Sora at the Sky

Musim semi. Kelas 3-A SMA Yanagi, Tokyo. Awal tahun ajaran baru.

“Kenalkan, namaku Aoyama Sora.” Gadis itu membungkuk sopan.

Pemuda yang duduk di hadapannya hanya diam tidak menanggapi. Tatapannya tetap terfokus pada buku yang sedang dibacanya. Tidak sedikit pun si pemuda mengacuhkan gadis yang mengaku bernama Sora itu.

“Siapa namamu?” tanya Sora sambil sedikit menunduk untuk mengamati wajah di depannya yang tanpa ekspresi. “Hai ….” Sora mengayun-ayunkan tangannya di dekat wajah pemuda itu, tetapi tetap tidak ada reaksi.

DUK!

Sora menendang kakinya. “Hei! Aku berbicara padamu. Aku, kan, sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliranmu!” Kali ini Sora bersuara lebih keras.

Pemuda itu masih juga bungkam.

“Uuuh!” Sora mulai kesal. Dia membentuk corong dengan kedua tangannya lalu berteriak keras-keras di dekat telinga si pemuda. “AAAAA!!!”

Kontan saja pemuda itu menutupkan tangan ke kedua telinganya. Suara Sora benar-benar melengking tajam. Begitu Sora menghentikan teriakannya, barulah si pemuda membuka kupingnya.

“Di sini berisik sekali,” ujarnya pelan seraya bangkit dari duduknya. Kemudian dengan tidak peduli, dia berlalu dalam langkah-langkah yang tenang, seolah terlepas dari keributan di sekitarnya. Bahkan teriakan-teriakan Sora seakan tidak mengusiknya sama sekali.

“HEI!” Sora berteriak sekencang-kencangnya. “Bersikaplah yang sopan! Kau murid pindahan di sini. Hei, tunggu!”

Sora masih terus berteriak-teriak sambil melompat-lompat dan mengacung-acungkan kedua tangannya sampai akhirnya kelelahan sendiri. Saat itulah dia sadar bahwa buku pemuda itu tertinggal di meja. Sora mencoba membuka sampulnya dan dia melihat di halaman pertama buku itu tertulis kata “sky”.

%%%

            Musim panas. Festival kembang api.

Sora sedang mencoba melempar gelang pada botol. Namun, setelah beberapa kali mencoba, lemparannya selalu meleset. Sky yang sudah sejak tadi menunggunya, mulai merasa bosan.

“Dasar payah!” Sky mendorong Sora pelan. “Sini, aku saja.” Dia merebut gelang di tangan Sora. Lalu dengan sekali lempar, gelang itu pun melingkari leher botol.

“Wah, selamat! Anda berhasil! Silakan pilih hadiah yang Anda inginkan,” kata penjaga stan permainan itu.

“Hei, Sora. Kau mau yang mana?” tanya Sky.

“A, aku?” Sora menunjuk mukanya sendiri dengan linglung.

Sky mengangguk cuek.

“Ehm …” Sora menimbang-nimbang. “Yang itu …” tunjuknya pada sebuah boneka kucing berwarna kuning lembut. Sebagian bulunya berwarna oranye.

PSIUUU! DOR! DOR! DOR!

“Pesta kembang apinya sudah dimulai!” Sora berseru senang. Setelah menerima bonekanya, dia berjalan cepat-cepat. “Sky, ayo! Aku tahu tempat yang bagus untuk melihat kembang api.”

Tempat yang dimaksud oleh Sora itu berada jauh dari keramaian. Posisinya juga lebih tinggi sehingga lebih leluasa untuk melihat kembang api tanpa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi. Untuk menuju ke sana, harus melewati tangga yang jumlah anak tangganya tidak sedikit.

“Hufff, sampai juga ….” Sora mengembuskan napas lega.

DOR! DOR! DOR!

Bunyi letusan kembang api terus menyambung bersahut-sahutan. Berbagai warna yang indah menghiasi langit malam. Warna-warna itu seperti berasal dari sebuah lubang gelap di langit, kemudian memancar dan menyebar dalam percikan warna-warni yang memenuhi udara.

“Indah sekali, ya?” komentar Sora sambil melirik wajah di sampingnya. Yang dilirik hanya diam. “Ehm … Sky, terima kasih, ya, untuk bonekanya ….”

“Kenapa kau diberi nama Sora?” tanya Sky tiba-tiba.

