Secangkir Teh di Saat Senja

Kembali aku menghirup teh hangat dari cangkir mungil di tanganku. Asap lembut masih terkepul darinya. Aromanya begitu menenangkan.

Sore ini seperti biasa aku duduk-duduk di halaman belakang rumah bersama suamiku, Mas Adjie. Tak ada yang lebih nikmat bagi kami, pasangan di usia akhirlimapuluh tahunan, selain menghabiskan sore hari dengan meminum secangkir teh dan membaca-baca majalah sambil menikmati hangatnya cahaya matahari sebelum terbenam. Biasanya, kami juga bercengkerama, membahas hal-hal yang sedang ramai dibicarakan atau mengenang masa-masa muda kami dulu. Namun, hari ini kami hanya saling diam. Pikiranku tengah melayang pada peristiwa bertahun-tahun silam. Kurasa, Mas Adjie pun tengah memikirkan hal yang sama.

Hari itu, rumah kontrakan yang berada tepat di sebelah rumahku, dihuni oleh tetangga baru. Tetangga baruku itu masih muda. Mungkin usianya sekitar 17 tahun. Dia tinggal sendiri dan sikapnya sangat tertutup. Sehari-hari pekerjaannya hanya berada di dalam rumah dengan pintu yang selalu terkunci. Dia hanya sekali-kali keluar untuk berbelanja ke warung yang jaraknya beberapa rumah dari rumahku. Itu pun tanpa bertegur sapa dengan tetangga. Hal itu membuatku dan warga lain sulit mendekatinya.

Oleh karena itu, di suatu Minggu pagi yang cerah, aku sengaja membuat cake pisang dengan taburan cokelat. Aku membawa cake tersebut ke tempat tetangga baruku.

Tok, tok, tok ….

Aku mengetuk pintu perlahan. Selama beberapa waktu tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Aku kembali mengetuk. Kali ini lebih keras dan disertai dengan salam. Lama tak ada jawaban. Aku hampir mengetuk untuk ketiga kalinya ketika pintu itu terbuka dan seraut wajah cantik menyembul dari dalam. Gadis itu tersenyum ramah padaku, hanya matanya terlihat seperti mengantuk dan tangannya sibuk merapikan rambutnya yang kusut. Mungkin baru bangun tidur.

“Maaf, Dik, mengganggu. Kenalkan, saya Yani. Saya tinggal di rumah sebelah.” Aku menunjuk rumahku yang bercat hijau. “Ini, ada sedikit kue.” kataku seraya menyerahkan sepiring kue di tanganku.

“Oh, eh ….” Gadis itu tampak sangat terkejut, tapi dia segera sadar untuk menerima kue yang kusodorkan padanya. “Terima kasih ….”

“Bukan apa-apa. Mampirlah kapan-kapan kalau ada waktu …” tawarku.

“Iya, baik ….”

“Oh, iya. Nama Adik siapa, ya?”

“Saya … nama saya Davina. Panggil saja Vina.”

Hmm … namanya Davina. Nama yang cantik, secantik parasnya.

Sejak itu, hubunganku dengan Vina menjadi lebih dekat meskipun belum bisa disebut akrab. Kalau kebetulan aku melihatnya pulang dari warung, aku sering menawarinya untuk mampir ke rumahku. Awalnya Vina memang selalu menolak, tapi belakangan dia mulai bersedia untuk mampir.

Vina tidak banyak bercerita tentang dirinya. Sebaliknya, aku banyak menceritakan lingkungan tempat tinggal kami. Saat Mas Adjie pulang kerja, dia ikut bergabung dan melontarkan guyonan-guyonan yang sering mengundang tawaku dan Vina. Melihat Vina seperti itu membuatku bahagia. Andaikan kami sebuah keluarga ….

“Tante hanya tinggal berdua dengan Om Adjie, ya?” tanya Vina suatu ketika saat hubungan kami telah semakin dekat.

