai jumpa,” salamku sebelum benar-benar meninggalkannya. Namun, tidak ada jawaban dari Himawari. Kurasa, dia tidak mendengarku. Dia memang aneh .

%%%

            “Yukiko!!!” suara Himawari yang sudah sangat kukenal berseru kencang sekali.

Mau tak mau, aku membuka pintu meskipun masih dengan malas. “Kenapa pagi-pagi begini sudah berteriak-teriak?”

“Yukiko, Yukiko, aku senang sekali!” dia mengguncang-guncang kedua bahuku. Wajahnya sumringah. Tidak seperti aku yang baru bangun tidur dan masih mengantuk.

Dou narimashita ka (Ada apa)?”

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Himawari langsung menarik tanganku. Masih dengan mengenakan piyama, aku menyeret kaki mengikuti langkah-langkah cepatnya yang bersemangat. Dan … tibalah kami di halaman belakang rumahnya.

“Yukiko, lihat! Beberapa tunasnya sudah mulai tumbuh …” ujarnya dengan mata berbinar. Bibirnya tak henti-henti mengulas senyum.

“Oh, ini ….” Aku hampir berbalik kembali ke rumah, tapi Himawari menahanku.

“Jangan pulang dulu! Hari ini aku mengundang Yukiko, Kak Kaori, Kak Shosuke, juga paman dan bibi untuk makan pagi di sini.”

“Apa?” tanyaku seperti bermimpi.

Himawari tidak menghiraukanku. Dia langsung menuju rumahku dan memboyong seluruh anggota keluargaku ke rumahnya. Berenam kami makan pagi bersama, bercerita tentang bermacam-macam hal, bercanda, bahkan mencuci piring bersama. Kebetulan, itu adalah hari Minggu sehingga kami semua libur.

“Aduh, Bibi, Paman, Kak Kaori, Kak Shosuke, Yukiko … tidak usah dibersihkan. Aduh, bagaimana ini?”

Aku dan kakak-kakakku, juga kedua orangtuaku cekikikan melihat Himawari yang kebingungan. Dia berusaha mencegah kami membersihkan rumahnya.

“Sudahlah, Himawari, kami biasa melakukan ini …” ayah memberitahunya.

“Benar. Himawari, tolong bantu aku mengangkat ini!” Kak Kaori malah melibatkan Himawari pada kerja bakti pagi itu. Himawari pun mulai menikmati pekerjaan bersama-sama ini dan tidak lagi berusaha menghalangi kami.

Saat matahari sudah tinggi, keluargaku pun pamit pulang. Aku tetap tinggal.

“Himawari, terima kasih, ya?”

Dia hanya tertawa menanggapi ucapanku. “Aku yang seharusnya berterima kasih ….”

Aku tersenyum mendengarnya. “Kenapa rumahmu sangat sepi?” tanyaku.

Perlahan, tawa Himawari mereda. Dia menumpukan dagu pada lututnya yang ditekuk. “Ayah dan ibuku jarang di rumah. Katanya, mereka sedang mengurus hal-hal yang sangat penting.”

Daiji na koto (Hal yang sangat penting)?” tanyaku ingin tahu.

Himawari mengangguk. “Benar. Bahkan, lebih penting dariku!” tandasnya.

“Benarkah? Memangnya, apa yang sedang diurus oleh ayah dan ibumu?” aku semakin penasaran.

“Pekerjaan dan bisnis.” Himawari menjawab singkat dan lugas.

“Hah?! Mana mungkin? Orangtua bekerja, kan, untuk anak-anak dan keluarga. Lalu, apa gunanya bekerja kalau tidak bisa menikmatinya bersama keluarga?” ungkapku begitu saja.

Himawari mengangkat bahunya. Lalu tiba-tiba, dia menoleh ke arahku. Dia menatapku lama sekali, seolah ingin menelanku. Sepasang alisnya bertaut dan dahinya sedikit berkerut.

“A, ada apa?” tanyaku agak gugup.

“Kau benar, Yukiko. Kenapa orangtuaku yang orang dewasa itu tidak bisa berpikir begitu, ya? Padahal, Yukiko yang masih kelas 6 SD saja mengerti.” Dia menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak habis pikir dengan orangtuanya. “Aku ini anak tunggal. Jadi, aku tidak memiliki saudara untuk diajak bermain,” tuturnya.

Pantas, dia sering sekali mengajakku bermain .

“Jangan khawatir. Kau, kan, masih punya teman,” aku mencoba menghiburnya.

Himawari menggeleng-geleng. “Sejak kecil, aku selalu berpindah-pindah tempat tinggal karena mengikuti orangtuaku. Aku tidak pernah memiliki teman yang tetap.”

Tiba-tiba, aku teringat ceritanya di awal perkenalan kami. Dari Naha, Miyazaki, Sapporo, Osaka, bahkan Amerika ….

Himawari meneruskan, “Bersyukur sekali saat di Tokyo ini, kami menetap lebih lama sehingga aku bisa mendapat teman yang baik seperti Yukiko ….”

“Jadi, setelah ini kau akan pindah lagi?” tanyaku mulai khawatir. Akhir-akhir ini, hubunganku dengan Himawari sudah semakin dekat.

“Mungkin. Tapi, kalau orangtuaku ingin pindah lagi, kali ini aku akan menolak ikut. Aku … sudah betah di sini. Lagi pula, sekarang, kan, aku sudah mempunyai kebun bunga matahari. Aku harus merawatnya dengan baik.”

“Tapi, kau, kan, tidak mungkin tinggal sendirian?”