“Eh? Itu … kenapa, ya? Aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah menanyakannya kepada orangtuaku. Mungkin karena langit itu indah,” jawab Sora seraya tertawa kecil.

“Rasanya aneh sekali. Nama kita sama, tapi dalam bahasa yang berbeda.”

“Benar juga, ya?” Sora menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi, kenapa namamu Sky? Itu, kan, nama yang aneh untuk orang Jepang.”

“Ayahku orang Jepang, sedangkan ibuku orang Amerika.”

Sou desu ka (oh, begitu)? Lalu, apakah mereka tinggal di Amerika? Aku tidak pernah melihatnya ….”

Sky diam.

“Sky?” tegur Sora karena Sky tampak melamun.

Sky menolehnya, tampak agak terkejut. “Orangtuaku … mereka … sudah meninggal ….”

Refleks, Sora menutup mulutnya. Untuk beberapa saat lamanya, hanya diam yang mencekam dengan latar belakang bunyi kembang api.

Gomen nasai (maaf) ….” Sora menunduk. Lalu, dia kembali mengangkat wajahnya dan berusaha mengubah topik pembicaraan. “Tapi, kau terlihat seperti orang Jepang asli. Kecuali mungkin … rambutmu yang kecokelatan dan … matamu.”

Untuk sesaat, selama beberapa detik, Sora terpaku di tempatnya. Sky pun tengah menatapnya.

“Sky … aku baru sadar bahwa matamu berwarna biru ….”

Lalu tiba-tiba, Sora mencengkeram lengan Sky kuat-kuat. Tangannya yang lain memegangi pelipis hingga boneka terlepas dari genggamannya. Wajahnya tampak kesakitan. Sky yang terkejut, segera memapah tubuh Sora.

“Sora ….” Sky mulai panik.

“Tolong aku … Sky …” pinta Sora dengan suara lemah. Kemudian, dia tak sadarkan diri.

“Sora!” Sky memanggil-manggil namanya sambil menepuk-nepuk pipi Sora. “Sora! Bangun, Sora!”

%%%

            Musim gugur. Festival sekolah.

“Sky, hari ini kita akan menjadi saudara,” kata Sora.

“Kenapa aku harus menjadi saudaramu?” tanya Sky tidak terima.

“Karena aku ingin punya kakak laki-laki. Mulai hari ini, ayah dan ibuku adalah ayah dan ibunya Sky juga,” sahut Sora ceria.

“Kau ini … seenaknya sendiri.”

“Sudahlah. Ayo! Sebentar lagi pementasannya dimulai.” Sora menyeret Sky ke ruang persiapan drama sekolah. “Setelah menyaksikan penampilanku dalam paduan suara, ayah dan ibu akan menonton drama yang Kakak mainkan. Jadi, berusahalah sebaik-baiknya, ya? Jangan kecewakan mereka.”

Setelah mengatakannya, Sora langsung menghilang dari pandangan Sky.

Sky hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala, tapi sesungguhnya dia lega karena tahun ini ada orangtua yang akan secara khusus menonton pertunjukannya.

Hari itu sepulangnya dari festival sekolah, Sky diajak makan malam di rumah Sora. Ibu Sora sendiri yang menjadi kokinya. Sky pun akhirnya dapat kembali merasakan makan malam bersama yang hangat. Sora telah memberinya sebuah keluarga, setelah bertahun-tahun silam kedua orangtuanya pergi meninggalkannya untuk selamanya.

%%%

            Musim dingin. Minggu terakhir bulan Desember.

Dalam perjalanan ke tempat ini, Sky melihat beragam atribut serta hiasan Natal dan tahun baru memenuhi toko-toko dan gedung-gedung yang berderet di sepanjang jalan. Belum lagi pohon Natal di taman kota. Juga orang-orang yang sibuk berbelanja menjelang akhir tahun untuk menyambut tahun baru. Benar-benar meriah.

Namun, di sini dia harus melihat Sora terbaring tak berdaya. Tubuhnya tergolek lemah dan tidak bergerak sama sekali. Hanya irama napasnya yang menandakan eksistensinya. Denyut kehidupan ….

Sky berjalan mendekati ayah dan ibu Sora yang duduk di ruang tunggu rumah sakit. “Paman, Bibi, ada yang ingin saya tanyakan.” Sky mencoba berbicara setenang mungkin. “Ini … tentang Sora.”

