Karena Itu, Aku Wanita, Maksudku … Muslimah

            “Masalahnya bukan itu!”
            “Lalu kenapa? Mereka, kan, hanya bercanda!”
            Aku mengerucutkan bibir. Rasanya masih kesal kalau mengingat kejadian di sekolah tadi. Aku terlibat adu mulut dengan Mirna, teman sebangkuku sendiri. Syukurlah, Bu Endang segera menoleh ke arah kami sehingga kami bisa diam. Guru biologi yang satu ini paling tidak suka kalau ada siswanya yang bicara pada saat beliau menerangkan.
            Aku mengempaskan tubuh di atas kasur. Baru saja aku tiba di rumah. Pulang sekolah bukannya segera mengganti seragam, aku malah duduk merenung di atas tempat tidur.
            Mataku tertumbuk pada kerudung putih yang sudah kulepas dan sekarang tergeletak di atas tempat tidur. Pandanganku beralih pada lengan bajuku yang panjang, lalu kuamati rok abu-abuku yang sepanjang mata kaki itu. Ingatan akan pertengkaranku dengan Mirna membawaku pada peristiwa ketika pertama kali kudapatkan semua pakaian itu.
            Aku hanya tinggal bersama seorang kakak laki-laki, namanya Ryan. Dia mahasiswa tahun ketiga di sebuah institut. Orangtua kami sudah meninggal. Karena sudah tidak memiliki orangtua lagi, maka Kak Ryan yang menemaniku mendaftar di sebuah SMA negeri. Saat itu Kak Ryan memutuskan bahwa aku akan memakai seragam panjang ke sekolah. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi melihat wajah Kak Ryan yang begitu yakin, aku jadi tidak dapat berkata-kata. Akhirnya, aku pun bersekolah dengan pakaian panjang. Sampai sekarang, ketika aku memasuki bulan keempat di kelas 2 SMA.
            Meskipun tidak menginginkannya, aku cukup konsekuen dengan busana muslimahku. Artinya, aku tidak hanya memakai kerudung ketika ke sekolah, tetapi juga ketika bepergian, atau saat ada tamu laki-laki di rumah. Karena sebenarnya, aku merasa malu terhadap kerudung yang kupakai. Bukan malu untuk memakainya, tapi malu kalau aku hanya memakai kerudung ke sekolah, sedangkan di tempat lain tidak. Aku merasa munafik jika melakukan hal itu. Lagi pula, sejak kecil aku sudah dibiasakan untuk memakai pakaian panjang meskipun belum berkerudung. Jadi, aku tidak kesulitan ketika harus berbusana muslimah.
            Tapi, sekarang aku merasa bahwa menjadi muslimah berjilbab itu berat. Setelah aku berbantahan dengan Mirna, aku jadi berpikir untuk melepas jilbabku dan sempat menyalahkan jilbab yang membuatku terikat banyak aturan. Tapi, kemudian aku sadar kalau jilbab itu demi kebaikan perempuan juga. Dan itu mengubah pikiranku, dari menyalahkan jilbab, menjadi dugaan bahwa mungkin aku seharusnya diciptakan sebagai laki-laki. Soalnya, kalau aku ini memang perempuan tulen, seharusnya aku merasa cocok dengan jilbab yang salah satu fungsinya adalah menjaga perempuan. Tapi nyatanya, aku tidak mampu berjilbab.
            KRRETTEKTEKK. KRRAAK. Suara khas roda motor Kak Ryan memasuki halaman rumah yang berkerikil membuyarkan segala lamunanku.
            TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK ….
            Suara ketukan pintu yang beruntun tanpa jeda juga merupakan salam khas dari Kak Ryan. Dia tidak akan berhenti mengetuk sampai pintu dibuka. Untung saja hanya diketuk, bukan digedor. Soalnya kalau digedor terus-terusan, bisa dimarahi tetangga.
            “Assalamualaikum …” salam Kak Ryan dengan mata seperti orang mengantuk. Ungkapan untuk menyatakan bahwa dirinya lelah sekali.
            “Waalaikumsalam …” aku menjawab dengan lemas juga.
            Kak Ryan kelihatan bengong sebentar. Mungkin heran karena aku menyambutnya dengan lemas. Biasanya aku selalu menjawab salamnya dengan senyum dan wajah berseri.
