A Single Flower

Kimi wa marude hikage ni saita hana no you

            Nozonda hazu ja nakatta basho ni

            Ne wo harasete ugokezu ni irunda ne

 

Kau seperti bunga yang mekar di tempat teduh

            Walaupun berada di tempat yang tidak kau inginkan

            Kau tidak dapat bergerak memindahkan akarmu

 

Brrr!

Aku mengibas-ngibaskan kelopakku yang penuh embun. Udara pagi di awal musim semi ini cukup dingin, namun menyegarkan. Mahkotaku yang masih kuncup ikut menggeliat-geliat, mencoba menikmati kesejukan di pagi hari. Mungkin dalam beberapa hari mereka akan siap untuk mekar dengan sempurna dan turut meramaikan suasana musim semi. Hmm … musim semi yang indah. Aku merindukan hangatnya cahaya matahari.

“Selamat pagi, Aibara …” Hana, seorang remaja delapan belas tahun, menyapaku.

Selamat pagi …, balasku menjawab salamnya.

“Na … na … na …” dia mulai bersenandung pelan sambil menyiramkan butiran-butiran air yang lembut ke tubuhku. Wah, segarnya! Hana tertawa riang melihatku bergoyang-goyang bersama siraman airnya.

Hana masih muda. Ya, dia masih sangat muda. Dia tinggal berdua saja dengan kakak laki-lakinya yang cacat. Kakinya lumpuh akibat sebuah kecelakaan mobil. Kecelakaan itu pula yang merenggut nyawa kedua orangtua mereka. Entah bagaimana Hana berhasil selamat hanya dengan beberapa luka lecet.

“Aku ingat, malam itu Kak Seiji mendorongku keluar sebelum mobil kami jatuh ke jurang. Kak Seiji tidak memikirkan keselamatan dirinya, malah menyelamatkanku,” tuturnya suatu ketika padaku.

Sekarang, di usianya yang masih sangat muda itu, Hana harus menanggung beban hidup keluarga. Aku tahu sepagi ini dia sudah menyelesaikan tugasnya mengantar susu dan koran.

“Tahu, tidak? Tadi aku dikejar-kejar anjing. Sampai-sampai ada susu dan koran yang belum kuantarkan. Aku jadi harus kembali lagi setelah anjing itu pergi. Hufff … merepotkan sekali, ya, Aibara? Tapi, aku jadi bisa sekalian olahraga …” ujarnya seraya tertawa.

Aku ikut tersenyum mendengarnya. Hana memang selalu menyempatkan untuk duduk-duduk sejenak dan berbagi cerita denganku setiap kali selesai menyiramiku. Aku senang mendengar kisah-kisahnya. Dia selalu berusaha menikmati setiap kejadian yang dialaminya.

“Sudah dulu, ya, Aibara? Setelah ini, masih banyak yang harus kukerjakan. Semangat!” dia berseru sambil mengacungkan tinju kecilnya. Bibirnya mengukir senyuman yang sangat manis. “Sampai jumpa!” Hana melambai padaku sebelum kembali memasuki rumahnya.

Sampai jumpa, Hana ….

Beberapa saat kemudian, terdengar suara-suara dari dalam rumah. Itu tentu bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh Hana saat mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan entah apa lagi. Sebenarnya, aku ingin sekali membantunya. Namun, yang dapat kulakukan hanya mengawasinya dari jendela sambil berusaha memberikan dorongan semangat.

Usai dengan seluruh pekerjaannya, Hana akan pergi ke Warung Ramen Miyamoto. Setiap hari Senin sampai Jumat, dia bekerja sebagai salah seorang pelayan di sana. Sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu dia bekerja sebagai penjaga toko di salah satu toko serba ada. Biasanya, dia sampai di rumah saat hari sudah gelap. Sementara besoknya pagi-pagi sekali dia harus sudah bangun untuk mengantar susu dan koran. Benar-benar kehidupan yang berat untuk dijalani gadis seumurannya. Namun demikian, wajah Hana tidak pernah menampakkan gurat keletihan. Dia sedikit mengeluh, dan selalu tampak ceria dengan senyum polosnya.

