Tanya, Heran, Bingung

Hari Raya Idul Adha baru saja berlalu. Setiap hari raya umat Islam, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, pasti diadakan shalat Id berjamaah. Nah, shalat Id yang biasa ditayangkan di stasiun-stasiun televisi adalah jamaah shalat Id di Masjid Istiqlal di Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan saya sejak dulu adalah kenapa barisan terdepan dalam jamaah shalat Id di Masjid Istiqlal selalu dikosongkan, padahal itulah tempat yang paling utama bagi makmum laki-laki?

Yang semakin membuat saya geleng-geleng kepala adalah barisan makmum terdepan yang sengaja dikosongkan itu ternyata disiapkan bagi para petinggi negara yang notabene datangnya selalu terlambat alias paling akhir.

Nah, kenapa harus demikian?

Di dunia, jabatan mereka memang lebih tinggi daripada rakyat biasa. Tapi, di hadapan Allah rakyat maupun pejabat kedudukannya sama. Apa dalam hal shalat pun rakyat harus mengalah menempati shaf belakang demi menyediakan shaf depan bagi para pejabat?

Memang, sih, dalam shalat yang terpenting bukan tempatnya. Tapi, kan, lebih baik kalau datang lebih awal dan menempati tempat yang paling utama, yaitu shaf terdepan. Sembari menunggu dimulainya shalat, bisa sambil bertakbir atau berdzikir.

Jadi, kalau memang ingin mendapatkan tempat yang paling utama dalam sebuah jamaah, ya mesti datang lebih awal, dong! Jangan seenaknya datang terakhir, tapi minta tempat yang paling utama.

Entahlah, saya ga ngerti …

Saya heran …

Saya bingung …

Anyone help me, please ….

Advertisements

About Muliyatun N.

Book author. My published books: Akatsuki (Mizania, 2009; Qanita: 2012) and Hankachi (Nida Dwi Karya Publishing, 2013 & 2016).
This entry was posted in Islam Space, Notes and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Tanya, Heran, Bingung

  1. dir88gun says:

    Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,
    Tanpa terasa, untuk sekali lagi, Idul Adha telah berlalu dari hadapan kita.
    Idul Adha…
    Simbol pengorbanan ikhlas dari seseorang untuk sesuatu yang dicintainya.
    Gema perjuangan baru setelah menjalani kita simulasi perjuangan di bulan Ramadhan.
    Sebuah momentum awal, untuk kesekian kalinya, guna mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

    Sekarang, mari kita renungkan sejenak,
    Sudahkah kita mengorbankan ego diri kita untuk memperbaiki keadaan umat?
    Sudahkah kita mengorbankan kepentingan dunia kita untuk memenuhi kebutuhan akhirat?
    Sudahkah kita mengorbankan kehidupan maksiat kita untuk kembali memperjuangkan syariat?
    Sudahkah kita mengorbankan sebagian rizqi yang telah diberikan kepada kita untuk bersyukur atas segala nikmat?

    Ingat saudaraku,
    maut dapat menjemput kita dimanapun dan kapanpun,
    seperti kita lihat telah dialami oleh hewan-hewan ternak ketika Idul Adha.
    Untuk itu, apabila kita belum mewujudkan rasa syukur kita,
    MARI KITA “BERKURBAN” SESUAI DENGAN KEMAMPUAN KITA SEKARANG JUGA!

    Ketahuilah saudaraku,
    The man who seeks the world
    will get nothing except fading shadows.
    But…
    The man who walks the path of heaven
    will rule over everything.
    yang intinya, gunakanlah duniamu untuk akhiratmu!

    Semoga Allah memberikan keikhlasan dan kekuatan kepada kita untuk berkurban.
    Dan semoga setiap pengorbanan yang kita lakukan dibalas dengan sebaik-baiknya.

    Mohon maaf jika ada perkataan yang salah atau kurang berkenan.
    Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya, jazakallah.

    Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    http://eramuslim.com/nasihat-ulama/ustadz-fathuddin-ja-far-meneladani-konsep-pembangunan-nabi-ibrahim.htm
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/24/tunduk-dan-berkorban-demi-tegaknya-syariah-dan-khilafah/
    http://muslim.or.id/

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

  2. Ismaning says:

    Pejabat emg sok sibuk.
    Sibuk,’hari ini mau bohong apa Lg y?!’

  3. Isnaini says:

    Mm…itu y..
    mau gmn lagi???
    udah disiapin tmptnya dsitu sama panitia sholat id,,
    lagian kalo nti presidennya d belakang jamaah biasa,,
    jamaah yg laen pada g konsen,, malah sibuk minta salaman ato minta tanda tangan,,hehehe…
    kalo di depan kan lebih gampang diamankan para pejabat tu,,cos d blkang mrka da angkatan2 gtu…
    nah, kalo d blakang, trus tba2 pejabat qt dserang gmn???
    nti jd kyk Ali bin Abi Thalib ra dong,,
    kan repot..
    sekian pendapatq,,biar kmu gak bingung…

  4. Isnaini says:

    eh,,ding,,
    yg dibunuh wktu sholat itu,,
    Umar, Utsman, ato Ali y???
    mreka itu sma2 dibunuh kan???

  5. iya mba… khan aturannya adalah, yang pertama masuk mesjid berhak untuk dapat shaf paling depan…
    wallahualam…

    o iya mba, lam knal ya… tadi main ke dapur adikku di frommylittlekitchen, trus klik blog ini 🙂

  6. eldy Msn says:

    jazakillah udah ngasih hadiah berupa blog…….. Langsung Q kunjungi ni Mul…. Q suka cover akatsuki lucu#..#

  7. Luqman Hakim says:

    Menurut saya, perlakuan demikian tidak dibenarkan. Karena tidak pernah dicontohkan oleh sahabat-sahabat rasulullah, baik di masa ketika Rasulullah masih hidup ataupun ketika beliau meninggal.
    Saya setuju, untuk masalah sholat tidak memandang jabatan dan pangkat. Terkait komentar salah satu komentator, bahwa terbunuhnya khalifah Umar, beliau waktu jadi imam sholat, bukan makmum yang paling depan. Walaupun beliau waktu itu jadi makmum ketika dibunuh, bukanlah hujjah atas dianjurkannya diterapkan seperti di Indonesia ini. Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s