            “Bangun tidur, ya? Tidur terus! Ganti pakaian, kek! Mandi, mandi sana!”
            “Iya, gampang …” aku menjawab malas lalu duduk bertopang dagu. Aku merasa seperti berada dalam duniaku sendiri. Lepas dari apa yang ada di sekitarku.
            “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tiba-tiba Kak Ryan bertanya.
            “Eh, tidak …” gelagapan aku menjawab.
            “Hei, jangan begitu! Kamu tidak bisa menipuku.”
            “Lagi ngelamun aja!” aku cuek.
            “Ada apa, sih? Pacarmu selingkuh, ya?” Kak Ryan menebak asal.
            Seketika aku mendongak.
            “Hayo, ngaku! Wajahmu mengatakan kalau tebakanku benar!” Kak Ryan semakin semangat saja menggodaku.
            Aku menyahut sedikit ketus. “Siapa juga yang punya pacar?”
            “Kok, sewot?”
            “Yah, aku cuma bertanya-tanya kenapa aku terlahir sebagai perempuan. Kalau aku ini laki-laki, pasti lebih menyenangkan. Hidup rasanya bebas!” kuungkapkan juga isi hatiku.
            “Hus, ngawur aja! Kamu ini kerasukan setan khayal dari mana?”
            “Hah! Setan khayal?!” aku benar-benar tidak mengerti.
            “Kamu, kan, orangnya suka mengkhayal. Khayalanmu juga sering aneh-aneh. Makanya, aku bilang pikiranmu itu kerasukan setan khayal!”
            “Tapi, Kak Ryan sendiri suka mengkhayal, kan? Pasti khayalannya juga aneh-aneh.”
            “He he, tahu aja!” dia terkekeh.
            “Tahu, dong! Laki-laki itu, kan, daya imajinasinya tinggi. Makanya, mereka lebih mudah menangkap pelajaran matematika yang selain butuh logika, butuh imajinasi juga. Apalagi materi tentang dimensi ruang, sebagian besar siswa laki-laki sudah nyambung, yang perempuan masih pada bingung!”
            “Tapi, kamu nyambung, kan?”
            “Ya, soalnya daya imajinasiku lumayan. Jadi, kenapa aku nggak jadi laki-laki aja?”
            “Kan, nggak semua yang daya imajinasinya bagus itu laki-laki. Buktinya, J.K. Rowling yang perempuan itu mampu berimajinasi sampai menghasilkan tujuh buku Harry Potter yang kamu tahu sendiri gimana tebalnya. Lagi pula, tidak semua laki-laki jago berimajinasi. Terlebih, untuk imajinasi yang positif.”
            “Dasar, laki-laki! Pikirannya sering aneh-aneh!”
            “Lha, itu sudah tahu! Trus, kenapa masih pengen jadi laki-laki? Nggak selamanya jadi laki-laki itu enak. Tanggung jawabnya, kan, gede!”
            “Iya! Tapi, aku nggak suka sama perempuan yang kalau ada apa-apa sedikit aja, bisanya hanya menjerit atau teriak-teriak! Belum lagi, anggapan kalau perempuan itu lemah!”
            “Ya kamu buktikan, dong, kalau nggak semua perempuan itu lemah. Ada juga perempuan yang kuat. Justru kamu sebagai salah satu dari sekian banyak perempuan, harus bisa mengangkat derajat perempuan.”
            “Oh, ya. Kak Ryan merasa nggak, kalau tanggung jawab sebagai laki-laki itu berat?” aku bertanya sambil membayangkan Kak Ryan yang masih kuliah sambil mengajar di sebuah bimbingan belajar untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
            Sejak ayah meninggal, otomatis kebutuhan hidup berdua merupakan tanggung jawab Kak Ryan. Tapi, Allah memang Mahaadil karena Allah menganugerahkan otak yang encer pada Kak Ryan sehingga dia bisa bebas biaya kuliah. Sedangkan biaya sekolahku bisa dipenuhi dari uang yang ditinggalkan ayah.
            “Sebenarnya, lumayan juga. Tapi, kalau kita menjalaninya sesuai dengan kodrat dan kita bersikap menerima, semuanya akan baik-baik saja.”