%%%

            31 Desember. Sore.

“Sky, tolong, ya?”

Hampir satu jam mereka berdebat soal yang satu ini, tapi tidak ada tanda-tanda Sora mau menyerah.

“Hmm, baiklah.”

Akhirnya, Sky yang harus mengalah pada kerasnya keinginan Sora. Saking keras kepalanya Sora, Sky sampai bertanya-tanya, mungkinkah Tuhan akan menangguhkan waktu kematian Sora seandainya saat itu Sora berkeras meminta agar tetap dibiarkan hidup?

Dengan bersusah payah, Sora berhasil melarikan diri dari rumah sakit. Sampai saat naik bis, Sora masih kuat berjalan sendiri. Namun dalam perjalanan ke rumah setelah turun dari bis, Sora sudah kehabisan tenaga. Wajahnya pucat dengan titik-titik keringat menyembul di dahi dan lehernya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Sky lalu menaikkan Sora ke punggungnya.

“Maaf, ya, merepotkan …” Sora berucap lemah.

“Kau memang selalu merepotkanku. Tidak perlu minta maaf.”

Senyum tipis terukir di bibir Sora yang pucat mendengar tanggapan Sky yang masih seperti biasa. Cuek.

%%%

            31 Desember. Petang, menjelang malam.

Ayah dan ibu menyambut kedatangan Sky, dan terutama Sora, dengan penuh rasa terkejut. Reaksi mereka macam-macam. Ayah memarahi Sky, sementara ibu malah menangis. Namun, Sky tahu, semua itu dikarenakan kecemasan mereka terhadap Sora. Itu adalah refleksi cinta, kasih, dan sayang orangtua kepada anaknya.

“Ayah, Ibu, aku minta maaf. Semua ini keinginanku. Aku yang memaksa Sky untuk membantuku kabur. Ayah jangan marah lagi, ya? Ibu juga, jangan menangis. Daijoubu desu (aku baik-baik saja). Aku hanya ingin merayakan tahun baru bersama Ayah, Ibu, juga Sky ….”

Sky tertegun. Lagi-lagi Sora menyertakan dirinya, membuatnya merasa memiliki keluarga.

Malam itu mereka berempat menikmati toshikoshi soba, mi yang khusus dihidangkan menjelang tahun baru. Menurut orang Jepang, menyantap mi tersebut akan membawa keberuntungan yang lebih baik pada tahun berikutnya.

%%%

            31 Desember, 23.30 waktu Tokyo.

Saat ini Sora dan Sky sedang duduk bersisian di balkon, menunggu lonceng tahun baru berdentang.

“Sora,” panggil Sky.

Nani (apa)?”

“Kau sakit, kan?”

Iie (tidak),” jawab Sora pendek.

“Katakan padaku, Sora. Katakan dengan jujur. Kau sakit. Benar, kan?”

“Sky bicara apa?”

Sky memutar tubuh Sora dengan paksa supaya menghadapnya. “Kenapa kau berbohong? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku? Kupikir, selama ini kita adalah teman.”

“Kita memang teman,” Sora menimpali dengan senyum.

“Kalau begitu, kenapa kau menyembunyikannya dariku? Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sakit? Kenapa, Sora? Bukankah itu gunanya teman? Untuk berbagi. Bukan hanya kesenangan, tapi juga kepedihan dan rasa sakit …. Jawab aku, Sora! Kenapa kau diam saja?” Sky mengguncang-guncangkan kedua bahu Sora dengan kasar. Dia tidak peduli bahwa Sora sedang sakit. Dengan tajam dia menatap mata bening Sora yang kini mulai berkaca-kaca.

“Aku takut …” gemetar Sora berucap. “Walaupun aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, aku tetap merasa takut. Takut sekali ….” Butir-butir air mata berluncuran menuruni pipinya yang tirus.

Ini adalah pertama kalinya Sky melihat Sora menangis. Selama ini Sora selalu tersenyum dan tampak ceria. Perlahan, Sky membebaskan bahu Sora, membiarkan Sora menumpahkan tangisnya.

“Maafkan aku, Sora ….”

“Sora menderita kanker otak.” Kata-kata Pak Aoyama terngiang.

“Sora harus menjalani terapi dua kali setiap minggunya. Dia harus menelan obat-obatan untuk mencegah terjadinya serangan ….” Itu suara ibu Sora yang diselingi isak tangis.