Aku mengangguk enggan.

“Anak-anak Tante di mana?”

Serasa ada sembilu tak bernama yang menyayat luka batinku mendengar pertanyaan Vina yang spontan.

“Anak tante … meninggal …” kataku lirih.

Vina terdiam. Dia terlihat gugup dan salah tingkah. “Maaf, maafkan saya …. Saya tidak sengaja …. Saya tidak bermaksud ….” Vina benar-benar kebingungan dan tampaknya merasa sangat bersalah.

Melihatnya seperti itu, aku pun berusaha memberikan senyuman terbaikku. “Tidak apa-apa ….”

Aku menikah dengan Mas Adjie di usia 25 tahun, dua tahun lebih muda dari usia Mas Adjie. Ketika Vina mulai menempati rumah kontrakan di samping rumah kami, usia pernikahan kami kurang lebih sudah sepuluh tahun. Saat itu memang sudah sepantasnya aku dan Mas Adjie memiliki satu atau dua orang anak, tapi kenyataannya belum seorang anak pun yang kami punya. Sebenarnya aku pernah hamil. Bahkan aku pernah melahirkan seorang bayi perempuan. Namun, bayi itu meninggal saat baru berumur tujuh belas jam. Kesedihan itu semakin bertambah-tambah saat dokter mengabarkan bahwa rahimku harus diangkat karena adanya suatu kelainan. Itu artinya, aku tidak akan pernah bisa punya anak lagi.

“Kalau Mas ingin menikah lagi, aku tidak keberatan. Tapi sebelum itu, tolong ceraikan aku dulu ….” Dengan menabahkan hati, aku pernah mengutarakan hal itu pada Mas Adjie.

Namun, Mas Adjie hanya diam. Lalu tanpa berkata-kata, Mas Adjie langsung memelukku erat sekali. “Aku tidak ingin menikah lagi. Aku tidak akan menceraikanmu. Tidak akan pernah ….”

Aku ingat saat itu aku langsung menangis tersedu-sedu sebab memang sudah lama aku menahan air mataku.

“Kita bisa mengadopsi anak kalau kamu mau, tapi … jangan buru-buru, ya? Soalnya, aku masih ingin pacaran sama kamu ….”

Itulah Mas Adjie. Pria yang humoris. Dia mampu memancing senyumku bahkan di saat wajahku masih berurai air mata.

Mengingat saat-saat itu, membuatku tersenyum.

“Adaapa, Bu? Kok, senyum-senyum sendiri?” suara Mas Adjie menyentak lamunanku.

“Ah, tidak …” elakku.

“Ibu lagi mikirin ayah, ya?” tanyanya lagi seraya menyeruput tehnya.

“Ayah ini ….”

Mas Adjie tertawa melihat reaksiku.

“Ibu … ingat Vina …” aku berbicara lambat-lambat.

Perlahan tawa Mas Adjie mereda. “Hmm … gadis itu, ya?” gumamnya.

Suatu hari saat aku bertandang ke rumahnya, Vina menyambutku dengan perutnya yang buncit. Aku memang sudah lama memperhatikan tubuh Vina yang semakin gemuk, tapi aku tidak menyangka perutnya akan menjadi sebesar ini.

“Vina …” panggilku ragu.

Vina tersenyum maklum melihat keheranan yang aku yakin tergambar jelas di wajahku. Dia lalu mempersilakanku masuk. Dengan terbata-bata dan diselingi isak tangis, Vina menceritakan kisah hidupnya yang sesungguhnya padaku. Berkali-kali dia memintaku berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapa pun kecuali Mas Adjie. Aku pun menyanggupi.

Vina adalah salah satu contoh dari sekian banyak kasus remaja putri yang hamil di luar nikah. Pendidikannya yang tinggal setahun lagi di sebuah SMA negeri, terpaksa dia tinggalkan daripada harus menanggung malu. Pacarnya yang menghamilinya, berjanji akan menikahinya, tetapi laki-laki itu malah melarikan diri. Sementara itu, orangtuanya ingin Vina menggugurkan kandungannya, tapi Vina menolak melakukan hal itu.