            Aku diam.
            “Kenapa diam saja? Sudah, jangan ngelamun. Bahaya, masih muda!”
            “Memangnya kalau sudah tua, boleh ngelamun, ya?”
            “Nggak juga, sih! Tapi, kalau itu sia-sia, buat apa dilakukan?”
            “Iya, iya!”
%%%
            Pagi ini aku tiba di sekolah lebih pagi dari biasanya. Karena masih pagi, kelas masih sepi. Tapi, setiap hari selalu ada siswa di kelasku yang datang pagi-pagi sekali. Namanya Fitri. Fitri ini orangnya ceria sekali. Ketika melihatku memasuki kelas, dia langsung menyambutku dengan wajah berseri-seri.
            “Selamat pagi, Yan … maksudku, Niar!” senyumnya terkembang sangat manis.
            Namaku Yaniar. Di kelas ini ada siswa laki-laki yang bernama Yanuar. Agar teman-teman tidak bingung memanggil nama kami karena sama-sama ‘Yan’, aku dipanggil Niar. Di rumah juga aku dipanggil Niar karena Kak Ryan sering dipanggil ‘Yan’ oleh tetangga dan teman-temannya.
            “Pagi, Fit …” aku menjawab sambil tersenyum juga. Tapi, Fitri selalu menilai kalau senyumku itu dingin. Sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, tapi ekspresi wajahku memang biasa-biasa saja.
            “Kamu jadi orang, kok, dingin banget, sih?” Tuh, kan, Fitri protes.
            “Oh, ya? Bukannya kamu suka?” aku tahu kalau Fitri menyukai laki-laki yang dingin. Dia sangat menyukai Princess Hours, terutama tokoh Shin, laki-laki sedingin es.
            “Iya, orang yang dingin itu keren, so cool! Kayak Pangeran Shin di Princess Hours!” Dia mengatakan hal itu dengan nada seperti anak-anak. Aku tidak tahu, itu dibuat-buat atau memang seperti itu gaya bicaranya. Tapi, sepertinya memang begitulah kalau dia berbicara.
            Siswa lain mulai berdatangan. Ketika bel masuk berbunyi, pelajaran pun dimulai. Mirna lebih diam dari biasanya. Mungkin pengaruh pertengkaran kami kemarin. Aku, sih, malah senang. Soalnya, aku juga bingung kalau dia terus-terusan cerita di tengah berlangsungnya pelajaran.
            Tiba-tiba Fitri menjerit. Konsentrasi kelas buyar. Ternyata dari kolong meja Fitri ada kecoa. Kecoa itu berlari kebingungan ke arahku yang duduk di bangku sebelah Fitri. Aku hanya diam, tapi Mirna segera melompat berdiri dan menjerit juga. Beberapa saat kelas ribut karena siswi-siswi lain ikut-ikutan menjerit, sedangkan siswa laki-laki tertawa-tawa.
            Yah, ini juga salah satu sebab kenapa aku tidak menyukai perempuan. Perempuan begitu mudah ketakutan, atau ditakut-takuti. Aku ingat waktu kelas satu ada kegiatan Pondok Ramadan yang mewajibkan kelas satu menginap di sekolah. Ketika aku dan teman-teman yang lain sedang menikmati hidangan buka puasa, tiba-tiba muncul seekor tikus entah dari mana. Hampir semua siswa perempuan di situ menjerit. Akhirnya aku yang mengusir tikus itu, berdua dengan seorang siswa perempuan dari kelas lain.
           Kali ini pun, aku yang mengusir kecoa itu bersama guru. Setelah keributan berakhir, pelajaran pun dilanjutkan. Aku kembali ke tempat duduk dengan menghela napas panjang. Mirna tidak lagi bersikap kaku padaku. Mungkin karena dia masih takut oleh kecoa tadi.
%%%
            Siang hari. Matahari terik sekali. Aku sedang berjalan melintasi lapangan upacara menuju masjid sekolah. Aku selalu menunaikan salat Zuhur di sekolah karena waktunya terlalu telat kalau pulang dulu dan salat di rumah.