Sementara kakaknya? Aku tidak begitu memahami sosok yang satu ini. Namanya Seiji. Dia orang yang pendiam. Ekspresinya cenderung datar dan biasa-biasa saja. Orang akan sulit menentukan sikap jika sedang bersamanya karena raut wajahnya hampir tidak pernah berubah dan sama sekali tidak menggambarkan suasana hatinya. Sungguh berbeda dengan adiknya yang ekspresif.

Sejak kecelakaan itu, dia menjadi lebih pendiam. Gurauan dan cerita-cerita dari Hana tidak sanggup lagi mengusiknya. Sikapnya semakin dingin dan tidak peduli. Dia menyibukkan dirinya di kamar. Entah apa yang dilakukannya.

Kalau Hana sedang tidak di rumah, Seiji akan menggerakkan kursi rodanya ke dekatku. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Dia menggambar. Aku memang senang melihat gambar-gambarnya yang terkesan hidup, tapi aku tidak tahan dengan sikapnya yang dingin itu. Dia tidak pernah mengajakku bicara seperti Hana. Melihatnya seperti itu, membuatku bergidik. Bagiku, hujan salju masih lebih baik daripada menghadapi orang seperti dia. Seiji itu ibarat bom waktu yang bisa meledak setiap saat, tak seorang pun tahu kapan tepatnya.

%%%

            Tojikaketa kimochi haki daseba

(Keluarkanlah segala perasaan yang kau tutupi)

 

Aku meregangkan tubuh di pagi yang cerah ini. Wah, mahkotaku mulai sedikit membuka. Hmm ….

Hana mana, ya? Tumben dia belum menemuiku.

“Aku benci kau!” terdengar suara teriakan dari dalam rumah yang membuatku terkejut bukan main.

Bukankah tadi itu suara Seiji? Kenapa dia berteriak-teriak begitu di pagi yang tenang ini? Lalu, apa maksud perkataannya tadi? Tidak mungkin yang dimaksudkannya adalah …. Itu tidak mungkin …!

Beberapa saat kemudian, Hana tampak menuju pekarangan rumah dengan lemas. Pelan-pelan, dia berjalan menghampiriku dan duduk di dekatku.

Hana, ada apa? tanyaku.

“Hai, Aibara. Selamat pagi …” dia tersenyum padaku, lalu kembali menunduk. “Apa menurutmu, Kak Seiji benar-benar membenciku?” tanyanya lambat-lambat.

Aku tersentak mendengarnya.

“Aku ingin tidak mempercayai hal itu karena Kak Seiji telah menyelamatkanku dalam kecelakaan malam itu.”

Aku mengangguk-angguk setuju.

“Tapi, tadi dia mengatakan sendiri kalau dia membenciku.” Sebutir air bening menuruni pipinya. Dengan cepat dia menyekanya menggunakan jari-jarinya. “Aku ini memang menyebalkan. Aku suka makan, banyak tidur, dan banyak bicara. Aku egois, suka semaunya sendiri. Aku sering meninggalkan rumah sampai tidak pernah mempedulikan Kak Seiji. Aku egois. Bisanya main-main saja ….” Hana mulai terisak-isak sambil menyembunyikan wajahnya.

Hana … kau, kan, tidak main-main. Kau sudah bekerja keras. Seiji tidak mungkin membencimu. Kau harus percaya itu. Aku mencoba menghiburnya, tapi Hana malah semakin tersedu.

Kurasa, aku cukup mengerti dengan apa yang dialami Seiji. Mungkin dia merasa bersalah karena tidak dapat membantu Hana dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mungkin dia malu karena hanya bisa menggantungkan hidup pada adiknya yang seorang perempuan. Padahal dia adalah kakak yang seharusnya mengayomi, seorang laki-laki yang seharusnya melindungi. Ya, benar. Mungkin dia merasa tidak berarti.

Aku menatap Hana prihatin. Tangisnya mulai reda, tapi dia masih sesenggukan. Dia mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya.

