Owarinai Yume (Unending Dream)

Namaku Haruno Kaori. Saat ini aku masih tercatat sebagai siswa kelas 3 SMA Nishiyama di Osaka. Pulang sekolah hari ini tidak ada latihan karate. Jadi, aku bisa menemui Shin terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.

“Sampai jumpa …” Aku melambai pada dua teman yang berjalan pulang bersamaku. Mereka hendak menyeberang jalan sementara aku terus menuju halte.

Langkahku terhenti saat melihat papan manga (komik) yang dipasang di tepi jalan. Aku mengamati gambar-gambar yang dipajang di situ. Salah satunya bercerita tentang dua sahabat yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola dunia. Pada gambar tersebut terdapat inisial K.S. sebagai pengarangnya. Aku tersenyum melihatnya kemudian melanjutkan perjalananku.

Begitu aku naik bis dan mendapat tempat duduk yang nyaman di dekat jendela, aku pun kembali memikirkan Shin. Shin. Siapakah dia?

Nama lengkapnya Kitagawa Shin. Shin dan aku adalah teman sejak kecil. Dari TK, SD, SMP, sampai SMA kami selalu satu sekolah. Kedua orangtua kami juga telah lama saling mengenal. Ketika musim gugur tiba, keluarga kami biasa pergi berpiknik bersama ke Air Terjun Mino untuk menikmati pemandangan daun-daun musim gugur.

Shin adalah siswa yang cerdas. Nilai-nilainya banyak yang di atas rata-rata. Aku belum pernah berhasil menyainginya, tapi bukan berarti aku bodoh. Hanya saja, aku memiliki kemampuan sedikit di bawah kemampuan Shin. Karena itu, Shin sering memanggilku dengan sebutan gadis bodoh. Bukannya Shin bermaksud menghinaku, dia hanya senang melihat ekspresiku yang cemberut akibat kata-katanya. Aku sendiri tidak benar-benar marah padanya. Justru kelebihan Shin membuatku termotivasi untuk menjadi lebih baik. Sikapnya yang pantang menyerah selalu menumbuhkan semangatku setiap kali aku merasa jatuh.

Shin termasuk jenis orang yang tidak terlalu sering menunjukkan perasaannya. Agak berbeda memang bila dibandingkan dengan orang Osaka yang umumnya suka berterus terang dan bersifat terbuka. Orang-orang yang tidak begitu mengenal Shin akan menganggap Shin itu angkuh. Teman-teman, terutama di kalangan siswa perempuan, banyak yang menilai Shin sebagai laki-laki yang dingin. Ekspresinya memang cenderung datar dan tidak menggambarkan suasana hatinya. Apakah dia sedih atau senang, sulit dibedakan. Namun sungguh, Shin sebenarnya adalah orang yang baik.

Pernah di hari ulang tahunku, tiba-tiba Shin ke rumahku dengan sepedanya. Pagi itu dia mengajakku berkeliling kota dengan bersepeda. Osaka memang kota yang ramah terhadap pengendara sepeda. Seluruh pelosok kota dapat dicapai dengan sepeda.

Puas berputar-putar, Shin kemudian mentraktirku makan es krim cokelat kesukaanku. Sembari menikmati es krim, dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku dengan nada datar.

Begitulah Shin. Dia memerhatikan orang lain dengan caranya sendiri yang unik dan berbeda.

Impian Shin adalah menjadi pemain baseball profesional. Dia bergabung dengan klab baseball sekolah.

“Suatu saat nanti, aku akan bermain di Koushien.” Begitu katanya suatu ketika.

Aku tersenyum mendengarnya menyebut stadion tempat kejuaraan baseball nasional untuk SMA itu. Saat itu aku dan Shin sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Shin baru selesai berlatih baseball sementara aku baru saja mengikuti latihan karate. Aku memang bergabung dengan klab karate di sekolah.

“Kalau kau, apa impianmu?” tanyanya padaku tiba-tiba.

“Aku … apa, ya?” Aku benar-benar bingung.

“Tidak punya impian, ya?” Shin tertawa pelan. Dia pasti menertawakanku.