            Ketika akan berwudhu, aku bertemu Fitri dan Andin. Andin ini teman dari kelas lain. Melihatku datang, Fitri tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menceritakan peristiwa tentang kecoa yang keluar dari kolong mejanya kepada Andin.
            “Anak ini, lho, keren …” Andin berujar setelah mendengar cerita Fitri.
            Aku hanya tersenyum tipis. Keren apanya? pikirku.
            “Iya, coba dia cowok, pasti sudah aku sikat!” kata Fitri bersemangat.
            “Bukan kamu aja, pasti hampir semua cewek naksir dia.” Andin menguatkan.
            Mereka ini ngomong apa, sih? Aku geleng-geleng kepala dan segera berwudhu.
            Selesai salat, aku masih bertanya-tanya. Mengapa aku diciptakan sebagai perempuan? Apakah Allah tidak salah? Mungkin dulu aku akan diciptakan sebagai laki-laki, tapi batal?
            Huh! Bodoh, bodoh! Kamu ngomong apa, Niar? Allah itu Mahasempurna, tidak pernah salah! Dalam hati aku memaki diriku sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setelah itu, aku mengembuskan napas keras-keras dan melanjutkan perjalanan pulang.
            Di rumah, ternyata Kak Ryan sudah bersiap menyambutku.
            “Kok, sudah pulang?” Datang-datang, aku malah mengucapkan kalimat itu.
            “Kamu ini bagaimana? Kakaknya di rumah bukannya senang, malah protes!” Kak Ryan pura-pura marah.
            “Bukannya tidak senang, tapi heran!” aku membela diri.
            “Kamu dingin sekali?”
            “Apa? Bukannya panas?” aku meraba dahi yang masih panas karena baru saja tersengat matahari siang.
            “Bukan itu maksudku, tapi sikapmu.” Kak Ryan terlihat gemas oleh jawabanku.
            “Oh, biasanya juga begini.”
            “Ya, tapi hari ini lain. Lebih dari biasanya.” nadanya melebih-lebihkan.
            “Apa Kak Ryan pulang awal hanya karena merasa ada yang berbeda dariku? Tenang saja, aku oke!” kuacungkan jempol kananku.
            “Yee, GR! Bukan begitu! Hari ini mata kuliahnya sedikit!”
            “Siapa tahu? Soalnya tadi temanku juga bilang begitu.” Lalu aku pun menceritakan tentang Fitri dan Andin yang mengatakan kalau aku ini dingin.
            “Makanya, jadi perempuan jangan terlalu dingin!”
            “Aku, kan, sudah bilang kalau aku lebih cocok jadi laki-laki!”
            “Jadi, kamu masih ingin jadi laki-laki?” suara Kak Ryan tiba-tiba berubah.
            Aku tidak menjawab. Pandanganku menerawang. “Mungkin, tidak, kalau ada yang salah dengan penciptaanku?” aku mengatakannya seperti pada diriku sendiri.
            “Niar, Allah tidak pernah salah. Juga dalam hal penciptaan hamba-Nya!” Kak Ryan mengucapkannya dengan sabar. Tapi, aku merasa ada nada prihatin di sana. Dan, sedikit keras.
            Aku hanya bisa diam. Dalam hati aku menyesal telah mengatakan hal itu.
            “Tolong, Niar. Jangan berpikir aneh-aneh lagi, ya? Kakak minta maaf karena kakak belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu.”
            Hening. Aku belum mampu membuka mulut.
%%%
            Tengah malam. Aku masih berguling-guling di atas tempat tidur. Sejak tadi aku belum bisa tidur karena ada yang mengganggu pikiranku. Kumiringkan badan ke kanan karena mengikuti sunah Rasulullah. Sebentar kemudian, aku sudah tidak tahan sehingga aku mengubah posisi tubuh menghadap ke kiri. Aku berusaha tidur, tapi tidak bisa. Aku lalu tengkurap. Tapi baru sebentar, aku jadi sulit bernapas. Maka aku pun telentang. Memandang langit-langit kamar yang berwarna hijau sebentar, lalu bangkit dan berdiri di depan cermin.