“Rasanya lega sekali setelah menangis. Aku merasa lebih baik sekarang.” Senyumnya kembali terbit. “Aku baru sadar, tadi Kak Seiji pasti hanya bercanda. Dia memang suka berlebihan kalau bercanda ….” Hana tertawa kecil. “Oh, iya. Sampai lupa, Aibara. Aku belum menyirammu.” Buru-buru Hana bangkit dan mengambil air.

Hana …. Aku tidak tahu harus berkata apa.

%%%

            “Aku pulang ….”

Aku mendengar suara kedatangan Hana saat hari sudah gelap. Syukurlah, dia sudah pulang.

Beberapa saat tidak terdengar suara. Mungkin Hana sudah tidur. Dia memang cepat sekali tertidur, tapi itu wajar mengingat aktivitas kesehariannya yang begitu melelahkan.

Ternyata, dugaanku salah karena tiba-tiba ….

“Kakak … Kakak kenapa? Ada apa, Kak? Kakak! Kak Seiji! Tolong! Tolong aku!”

Hana menjerit-jerit. Ada apa sebenarnya? Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar Seiji karena jendelanya tertutup tirai sehingga menghalangi pandanganku.

Kebingunganku terjawab tak lama kemudian. Suara sirine meraung-raung. Itu mobil ambulans. Siapa yang sakit?

Aku melihat para petugas rumah sakit memasuki rumah, lalu keluar lagi dengan menggotong sebuah tandu. Di atasnya terbaring … Seiji. Kemeja putihnya telah berubah merah oleh darah, semerah mahkotaku yang sebagian mulai mekar. Tampak Hana berlari-lari mengikutinya ke ambulans. Wajahnya pucat, mata dan hidungnya memerah akibat tangis. Air mata menderas mengaliri pipinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Seiji?

Dia menusuk perutnya sendiri, angin memberitahuku.

Apa?! Jadi, Seiji mencoba bunuh diri? Keterlaluan sekali! Lagi-lagi, dia membuat Hana menangis. Tidak tahukah dia kalau Hana sangat menyayanginya? Kenapa dia malah melakukan tindakan bodoh itu? Seiji bodoh! Bodoh! Bodoh!!!

Aku geram sekali begitu mengetahui perbuatan Seiji. Rasanya ingin aku berteriak keras-keras dan memaki-makinya. Seharusnya dia tahu bahwa setiap nyawa itu ada batasnya. Dia tidak perlu mengakhirinya dengan cara seperti ini. Yang perlu dia lakukan adalah memanfaatkan kesempatan hidupnya sebaik mungkin dengan melakukan hal-hal yang berguna. Tidak mengertikah dia akan hal itu?

Entahlah. Jalan pikiran manusia memang rumit. Bagaimanapun, Seiji hanyalah salah satu contoh orang yang ingin bunuh diri. Di Jepang masih banyak orang yang ingin bunuh diri karena stres akibat persaingan yang terlalu ketat. Kalau begitu, untuk apa mereka bekerja keras siang dan malam, sampai tak ada waktu yang cukup untuk beristirahat, jika semua harus berakhir dengan bunuh diri? Apa yang sebenarnya mereka cari?

Memikirkan semua itu membuatku semakin tidak mengerti. Kenapa dengan segala kemajuan terknologi dan ilmu pengetahuannya, orang Jepang justru banyak yang ingin bunuh diri? Kenapa manusia, yang telah dianugerahi akal untuk berpikir, bisa bertindak sedemikian bodoh? Tidak bisakah mereka belajar dari seorang gadis bernama Hana, yang selalu berjuang demi orang yang disayanginya, yang menyikapi kehidupan ini secara sederhana, dan memandang segala sesuatu dengan cara yang positif dan menyenangkan?

Ah, Hana. Bagaimana keadaannya sekarang? Aku harap dia baik-baik saja. Semoga nyawa Seiji berhasil diselamatkan. Diam-diam aku berdoa untuk mereka.

Hana tidak boleh bersedih lagi. Dia harus yakin bahwa dirinya tidaklah sendirian.