“Sembarangan! Tentu saja aku punya mimpi!” elakku.

“Bukannya kau ingin menjadi pemain karate?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Aku melakukannya karena aku menyukainya. Sebenarnya, aku masih bingung mau jadi apa ….” Akhirnya aku mengaku. “Memangnya, kita harus menentukan impian kita dari sekarang, ya?”

“Tidak juga. Tapi, impian akan membantu menentukan langkah kita selanjutnya.”

“Oh, begitu ….”

“Sebagai contoh adalah saat ini. Karena kita mau pulang, maka kita mengambil jalan menuju rumah. Kalau kita tidak tahu tujuan kita, lalu ke mana kita harus melangkah?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar uraian Shin, tapi kemudian kembali bingung dengan impianku.

“Aku belum bisa memutuskan apa yang kuinginkan dalam hidup ini. Impianku, cita-citaku, lalu apa yang akan kulakukan. Semuanya belum terpikirkan olehku ….” Aku mengembuskan napas berat.

“Jangan khawatir.” Shin menenangkanku. “Menentukan impian kita dari sekarang memang baik, tapi memikirkannya secara perlahan-lahan juga tidak masalah. Apa pun yang kita jalani saat ini, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, suatu saat nanti pasti ada manfaatnya.”

“Begitu, ya?” Aku menatap Shin untuk memastikan.

Shin tersenyum tipis seraya mengangguk.

“Terima kasih …” ucapku tulus.

Itulah Shin. Dia selalu mengembalikan rasa percaya diriku. Dia mengajariku banyak hal meskipun secara tidak langsung. Dia adalah teman, kakak, sekaligus guru bagiku.

CIIITTT!

Bis yang kutumpangi mengerem di perempatan lampu merah, membuat badanku sedikit terayun ke depan.

Sayangnya, impian Shin harus kandas di tengah jalan, saat kami masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku tidak akan melupakan malam itu.

“Kaori …” panggilan lembut ibu mengelus gendang telingaku. Tepukan halus di pipi menyadarkanku.

Aku pun bangun dan duduk. “Ada apa, Bu?” tanyaku.

Ibu berbicara hati-hati padaku. Mendengar penjelasan ibu, aku tidak tahu lagi bagaimana perasaanku. Mungkin aku sedih, mungkin juga aku panik, atau kalut. Yang pasti, dengan pikiran kosong, malam itu juga aku menuju rumah sakit mengikuti ayah dan ibu. Tampak kedua orangtua Shin juga telah ada di sana. Shin mengalami kecelakaan. Dia baru pulang dari rumah seorang teman dengan mengendarai sepedanya ketika sebuah truk yang pengemudinya mengantuk, melaju kencang dan menabraknya. Kabar yang lebih buruk, kaki kiri Shin harus diamputasi.

Mataku menghangat mengingat peristiwa itu. Tanpa kusadari, sebutir air mata menuruni pipiku. Segera aku menyekanya dengan jemariku.

“Nak, kau baik-baik saja?” tanya penumpang wanita paruh baya yang duduk di sampingku itu ramah.

Aku terkejut sebentar sebelum menjawab sambil mencoba tersenyum. “Iya ….”

Wanita itu tampak tersenyum lega.

Sejak kecelakaan itu, Shin harus mengubur impiannya untuk menjadi pemain baseball profesional. Dia juga pindah ke sekolah yang menangani orang-orang dengan kebutuhan khusus. Sikap Shin menjadi lebih dingin. Dia tidak mau menemui siapa pun, bahkan denganku yang sudah menjadi temannya sejak kecil. Aku kehilangan Shin sahabatku, saudaraku, guruku …. Namun, aku mencoba mengerti. Mungkin Shin memerlukan lebih banyak waktu untuk sendiri, merenung, dan berpikir. Aku yakin suatu saat Shin yang selalu bersemangat dan tidak mengenal putus asa akan kembali.