            Bayangan di cermin itulah diriku. Tapi, apakah itu masih diriku yang sebenarnya? Gadis di cermin yang balik menatapku itu mengenakan topi warna cokelat, jaket dengan tutup kepala, dan celana panjang. Persis laki-laki. Apalagi dengan gayannya yang memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
            Memang sudah lama aku ingin keluar rumah dengan menyamar sebagai laki-laki. Aku pernah berpikir jika orang melihatku sebagai laki-laki, maka aku hanya perlu menutup aurat sebatas aurat laki-laki. Meskipun demikian, aku belum pernah melakukannya karena ada perasaan bersalah dan … malu. Walau bagaimana, aku ini perempuan. Auratku tetap saja seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan meskipun orang melihatku sebagai laki-laki. Pada akhirnya, aku selalu saja berkata pada diriku, “Ini tidak benar ….”
            Dengan perasaan putus asa, aku mengganti pakaian. Terus-menerus memikirkan panyamaran yang sempurna sebagai laki-laki membuatku lelah dan mengantuk. Aku ingin menyamar menjadi laki-laki, tetapi tidak ingin berbuat dosa. Rasanya hampir mustahil karena menyamar sebagai laki-laki tidak akan menutup aurat perempuan secara sempurna. Bagaimana dengan rambutku? Topi saja tidak cukup untuk menutupnya. Lagi pula, laki-laki tidak boleh menyerupai perempuan dan perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki. Memangnya aku punya alasan yang syar’i untuk melakukan penyamaran seperti itu? Sesaat kemudian, aku sudah terlelap dalam pencarian alasan yang belum menemui jawaban.
%%%
            Sabtu ini ada pelajaran bahasa Inggris. Positifnya, guru ini selalu mengadakan conversation secara berpasangan di depan kelas. Jadi, bisa melatih kemampuan berbicara dengan bahasa Inggris. Tapi, yang tidak kusukai adalah guru ini selalu menentukan pasangan berdasarkan keinginan siswa. Dan sudah bisa ditebak, kalau aku yang dipanggil, pasti pasangannya Yanuar. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Apalagi, nama kami mirip. Hampir semua guru mengomentarinya dan selalu mengundang suitan siswa sekelas. Memang kemiripan nama kami itulah yang menginspirasi teman-teman sekelas untuk menjodoh-jodohkan kami. Dan karena daftar nama disusun berdasar abjad, tentu saja namanya terletak persis di bawah namaku dan tidak sulit untuk membuat guru mengajukan satu dua kalimat yang menghubung-hubungkan nama kami.
            Anehnya, kalau sudah ada dua siswa-siswi yang dipasang-pasangkan begini, jadi sering terjadi hal-hal tidak terduga yang membuat gosip itu terus menghangat. Padahal, sebenarnya itu tidak diinginkan oleh pihak yang digosipkan. Entah itu kebetulan, atau memang sudah direncanakan. Siapa yang merencanakan?
            Seperti lima hari yang lalu. Aku terburu-buru kembali ke kelas karena keasyikan membaca buku di perpustakaan waktu jam istirahat. Aku baru ingat kalau setelah istirahat adalah jamnya Bu Endang yang terkenal sangat disiplin. Pintu belum ditutup pertanda bahwa Bu Endang belum memulai pelajaran. Aku berlari menuju kelas. Tapi karena terlalu kencang berlari, pada saat akan memasuki kelas, aku belum sempat mengerem. Hasilnya, wajahku menabrak lengan Yanuar yang hendak menutup pintu. Klise? Iya! Tapi cukup untuk menggemparkan kelas. Apalagi, Bu Endang yang wali kelasku itu sempat senyum-senyum juga. Sebeeell!!! Tapi, aku sangat berterima kasih ketika beliau kembali pada sikap tegasnya.
            Aku kesal! Selama ini aku berusaha sabar, tapi saat itu aku tidak tahan lagi. Jadi, aku mengungkapkan kejengkelanku pada Mirna. Di luar dugaan, dia tidak bisa menerima. Itulah sebabnya kami bertengkar beberapa waktu lalu. Tapi, kali ini aku tidak ingin pertengkaran terulang. Kami masih dalam proses perbaikan hubungan.
            “Yanuar!” Ibu Emilia memanggil siswa untuk mempraktikkan dialog di depan kelas.
            “Lalu, pasangannya … Fitri!”
            Syukur, syukur! Aku mengamini dalam hati.