 

Itami mo kurushimi mo subete wo uketomeru yo

            Dakara nakanaide

            Waratte ite ichirin no hana

 

Aku akan menerima semua luka dan penderitaanmu

            Karena itu, jangan menangis

            Tertawalah, sekuntum bunga

%%%

            Semenjak Seiji dirawat di rumah sakit, Hana terlihat makin sibuk. Dia bangun lebih pagi dari biasanya untuk membereskan rumah. Katanya, supaya dia bisa menjenguk Seiji terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Pulang ke rumah pun makin larut. Aku sering mendapati Hana tertidur di kursi. Ah, andai aku bisa. Aku ingin menyelimutinya. Tapi, aku hanya bisa menatapnya dari pekarangan di samping rumah ini, tempat akarku menancap dengan kuat.

Seiji, andaikan kau bisa melihat semua ini. Selama ini kau merasa telah menjadi beban bagi adikmu. Karena itu, kau berpikir bahwa lebih baik mengakhiri hidupmu agar tidak merepotkan Hana lagi. Tapi, apa yang kau lakukan sekarang? Lihatlah, kau justru membuatnya semakin menderita akibat ulah bodohmu!

Kini aku merasa ada yang berubah pada diri Hana. Dia memang masih menyiramku dengan teratur. Sekali-kali dia juga masih menceritakan kejadian-kejadian lucu dan berkesan yang dialaminya. Tapi, aku tetap merasa ada yang kurang. Ada yang lain dan berbeda. Tapi apa?

Oh, benar juga. Aku sadar sekarang bahwa sesuatu yang hilang itu adalah senyum manisnya yang meneduhkan itu. Dia memang masih tersenyum padaku, tapi itu adalah senyum yang menyiratkan keletihan, juga kepedihan. Keceriaannya lenyap entah ke mana. Aku pun jadi lemas melihatnya.

Aku bisa mengerti. Hana pasti kelelahan. Dia hanya seorang gadis muda. Dia masih sangat muda, tapi harus menanggung beban yang amat berat.

Belakangan ini, Hana tampak semakin tidak baik. Tubuh kurusnya semakin kurus, wajahnya pucat, matanya cekung dan ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Hana … aku tidak tega melihatnya.

Aku rindu pada sikapnya yang polos. Aku berharap, kerasnya hidup tidak akan menggilas keceriaannya yang murni. Semoga kebahagiaan itu tidak terenggut darinya.

 

Ima ni mo karete shimai sou na

            Kimi no mujaki na sugata ga mou ichido mitakute

 

Kini saat kau tampak hampir layu

            Aku ingin melihat sosokmu yang polos sekali lagi

%%%

            Sore ini Seiji sudah kembali pulang. Aku bisa melihat kedatangannya bersama Hana. Anehnya, mereka tidak langsung masuk rumah, malah menghampiriku.

Seiji menghentikan kursi rodanya di dekatku. Matanya menatapku dingin. Hiiiyy! Andai aku dapat memindahkan akarku, pasti aku sudah berlari jauh-jauh darinya. Perlahan, Seiji menggerakkan tangannya untuk menyentuh mahkotaku yang sudah mekar seluruhnya.

“Hana ….”

“Mulai hari ini, aku tidak akan bekerja di toko lagi.” Hana memutus perkataan kakaknya. “Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kakak. Aku … kangen sekali pada Kakak …” lanjutnya seraya tersenyum. “Boleh, kan, Kak?” tanya Hana meminta persetujuan.

Seiji diam cukup lama sebelum menjawab. “Sebenarnya, itu juga yang kuinginkan,” ucap Seiji tenang. “Kau ingat dengan Paman Aoyama?” tanyanya pada Hana.

“Paman Aoyama …” Hana mengerutkan keningnya, tampak mengingat-ingat. “Paman Aoyama yang kita temui di rumah sakit itu? Yang putranya dirawat di bilik di samping tempat tidur Kakak itu, kan?”

“Benar.”

“Aku ingat. Memangnya kenapa?”

“Saat di rumah sakit, Paman Aoyama melihatku menggambar. Katanya, gambarku bagus dan beliau tertarik untuk mempublikasikannya. Ternyata, beliau bekerja sebagai salah satu editor di sebuah majalah manga. Setelah aku diperbolehkan pulang, beliau berjanji akan mengunjungiku sekaligus untuk melihat gambar-gambarku yang lain.”