“Saya sudah berdosa. Saya tidak mau menambah dosa lagi dengan menggugurkan kandungan ini …” ungkapnya kemudian kembali tersedu.

Itulah sebabnya Vina tinggal di kontrakan ini. Orangtuanya telah sengaja mengungsikannya ke sini selagi dia hamil dan melahirkan. Uang memang secara rutin dikirimkan ke rekeningnya dengan jumlah yang tidak sedikit karena keluarga Vina termasuk kaya. Namun untuk urusan lain, orangtuanya tidak mau tahu. Setelah melahirkan nanti, Vina hanya boleh kembali jika dia bersedia membuang bayinya. Jika Vina ingin mempertahankan bayinya, dia harus tetap hidup seperti ini dan transfer uang ke rekeningnya akan dihentikan.

“Sungguh ironis …” gumamku tanpa sadar memikirkan betapa aku dan Mas Adjie mendambakan seorang anak sementara kedua orangtua Vina justru ingin menghabisi putra anaknya.

“Tante, saya memiliki dua permintaan. Maukah Tante mengabulkannya?”

Sejenak aku bingung. “Kalau tante bisa, tante akan berusaha memenuhinya.”

Vina tersenyum sebelum mulai berbicara lagi. “Pertama, saya tidak akan memilih salah satu dari pilihan yang diberikan orangtua saya. Jika bayi ini sudah lahir, saya … saya ingin supaya Tante dan Om Adjie yang merawatnya.”

Mulutku hampir terbuka untuk memberikan penolakan, tapi Vina menahanku.

“Saya tahu bahwa saya tidak akan bisa mencukupi kebutuhan bayi ini, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan batin dan kebutuhan akan pendidikan yang baik. Di tangan Tante danOm, saya yakin dia akan mendapatkan perawatan yang terbaik.”

“Vina ….”

“Bayi ini tidak bersalah. Saya dan bapaknyalah yang berdosa. Saya sedih … kenapa orang-orang menyebut bayi yang lahir di luar pernikahan sebagai anak haram, padahal bayi itu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Justru orangtuanyalah yang bejat karena telah melakukan perbuatan hina. Saya yang salah ….” Vina terisak-isak.

Dalam hati aku turut menyesalkan kesalahan yang sudah umum dalam masyarakat itu.

“Karena itu, saya ingin Tante merawat bayi ini. Dia berhak mendapatkan perawatan yang baik. Biarlah dia tidak mengenal saya. Biar dia terbebas dari masalah ini dan memulai kehidupan yang baru. Tolong, Tante ….”

Aku terdiam cukup lama.

“Tante … Tante mau,kan?”

Dengan kaku, akhirnya kepalaku terangguk. Vina tersenyum lega.

“Keinginan saya yang kedua …” Vina melanjutkan. “Bolehkah saya memanggil Tante danOmdengan sebutan Ibu dan Ayah?”

Aku terperangah mendengarnya. Vina menatapku penuh harap. Aku balas menatap sepasang matanya yang bening.

“Iya, Nak. Panggil aku ibu …” ucapku bergetar. Lalu kami pun berpelukan.

Akhirnya, Vina melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat. Aku dan Mas Adjie turut bergembira mendengarnya. Namun, kebahagiaan itu surut oleh duka karena Vina rupanya telah menukar nyawanya sesaat setelah melahirkan bayi itu.

Vina, selamat jalan ….

Sesuai permintaan Vina, aku dan Mas Adjie mengangkat putranya sebagai anak. Oleh Mas Adjie, bayi itu diberi nama Raka. Sekarang Raka sudah 23 tahun. Setelah sekian lama kami hidup bersama, badai datang mengusik kebahagiaan kami.