“Kenapa tidak? Sekarang pun aku sama saja dengan tinggal sendirian. Orangtuaku hampir tidak pernah di rumah. Hanya ada pelayan yang datang setiap pagi untuk membereskan rumah. Setelah itu, dia pergi lagi. Dan aku kembali sendirian ….”

Aku menangkap adanya kegetiran dalam kata-kata yang diucapkan oleh Himawari. Aku pun terdiam.

“Ah … sudahlah. Yang penting, kan, sekarang kita masih bisa bersama-sama …” kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya dan tersenyum semanis mungkin.

Sebentar kemudian, senyum Himawari kembali muncul. Aku ikut lega melihatnya.

%%%

            Apa yang dialami Himawari membuatku lebih bersyukur serta menghargai keluarga dan teman-teman yang kumiliki. Walaupun keluargaku tidak sekaya keluarga Himawari, kami tetap hidup berkecukupan. Dan yang pasti, kebutuhan kami akan kasih sayang pun terpenuhi.

Sejak saat itu, aku berusaha menjadi teman yang lebih baik bagi Himawari. Meskipun dia terlihat selalu ceria dan bersemangat, sebenarnya dalam hatinya dia menyimpan kepedihan dan kekecewaan. Sesungguhnya, dia kesepian dan haus akan kasih sayang dari orangtuanya. Hanya, dia memang tidak pernah menunjukkan hal itu dan selalu berusaha menikmati hidupnya.

Karena itu, pada hari ulang tahunnya, aku sengaja mengundang Himawari ke rumahku. Sampai di rumah, ayah, ibu, serta kakak-kakakku sudah bersiap menyambutnya dengan kejutan yang telah kami rencanakan.

O-tanjoubi omedetou gozaimasu (Selamat ulang tahun)!” kami berseru bersama, tepat ketika Himawari memasuki rumahku.

Saat itulah, pertama kalinya aku melihat mata bening Himawari berkaca-kaca. Dia hanya berdiri terpaku di ambang pintu.

Kak Shosuke menghampirinya. “Hai, Anak Kecil, ini bukan saatnya untuk menangis.” Ditepuknya bahu Himawari dan dibimbingnya memasuki rumah. Kak Shosuke menyuruhnya meniup lilin di atas kue buatan ibu dan Kak Kaori.

“Aku … senang sekali …. Sebelumnya … aku tidak pernah merayakan ulang tahunku … seperti ini …” ucapnya terbata-bata.

Menurut Himawari, ayah dan ibunya hanya meninggalkan hadiah dan kartu ulang tahun serta sepiring tart besar. Tart itu sudah dibagi-bagikannya kepada teman-teman di sekolah tadi.

“Padahal, yang kuinginkan bukan hadiah, melainkan kehadiran mereka ….” Dia menyeka air mata yang menuruni pipinya. Perlahan, bibirnya melengkungkan senyuman. “Tapi, hari ini aku senang sekali. Terima kasih, Paman, Bibi, Kak Shosuke, Kak Kaori …, juga Yukiko. Terima kasih ….” Himawari membungkuk berulang-ulang.

“Eh, sudah …. Ayo, tiup lilinnya …” ibu berkata lembut.

Himawari mengangguk, lalu mulai meniup lilin. Kami pun bertepuk tangan saat semua lilin telah padam.

“Aku ingin seperti bunga matahari karena satu bunga matahari bisa menghasilkan banyak biji yang tiap-tiap bijinya dapat tumbuh menjadi bunga matahari yang baru. Aku ingin seperti itu sehingga aku bisa memiliki banyak teman. Dan aku tidak akan sendirian lagi,” ungkapnya seraya tersenyum sampai matanya yang sipit itu semakin tipis.

Ya, aku pun berharap demikian. Kuharap, Himawari tetap tegar dan ceria, seperti bunga matahari, sesuai dengan namanya.

%%%

Advertisements

23 thoughts on “Seperti Bunga Matahari

  1. Aku pertama kali baca tulisan, oneesan. Awesome banget 🙂
    Suka cara penulisannya, mengalir gtu aja.
    Oneesan, penulis kah? Maaf, kalau pertanyaannya agak konyol. hehehe

  2. Assalamualaikum senpai…
    Bikin novel baru lagi yaa..
    Novel senpai yg kemarin yg akatsuki bagus sekali..
    Gara2 akatsuki aku jd suka Baca novel..hahaha..
    D tunggu ya novel barunyaa

  3. Assalamualaikum kak
    bikin novel baru lagi ya kak, kalo bisa sih yang bertema jepang juga 😀 habisnya novel kakak yang akatsuki menyentuh bgt apalagi ada keislamannya juga dan ga ketinggalan ROMANTIS 🙂 ditunggu ya kak, novel selanjutnya 😉

  4. assalamu’alaikum. kakak salam kenal, makasih yaa kak udah bikin novel akatsuki, menginspirasi banget kak jadi makin pengen deket sama Allah..:) novel Hankachi bisa pesen ke kakak??

  5. Gak apa2lah kak, pengen punya novel kakak yg ada tanda tangan kalau perlu tulisan tangan kakaknya hehe

    boleh yaa kak aku pesen novelnya ke kakak??

  6. Assalamu Alaikum. Ini kak Author Akatsuki? Asli? Yaampun… Oneesan, dulu sy sering denger temen saya cerita ttg Akatsuki. Ketika bercerita, teman sy sangat antusias. Saya jadi penasaran. Baru-baru ini sy sudah membaca Akatsuki dan sampai sekarang sy masih selalu kepikiran. Terlalu syahdu dan sulit dilupakan. Aku jatuh cinta sama karya kakak. Novel selanjutnya ditunggu ya kak. 🙂 ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s