“Wah, Kakak hebat sekali …” puji Hana tulus.

“Malam ini juga aku akan merapikan gambar-gambar yang sudah pernah kubuat. Aku juga akan segera menyelesaikan komikku yang baru.”

“Kakak, jangan bekerja terlalu keras. Kakak, kan, baru sembuh ….”

“Ini bukan apa-apa …” ucap Seiji pelan. “Kau menjalani kehidupan yang lebih berat dariku.” Kepalanya tunduk. “Aku minta maaf ….”

Hana terdiam. Kenapa dia? Aku yakin Hana pasti mau memaafkan Seiji. Memang, aku sendiri amat menyesalkan tindakan Seiji untuk mengakhiri hidup, tapi yang terpenting sekarang, Seiji selamat dan dia menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Selain itu, masuknya Seiji ke rumah sakit telah membawa berkah tersendiri. Pertemuannya dengan editor majalah manga membuat gambar-gambarnya dilirik untuk dipublikasikan. Itu berarti, meringankan beban yang selama ini ditanggung Hana sendirian serta mengembalikan rasa percaya diri Seiji. Satu lagi hikmah di balik peristiwa ini, yaitu hubungan Hana dengan kakaknya menjadi akrab kembali. Ternyata benar bahwa sesudah kesulitan, tentu ada kemudahan.

Aku merasa senang dengan pemikiranku sebelum tiba-tiba ….

“Aku tidak mau memaafkan Kakak!” Hana cemberut.

A, apa?! Aku benar-benar terkejut.

“Hana ….” Seiji mengangkat kepalanya. “Aku tahu aku salah. Aku memalukan. Tapi, tolong maafkan aku. Izinkan aku memperbaiki diri.”

Bukannya memaafkan, Hana malah makin mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah. Katakan padaku apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku.”

Hana, maafkanlah dia ….

Tiba-tiba, Hana tersenyum lebar. “Kakak harus berjanji tidak akan memaksakan diri dalam bekerja.”

Seiji mengangkat alisnya sesaat, kemudian tersenyum lega seraya mengangguk.

Hufff … aku ikut lega mendengarnya.

“Satu lagi!” lanjut Hana. “Kakak harus mengizinkanku untuk membantu merapikan dan menata gambar-gambar Kakak.”

“Jangan, kau perlu istirahat.”

“Tidak apa-apa. Itu, kan, bukan pekerjaan berat.”

“Tapi ….”

“Kakak menggambar saja yang serius. Biar aku yang merapikan gambar-gambar yang sudah Kakak buat dari dulu. Tinggal diurutkan saja, kan?”

“Hana ….”

“Sudah, pokoknya aku mau bantu!” Hana tetap ngotot.

Dasar Hana! Seiji pun akhirnya harus mengalah pada adiknya yang keras kepala itu.

“Ya, baiklah.”

“Horeee!!!” Hana melompat dan berseru senang. “Tapi, sebelum itu, aku menyiram Aibara dulu, ya, Kak? Wah, bunganya sudah mekar. Indah sekali ….”

“Aibara?” kening Seiji berkernyit.

Hana tersenyum mengangguk-angguk. Manis sekali. Hana yang ceria telah kembali dan aku sangat bahagia melihatnya.

Tahu alasan Hana memanggilku Aibara? Ah, sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Bara (bunga mawar). Menurut Hana, aku adalah bunga mawar yang penuh cinta karena yang menanamku dulu adalah ibunya, seorang wanita yang penuh kasih sayang. Karena itu, Hana memanggilku Aibara, mawar cinta.

Bagiku, Hana pun adalah bunga, sesuai dengan namanya. Dia seperti sekuntum bunga. Indah, juga tegar, dan menciptakan kegembiraan.

 

Kimi no chikara ni naritainda

            Makenaide ichirin no hana

 

Aku ingin menjadi kekuatan bagimu

            Jadi, jangan menyerah, sekuntum bunga

%%%

Seluruh lirik diambil dari lagu Ichirin no Hana (Sekuntum Bunga), 3rd Opening Song anime Bleach yang dinyanyikan oleh High and Mighty Color.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s