Keyakinanku itu akhirnya terbukti. Suatu sore ketika aku mengunjunginya sepulang sekolah, Shin bersedia menemuiku dan berjalan-jalan di halaman depan sekolah khusus itu. Awal-awal aku mengunjunginya, Shin tidak pernah mengacuhkanku. Salah satu petugas yang kutemui mengatakan bahwa Shin sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Saat aku mencari sosoknya di perpustakaan, aku berhasil menemukannya di bagian paling ujung, bagian yang jarang disinggahi oleh pengunjung. Walaupun tidak menyuruhku pergi, Shin sama sekali tidak mengajakku bicara. Ya, jangankan menyuruhku pergi, mengucapkan sepatah kata pun tidak. Omonganku tak satu pun yang ditanggapinya. Meskipun duduk di dekatnya, di hadapan Shin aku merasa seperti patung yang bernyawa. Namun, aku tidak menyerah. Sekadar duduk memerhatikan Shin membaca atau menggambar sudah membuatku lega. Melontarkan satu atau dua kalimat untuk mengomentari gambarnya juga sudah membuatku senang meskipun ucapanku itu terasa bagai angin lalu di telinga Shin. Bagaimanapun aku bersyukur Shin tidak kehilangan kreativitasnya. Hal itu sungguh menenangkan.

“Kenapa kau sering mengunjungi bagian buku-buku yang jarang dibaca orang?” aku mengajukan pertanyaan itu tanpa mengharapkan jawaban karena Shin tidak pernah meresponsku.

Namun, sore itu sungguh lain. Sambil menatap mentari senja, Shin berujar, “Karena aku ingin menjadi manga-ka (pengarang komik).”

Aku sempat heran bercampur bingung karena menurutku, jawaban Shin tidak berhubungan dengan pertanyaanku. Yang lebih mengejutkan, Shin mau berbicara padaku setelah sekian lama terus membisu sejak kecelakaan malam itu.

“Tapi, apa hubungannya?” tanyaku sedikit ragu.

“Supaya dapat membuat cerita yang menarik, aku perlu memahami berbagai macam hal, terutama yang dekat dengan kehidupan manusia tetapi belum diketahui banyak orang.”

Oh ….

Hari itu Shin telah kembali menjadi Shin yang tidak pernah berhenti bermimpi dan selalu berjuang demi mewujudkan impiannya itu. Impian untuk menjadi manga-ka.

Tak terasa, sudah waktunya turun. Hufff … aku kembali melanjutkan perjalanan. Tinggal jalan kaki sedikit dan … sampailah aku di tempat Shin.

Itu dia. Shin sudah ada di taman. Jadi, aku tidak perlu mencarinya ke perpustakaan. Ternyata dia sedang serius menggambar.

“Hai …” sapaku ceria.

“Gadis bodoh …” balasnya tanpa menolehku. Pandangannya tetap tertuju pada buku gambar di pangkuannya sementara tangannya lincah membuat arsiran pada gambar.

“Hei, hormatilah temanmu sedikit …” protesku.

Shin tersenyum tipis. Senyum khasnya. Dia memang pelit soal yang satu itu. Apalagi ke teman-teman perempuan. Aku yang sudah menjadi temannya sejak kecil saja jarang mendapat senyumnya. Masih bagus aku diberi senyumnya meskipun sedikit. Daripada tidak sama sekali.

“Selamat, ya, mulai minggu ini komikmu dimuat secara berseri oleh majalah manga. Ini, hadiah untukmu.” Aku mengulurkan sebuah komik padanya. Itu adalah volume terakhir dari serial detektif yang disukai Shin. Hari ini komik itu terbit dan aku telah dengan sengaja membeli untuknya. “Semoga kau menyukainya.”

“Hmm, terima kasih.” ucapnya datar sembari menerima komik itu dari tanganku. Dia benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya. Bisa-bisanya ekspresinya sebiasa itu padahal di depannya ada komik detektif favoritnya. Volume terakhir pula.

“Kau terlalu sibuk membuat komikmu sendiri sampai melupakan komik kesukaanmu.”

Shin tertawa pelan mendengar perkataanku. Selama beberapa waktu tidak ada kata yang terucap.

“Shin, kau terlihat bahagia,” kataku pelan.

Shin tetap diam cukup lama sebelum tersenyum memandang langit senja yang kemerahan.