            “Jangan, Bu!”
            “Jangan Fitri, Bu!”
            “Yaniar aja, Bu!”
            Uuuh! Apa-apaan, nih, teman-teman?
            Suara-suara bernada protes terdengar di mana-mana. Apa sih, maksud mereka? Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain bergumam pelan, “Fitri aja, Bu … Fitri aja ….”
            “Yaniar, ya …” Bu Emilia memeriksa daftar nama. “Ya, sudah. Yanuar, dan Yaniar!”
            Tuh, kan! Sial! Aku bangkit dari duduk sambil mengumpat dalam hati.
            “Selamat berjuang!” Mirna mendukung.
            Aku maju dengan lemas. Sebenarnya conversation berjalan biasa. Tapi ternyata … Fitri diam-diam merekamnya dengan HP. Apa maunya dia?
            Aku kembali ke tempat duduk dan menghabiskan sisa jam pelajaran dalam diam. Bu Emilia menyuruh mengerjakan buku tugas. Tapi, karena yakin tidak dikumpulkan, aku malah mengerjakan yang lain. Aku menulis-nulis tidak jelas. Aku tidak peduli pada apa pun yang tidak ada hubungan penting denganku. Karena diamku, Mirna sampai heran. Biarkan saja dia.
            “Kenapa, Niar? Sudahlah, teman-teman tidak serius.” Mirna mencoba bicara padaku.
            Karena aku diam saja, dia bicara lagi. “Mereka hanya bercanda.”
            “Bercanda? Bagi kalian bercanda! Kalian tidak pernah sadar dan tidak mau tahu betapa seriusnya masalah ini!”
            “Kenapa bisa begitu? Ada yang salah?”
            Aku memegang kerudungku. “Lihat ini! Aku berkerudung! Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya?!”
            Mirna tampak bingung. Dia mengernyitkan keningnya.
            “Yang penting, kan, kamu tidak melakukannya. Bukankah teman-teman yang mengatai-ngatai kalian? Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, teman-teman yang salah!”
            “Jadi begitu, ya? Teman-teman sekelas kita tahu ini tidak benar. Tapi, kelas lain belum tentu. Jika terjadi salah paham, bisa timbul fitnah. Aku tidak peduli pada apa yang mereka katakan tentangku. Tapi, aku tidak mau ada hal buruk yang dikatakan atau terjadi pada muslimah berjilbab lainnya. Kalau sampai hal itu terjadi, akan sulit bagiku memaafkan diriku sendiri. Karena dalam hal ini, kita berbeda. Bagiku, meskipun tidak selalu, sering kali kesalahan datangnya dari dua pihak. Dalam hal ini, jika citra muslimah menjadi tidak baik karena aku, kesalahan bukan hanya berasal dari teman-teman, tapi juga dariku karena membiarkan ini semua terjadi begitu saja tanpa ada usaha untuk mencegahnya!”
            Mirna terdiam mendengar penuturanku yang panjang. Aku jarang sekali berbicara sepanjang ini kecuali kalau sedang presentasi.
            Bel pulang menuntun kakiku untuk segera menuju rumah. Aku lelah ….
            Jilbab. Dulu aku pernah menyalahkannya. Tapi, kemudian aku sadar bukan jilbab yang salah. Akulah yang salah. Karena sebagai muslimah, aku tidak bisa menjadi muslimah. Ini juga alasan kenapa aku ingin menjadi laki-laki. Mungkin memang sebaiknya aku menjadi laki-laki?
%%%
            Hujan mengguyur deras. Tapi, aku tidak menghentikan langkahku. Aku terus berjalan menembus hujan. Pandanganku kabur. Samar kulihat sebuah motor melaju ke arahku. Aku tidak terlalu memedulikannya, tapi aku kaget ketika motor itu berhenti di dekatku.
            “Permisi, Dik. Mau ke mana?” pengendara motor itu bertanya.
            Aku diam saja.
            “Maaf, tapi boleh saya tahu Adik mau ke mana?”
            Aku masih diam.
            “Begini, saya mau mencari tempat berteduh. Kebetulan saya lihat Adik kehujanan. Jadi, siapa tahu Adik mau mencari tempat berteduh bersama saya?”