Dua minggu yang lalu, orangtua Vina datang menemui kami untuk mengambil Raka kembali. Mereka ingin supaya Raka nantinya dapat meneruskan perusahaan keluarga. Meskipun selintas aku membenci mereka atas perlakuannya terhadap Vina bertahun-tahun lalu, aku sadar bahwa sebagai orangtua angkat aku harus bersikap objektif dan tidak boleh egois. Maka aku pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Raka dan membiarkan dia menentukan pilihannya sendiri.

Sudah seminggu ini dia tinggal dengan kakek dan neneknya untuk menyesuaikan diri. Besok dia akan memutuskan dengan siapa dia akan tinggal.

Ting nong!

Mas Adjie hendak bangkit dari duduknya untuk membuka pintu, tapi aku menahannya. “Biar ibu yang bukakan, Yah ….”

Aku beranjak ke ruang depan dan meraih gagang pintu. Pintu terbuka. Tampak sosok Raka yang tampan di baliknya. Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Seperti biasa ketika baru tiba di rumah, dia mencium punggung tanganku takzim. Biasanya aku melanjutkan dengan mencium kedua pipinya, tapi kali ini aku langsung berbalik.

“Ibu …” panggil Raka. “Ibu lupa, ya?”

Sesaat langkahku terhenti, tapi kemudian aku kembali berjalan. Tiba-tiba Raka sudah memelukku dari belakang. Gerakannya cepat sekali sehingga aku tidak sempat mengelak.

“Ibu, aku rindu pada Ibu. Rinduuu … sekali ….”

Memang sudah seminggu kami tidak bertemu. Aku pun merindukannya, tapi kurasa sekarang aku tidak berhak lagi memiliki perasaan itu.

“Ibu kangen, tidak, sama aku?” tanyanya. Terkadang Raka memang manja.

Aku tidak bisa menjawabnya. Tanpa bisa ditahan, air mata meluncur deras menuruni pipiku dan jatuh ke lengan Raka yang masih memelukku.

“Aku tahu keputusan ini seharusnya baru kusampaikan besok, tapi aku sudah tidak tahan lagi. Jadi, aku akan menyampaikannya sekarang. Ibu dengarkan baik-baik, ya?” Raka menghela napas. “Ibu, aku sayang pada Ayah dan Ibu. Mama Vina adalah mamaku dan kalian juga adalah orangtuaku … selamanya … aku selalu menyayangi kalian ….” Raka berhenti sejenak sebelum kembali berbicara. “Ayah dan Ibu tidak keberatan,kan, kalau aku tetap tinggal di sini bersama kalian?”

“Soal itu, kami tidak perlu menjawabnya.” Tiba-tiba Mas Adjie muncul dari belakang. Baik aku maupun Raka sama-sama terkejut.

“Kalau begitu, peluk kami, dong, Ayah …” pinta Raka.

Mas Adjie tertawa lalu berjalan mendekati kami. Aku tersenyum sekaligus menangis bahagia saat Mas Adjie memeluk aku dan Raka.

Seperti secangkir teh, memiliki anak mampu memberikan ketenangan dan kesejukan. Terlebih bagiku dan Mas Adjie yang mulai melewati usia-usia senja. Betapa membahagiakan jika bisa menghabiskan hari-hari dengan kehadiran seorang anak. Ibarat secangkir teh yang menemani kami dalam santai sore sembari menikmati keindahan pemandangan mentari senja.

%%%

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Literature and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Secangkir Teh di Saat Senja

  1. Isnaini says:

    muli, ta’ ceritain,, tp ini kisah nyata…
    ada ce hamil d luar nikah, co nya mw tanggung jawab tp ortunya gak setuju
    trus djodohin ortunya malah gak mau
    akhirnya si ce dsuru pergi dr rumah selama hamil
    stelah mlahirkan bru boleh pulang, trus anaknya dkasiin kakaknya dee…
    *benar2 kisah nyata*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s