“Berada di sini membuatku menyadari bahwa sesungguhnya aku sangat beruntung. Awalnya, aku memang mengira akulah yang paling menderita. Aku merasa tidak berguna. Apalagi, aku harus kehilangan satu kakiku. Aku sempat kehilangan impianku. Namun, di sini aku bisa melihat bahwa masih banyak yang kurang beruntung daripada aku. Dan aku kembali menemukan keberanian untuk bermimpi.”

Memang benar. Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, aku merasa merinding. Seluruh tubuhku rasanya kaku sampai sulit digerakkan. Di sini banyak orang yang kehilangan salah satu atau lebih dari satu fungsi anggota tubuhnya. Di tengah kondisi seperti itu, aku benar-benar merasa beruntung dengan kesempurnaan fisik yang ada pada diriku. Aku sangat bersyukur dengan kelengkapan anggota badanku.

“Selain itu, aku masih memiliki orangtua yang lengkap. Ayah dan ibu yang selalu menyayangiku.” Shin melanjutkan. “Di antara orang-orang yang belajar di sini, ada yang ditinggalkan begitu saja oleh keluarganya ….” Seperti ada kepedihan dalam nada bicara Shin.

Benarkah? Tega sekali keluarga orang itu.

“Lagi pula, aku punya teman yang meskipun bodoh dan sangat suka bicara, dia selalu ingat komik kesukaanku.”

Huuuh! Enak saja menyebutku bodoh dan suka bicara, tapi aku tidak menanggapinya. Jujur, Shin jarang sekali berbicara selama dan sepanjang ini kecuali sedang berdiskusi di kelas.

“Kau tidak boleh menyebutku bodoh lagi. Sekarang ini aku sudah punya mimpi.”

“Apa?”

“Itu …” aku jadi ragu. “Tapi, jangan tertawa, ya?”

“Lihat saja nanti.”

Semaunya sendiri!

“Ehm … impianku itu … aku ingin berkeliling dunia. Aku berlatih karate supaya bisa menunjukkan pada dunia tentang olahraga asli Jepang ini. Selain itu, juga untuk ketahanan tubuh dan alat untuk membela diri soalnya aku, kan, akan mengitari seluruh dunia. Bagaimana?”

“Boleh juga.”

Aku tersenyum senang.

“Oh, iya, Shin. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau selalu mencantumkan inisial K.S. di setiap komikmu. Apa maksudnya? Apakah K.S. itu singkatan dari Kitagawa Shin?” tanyaku.

“Bukan.”

“Lalu apa?” kejarku lagi.

“Tebaklah.”

“Aku benar-benar tidak tahu. Beri aku petunjuk.”

“Hmm … bagaimana, ya? Tebakanmu tadi sudah tepat untuk kata yang kedua. Kata pertamanya masih salah.”

“Oh … jadi, S untuk Shin. Lalu, kalau K bukan untuk Kitagawa, lantas apa? Siapa?” Aku benar-benar tidak sanggup memikirkannya. Kata yang diawali dengan huruf K, kan, banyak sekali.

“Belum mengerti juga?”

Aku hanya mengangkat bahu. “Cepat, katakan saja. Aku jadi penasaran ….”

“Gadis bodoh. Nama sendiri saja tidak ingat.”

“Sudah kukatakan, jangan memanggilku dengan sebutan gadis bodoh lagi! Lagi pula, aku tidak mungkin melupakan namaku. Dengar, ya? Namaku Haruno Kaori.” Aku mengeja namaku lambat-lambat dan penuh tekanan di setiap suku katanya. “Eh? Tunggu dulu. Namaku … Kaori … Ka ….”

Jadi? Mungkinkah? Aku menatap Shin tidak percaya sementara dia mulai menekuri komik yang baru saja kubelikan untuknya. Shin telah tenggelam dengan bacaan komik kesukaannya.

%%%

 

Advertisements

5 thoughts on “Owarinai Yume (Unending Dream)

  1. Cerpen ini saya tulis waktu saya sedang membaca-baca tentang Osaka. Makanya, setting-nya di Osaka.
    Cerpen yang agak aneh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s