            “Mas terus saja, di depan ada halte bus.”
            Laki-laki itu diam seperti memikirkan sesuatu. Aku menangkap diamnya sebagai pertanyaan, ‘Kamu tahu? Lalu kenapa kamu tidak berteduh di sana?’
            “Saya tadi dari sana.” aku menjawab sesuai penafsiranku atas kediamannya.
            Tapi, laki-laki itu masih menatapku. Karena merasa tidak nyaman ditatap seperti itu, aku berkata sedikit kasar.
            “Kenapa Mas tidak segera ke sana? Mas mau berteduh, kan? Mas tidak perlu susah-susah memikirkan saya. Ini hujan, nanti Mas bisa sakit!”
            “Kamu juga bisa sakit. Kalau kamu peduli padaku, apa tidak boleh aku memikirkanmu?” lelaki itu berkata lembut, tapi tangannya tiba-tiba menarikku dengan kuat.
            Aku berusaha keras melepaskan tanganku dari pegangannya, tapi tidak berhasil. Aku berteriak-teriak minta dilepaskan. Namun, teriakanku tertelan suara deras hujan.
            “NIAR!!!” teriakan laki-laki itu mengagetkanku. Seketika aku terdiam.
            “Niar?” aku bertanya keheranan. Bagaimana dia tahu namaku?
            “Dia … dia itu gadis menyebalkan yang idealis. Sama sepertimu. Dia juga keras kepala.”
            “Apa dia kekasih Mas?” tanyaku.
            “Hmm, begitulah. Kenapa kamu menebak begitu? Apa kamu begini karena ditinggal kekasihmu? Kalau memang begitu, kita bisa berbagi sebagai sesama lelaki. Tapi sebelumnya, siapa namamu?”
            Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang terdengar. Cukup lama keadaan itu berlangsung. Tapi, laki-laki itu sangat sabar menunggu jawabanku.
            “Ryan …” akhirnya nama itu yang keluar dari mulutku.
            Sekarang ganti laki-laki itu yang diam. Mungkinkah? Aku menunduk.
            Perlahan-lahan laki-laki itu menggerakkan tangannya dan mengangkat topi yang kupakai. Aku pasrah. Laki-laki itu lalu mengangkat daguku. Aku yakin dia mendapati wajah seseorang yang begitu dikenalnya dengan mata memerah.
            “Aku sudah menduga, itu kamu …” suara Kak Ryan serak, matanya juga merah. Entah karena hujan atau karena dia ingin menangis. Aku sendiri sudah lama menangis. Air mataku tak tentu karena mengalir bersamaan dengan air hujan yang membasahi wajahku.
            Kak Ryan memasangkan topiku kembali, melepas jaketnya, lalu menutupkannya ke kepalaku untuk menutupi bagian rambut dan leherku yang tidak tertutup topi maupun kerah baju. Aku pun diboncengnya pulang ke rumah.
            Ya. Hari ini aku telah memutuskan keluar rumah dengan menyamar sebagai laki-laki. Tapi, ternyata tidak seindah bayangan. Penderitaan berawal ketika aku salah memasuki toilet wanita. Sebagian perempuan dalam toilet menjerit karena melihatku dengan wujud pria. Tapi, aku bersyukur keperluanku sudah selesai sehingga aku tidak perlu ke toilet pria yang asli.
            Ketidakberuntungan kedua terjadi ketika aku menaiki angkot yang tiba-tiba mogok karena kehabisan bensin. Seperti biasa, sopir meminta penumpang laki-laki untuk membantu mendorong kendaraannya ke SPBU terdekat. Aku yang waktu itu berwujud laki-laki mau tidak mau harus ikut membantu. Tapi kupikir, selain mengurangi beban dorong karena aku turun angkot, tenagaku tidak terlalu membantu.
            Lalu yang ketiga, dan ini yang menjadi puncaknya, aku kehujanan. Aku bermaksud berteduh di halte. Ternyata di halte sudah banyak orang. Secara naluri, aku berteduh dekat para perempuan. Aku lupa kalau aku sedang menjadi laki-laki. Tentu saja beberapa perempuan yang ada di sana merasa risih dekat denganku. Karena tidak tahan dengan pandangan kesal mereka, aku pun melangkah pergi sampai akhirnya aku bertemu Kak Ryan.