“Kami terlambat mengetahui penyakit Sora karena dia sendiri bahkan tidak menyadari penyakitnya. Dia selalu tampak bahagia. Sora adalah gadis yang ceria ….” Kembali suara ayah Sora.

“Dokter sudah angkat tangan. Setahun lalu dokter memperkirakan Sora hanya mampu bertahan paling lama tiga bulan. Bibi bersyukur vonis dokter itu tidak benar. Sora bisa bertahan sampai sekarang.”

Sky memejamkan matanya mengingat semua itu.

“Kematian adalah sesuatu yang pasti menimpa siapa saja, tapi tak seorang pun tahu kapan tepatnya kematian itu akan datang. Mou osorenaide (jangan takut lagi) ….” Sky berbicara pelan, sementara Sora masih terisak-isak.

%%%

            1 Januari, 00.00 waktu Tokyo.

TENG! TENG! TENG!

Tsurigane (lonceng besar yang ada di kuil agama Shinto) ditabuh bertalu-talu. Bunyi merambat melalui udara. Gaungnya bergema memecah malam, menandakan ini adalah detik pertama tahun baru.

“Selamat tahun baru …” ucap Sora sembari mengusap wajahnya yang basah. Dia mencoba tersenyum.

“Selamat ulang tahun …” Sky menyahut. Ulang tahun Sora memang bertepatan dengan tahun baru.

Kali ini Sora benar-benar tersenyum. “Terima kasih ….”

“Apa keinginanmu?” tanya Sky.

“Ehm … sebenarnya, aku ingin berkeliling dunia supaya bisa melihat langit dari berbagai belahan bumi. Sekarang aku memang belum bisa mengelilingi dunia, tapi aku tetap suka melihat langit. Dari jendela kamar, jendela rumah sakit, dari balkon, atau dari atas pohon ….”

“Juga dari atap gedung sekolah,” sambung Sky.

Mendengar hal itu, Sora tertawa kecil. “Sky sudah tahu, ya? Biasanya aku melakukannya kalau sedang sedih …” ungkapnya kemudian menunduk. “Sky, sebenarnya aku punya permintaan.”

“Katakan,” ujar Sky.

“Jika aku pergi ….”

“Aku tidak ingin mendengarnya!” potong Sky cepat.

“Tunggu dulu, Sky. Dengarkan aku. Jika aku benar-benar pergi, aku ingin minta tolong. Tolong jaga ayah dan ibu, ya?” pinta Sora sungguh-sungguh.

Sky manatap Sora lama sekali. Kemudian tanpa berkata-kata, Sky menunduk mencium kening Sora. Sora tahu, Sky akan menjaga kedua orangtuanya sekalipun dia tidak memintanya. Sora kemudian merapatkan mantelnya sambil memeluk boneka kucing hadiah dari Sky pada musim panas tahun lalu.

“Aku sadar, bahwa saat aku lahir, aku tidak membawa apa-apa. Saat di dunia, banyak sekali nikmat yang kudapatkan. Kesempatan untuk hidup, kesehatan, ayah dan ibu yang menyayangiku, teman yang baik seperti Sky, udara gratis yang kuhirup setiap saat, indahnya memandang langit, hangatnya matahari …. Wah, banyak sekali, ya, Sky? Mesin tercanggih pun pasti tidak sanggup menghitungnya. Mungkin nikmat itu seluas langit. Atau mungkin, lebih luas lagi? Kalau begitu, tidak semestinya aku bersedih. Yang harus kulakukan adalah banyak bersyukur. Benar, kan, Sky?” Sora berbicara panjang lebar.

Sky hanya menggumam. Dia bahkan tidak pernah berpikir sampai ke sana. Ternyata, Sora memang seperti langit. Indah, luas kebijaksanaannya, dan tak bertepi keceriaannya. Sora mengajarinya untuk bersyukur, terutama atas nikmat-nikmat besar yang sering terlupakan, seperti nikmat usia dan kesehatan. Sora juga yang mengenalkannya pada makna sebuah keluarga.

“Sora, terima kasih, ya?” kata Sky.

“Untuk apa? Bukannya aku yang seharusnya berterima kasih?” ucap Sora.

Dan mereka pun tertawa.

Sora dan Sky masih memandang langit yang penuh bintang, menanti matahari terbit, matahari pertama tahun baru.

%%%

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Japan, Literature and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s