            Berbagai bayangan itu melintas bergantian ketika aku sedang duduk-duduk dekat jendela kamarku. Aku baru saja membersihkan badan dan menunaikan salat Zuhur.
%%%
            Beberapa hari ini aku masih larut dalam penyesalan. Akibatnya, aku tidak terlalu peduli dengan situasi kelas. Tapi segi positifnya, teman-teman mulai berhenti menjodoh-jodohkanku dengan Yanuar karena kami tidak pernah mengacuhkan mereka. Kalau kupikir-pikir sekarang, ejekan teman-teman itu ternyata ujian bagiku. Aku merasa telah gagal melaluinya. Tapi, kesempatan untuk berbenah diri masih ada, kan? Sebentar lagi ujian semester. Mungkin aku bisa menebusnya di sini?
            Hari pertama ujian semester ini aku menemukan sepucuk surat dekat piring sarapanku.
            Kakak tahu, kamu besar di tangan laki-laki, yaitu ayah dan kakak. Betapa kerasnya kami mendidikmu sebagai perempuan, kamu pasti memiliki sisi kelaki-lakian karena tidak pernah memperoleh sentuhan ibu. Tapi, perempuan juga ada yang kuat dan lincah. Apalagi, di zaman Rasulullah. Kamu pasti sudah tahu sendiri karena kamu yang banyak menceritakannya pada kakak. Kata-kata bahwa kamu gadis menyebalkan dan keras kepala itu memang benar. Tapi entahlah, justru itu yang membuatku sangat menyayangimu.
%%%
            “Setiap muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah, yaitu menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Cara berdakwah itu bermacam-macam. Ada yang secara personal, ada juga yang secara bersama-sama, misalnya melalui kajian. Menjadi contoh yang baik juga salah satu strategi dakwah. Memang kita tidak bisa menjadi teladan seperti Nabi Muhammad SAW. Tapi, paling tidak kita bisa berbuat baik kepada orang lain dengan meneladani Rasulullah. Tentu saja perbuatan baik bukan untuk dipamerkan atau riya’, melainkan untuk membuktikan bahwa seorang muslim juga berpotensi. Bukankah setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan? Oleh karena itu, potensi yang kita miliki harus digali dan dikembangkan. Dengan kata lain, sebagai muslim, kita harus berprestasi. Tentunya kita melakukan hal itu semata-mata dalam rangka beribadah untuk mendapatkan ridha Allah Swt.”
            Baru saja aku membaca buletin SKI yang terbit setiap bulan. Kali ini buletinnya disisipkan bersama raport karena kebetulan terbitnya bersamaan dengan hari penerimaan raport. Kali ini aku berhasil memperoleh ranking satu kembali. Alhamdulillah.
            Dulu aku bertanya-tanya kenapa aku diciptakan sebagai perempuan. Aku tidak pernah menyadari potensi diriku. Sekarang mataku terbuka untuk melihat prestasi akademik yang kuraih. Bahkan, orang lain pun akan menyadari bahwa bukan laki-laki saja yang bisa berprestasi, tetapi perempuan juga. Terlebih lagi, kalau dia itu muslimah berjilbab. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bukan hanya membawa nama baik perempuan, tapi juga membuktikan bahwa muslimah berjilbab selain bisa ngaji, mampu berprestasi dalam bidang akademik juga. Bukan bermaksud sombong, lho!
            “Kamu tahu, kenapa kamu diciptakan sebagai perempuan? Aku punya alasan bagus!” tiba-tiba Kak Ryan berbicara. Kami baru saja sampai di rumah.
            “Apa itu?”
            “Karena aku laki-laki. Laki-laki membutuhkan bidadari di sisinya. Kalau kamu laki-laki juga, bagaimana bisa jadi bidadari?”
            Aku tersenyum.
            Karena itulah … sekarang aku tahu. Karena itu semua … kini aku menyadarinya. Karena itulah, aku diciptakan sebagai perempuan. Atau … cewek. Bukan, wanita. Ehm, maksudku… muslimah.
Advertisements

6 thoughts on “Karena Itu, Aku Wanita, Maksudku … Muslimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s